Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Khutbah 15 menit baca

Naskah Khutbah Jumat: Menjaga Lisan dan Jari dari Bahaya Hoax di Media Sosial

Redaksi

Naskah Khutbah Jumat: Menjaga Lisan dan Jari dari Bahaya Hoax di Media Sosial
Mengingat Allah (zikir) dan menerapkan prinsip tabayyun (cek dan ricek) sebelum membagikan informasi di media sosial adalah wujud nyata menjaga diri dari dosa jariyah akibat menyebarkan berita bohong (hoax) dan fitnah. (Ilustrasi/AI)

Kemajuan teknologi informasi membawa kemudahan interaksi sekaligus ujian besar bagi keimanan umat Islam masa kini. Jari-jemari kita kini bisa bergerak lebih cepat menyebarkan informasi dibandingkan lisan. Namun, kemudahan akses media sosial ini sering kali memicu maraknya penyebaran hoax (berita bohong) dan fitnah yang merusak ukhuwah Islamiyah.

Fenomena banjir informasi menuntut setiap muslim untuk menerapkan prinsip tabayyun (cek dan ricek). Kesadaran untuk senantiasa menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain menjadi kunci utama dalam menjaga kehormatan sesama. Oleh karena itu, materi dakwah yang mengingatkan bahaya lisan dan jejak digital di dunia maya sangat krusial untuk disampaikan di atas mimbar.

Redaksi menyajikan naskah khutbah Jumat komprehensif bertema “Menjaga Lisan dan Jari: Bahaya Hoax dan Fitnah dalam Pandangan Islam”. Naskah khutbah Jumat bahaya hoax ini merupakan karya Ustaz Kasmui, seorang akademisi yang juga mengemban amanah sebagai Pengurus Majelis Tabligh Muhammadiyah.

Materi ini kami kutip secara utuh dari buku “Naskah Khutbah Jum’at Satu Tahun Sesuai Kalender Hijriah”. Anda dapat mengunduh e-book referensi khutbah tematik selama satu tahun penuh tersebut secara gratis melalui tautan resmi berikut: https://kasmui.cloud/khutbah/.

Berikut adalah sajian utuh naskah khutbah Jumat bahaya hoax tersebut:

NASKAH KHUTBAH JUM’AT 17

Tema: Menjaga Lisan dan Jari: Bahaya Hoax dan Fitnah dalam Pandangan Islam

BAGIAN 1: KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya saat kita berada di masjid, tetapi juga saat kita sendirian di kamar bersama gawai (gadget) kita.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di zaman di mana informasi mengalir deras bak air bah. Jarak dan waktu seolah terlipat. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan fitnah besar yang mengintai keimanan kita. Jika dahulu pepatah mengatakan “Mulutmu Harimaumu”, maka hari ini pepatah itu bertambah menjadi “Jarimu Harimaumu”.

Betapa banyak persaudaraan hancur karena satu pesan forward (terusan) yang tidak dicek kebenarannya? Betapa banyak kehormatan seseorang runtuh seketika karena fitnah yang diviralkan? Kita seringkali merasa aman karena tidak mengucapkan kebohongan dengan lisan, padahal jari-jemari kita dengan lincah mengetik dan menyebarkan berita bohong (hoax) yang dosanya bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik.

Hadirin Jamaah Jum’at yang Berbahagia,

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan validitas informasi. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pedoman tegas agar kita tidak mudah termakan berita bohong.

Perhatikan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini adalah fondasi jurnalisme dan etika bermedia sosial dalam Islam. Allah memerintahkan kita untuk melakukan Tabayyun (cek dan ricek). Jangan terburu-buru menekan tombol “share” sebelum memastikan kebenarannya. Menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, apalagi jika itu berasal dari sumber yang tidak kredibel, adalah tindakan ceroboh yang bisa mendatangkan penyesalan di dunia dan akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan keras tentang bahaya berbicara atau menyebarkan informasi tanpa dasar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)

Hadits ini mengajarkan prinsip dasar: Saring sebelum Sharing. Jika sebuah informasi itu benar tapi tidak bermanfaat, tahanlah. Jika bermanfaat tapi belum tentu benar, tahanlah. Apalagi jika informasinya bohong dan memicu perpecahan, maka diam adalah emas. Ingatlah, diamnya kita dari menyebarkan keburukan adalah sedekah bagi diri sendiri.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Seringkali kita meremehkan apa yang kita tulis di kolom komentar atau status media sosial. Kita berpikir itu hanyalah tulisan maya yang akan hilang tertimbun waktu. Demi Allah, anggapan itu salah besar! Tidak ada satu huruf pun yang luput dari catatan Allah.

Allah berfirman dalam QS. Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini menegaskan adanya Malaikat Raqib dan Atid yang senantiasa mencatat. Di era digital, tafsir “ucapan” (qaul) ini meluas mencakup apa yang kita ketik, apa yang kita like, dan apa yang kita sebarkan. Jejak digital mungkin bisa dihapus, tetapi catatan malaikat tidak akan pernah terhapus hingga hari kiamat.

Bayangkan jika yang kita sebar adalah fitnah. Dosanya akan terus mengalir (dosa jariyah) selama berita itu dibaca dan dipercaya orang lain, meskipun kita sudah meninggal dunia. Naudzubillah min dzalik.

Rasulullah SAW memperingatkan kita tentang orang yang bangkrut (muflis) di hari kiamat. Bukan mereka yang tidak punya uang, tetapi mereka yang pahalanya habis untuk membayar kedzaliman lisannya.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Para sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia datang dengan membawa dosa mencela si fulan, memfitnah (menuduh zina) si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diberikanlah pahala kebaikannya kepada si korban ini dan itu. Jika pahala kebaikannya habis sebelum lunas tanggungannya, maka diambilah dosa-dosa mereka (para korban) lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim No. 2581)

Hadirin, betapa ruginya kita! Capek-capek shalat, puasa, dan sedekah, namun pahalanya habis ditransfer kepada orang yang kita ghibah dan kita fitnah di media sosial.

Lalu, bagaimana solusinya?

Allah memberikan jalan keluar agar kita selamat. Solusinya adalah senantiasa berkata yang benar (Qaulan Sadidan).

Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70-71:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar/tepat. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Ayat ini memberikan jaminan: jika kita menjaga lisan dan jari kita untuk hanya menyuarakan kebenaran, maka Allah akan memperbaiki urusan hidup kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Sebagai penutup khutbah pertama ini, mari kita renungkan definisi Muslim sejati menurut Nabi. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari No. 10 dan Muslim No. 40)

Hadits ini secara spesifik menyebut “tangan”. Di zaman modern, tangan ini mewakili aktivitas mengetik kita. Mari kita pastikan saudara kita aman dari gangguan ketikan jari kita. Jangan menjadi penyebar hoax, jangan menjadi provokator, dan jangan menjadi pembuka aib sesama.

Semoga Allah menjaga lisan dan jari-jemari kita dari api neraka.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

BAGIAN 2: KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلْقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin Rahimakumullah,

Bertakwalah kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa dunia ini adalah tempat menanam, dan akhirat adalah tempat memanen. Apa yang kita tanam dengan lisan dan jari kita hari ini, itulah yang akan kita panen kelak.

Sebagai kesimpulan, marilah kita jadikan gawai dan teknologi sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa. Sebelum menyebarkan informasi, lakukanlah 3M: Memeriksa kebenarannya, Memikirkan manfaatnya, dan Memastikan sumbernya. Jika ragu, maka tinggalkanlah. Jadilah agen perbaikan yang menyejukkan umat, bukan agen provokasi yang memecah belah umat.

Marilah kita tundukkan hati dan jiwa kita, memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dunia dan siksa akhirat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para guru kami. Muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, serta hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari segala macam fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya’, lisan kami dari kebohongan, dan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: