Dunia ini seperti sungai yang deras, dan kita semua adalah perahu di dalamnya. Arus globalisasi datang tak terelakkan, membenturkan kita dengan budaya baru, gaya hidup instan, dan cara berpikir yang seragam. Pertanyaannya bukan lagi “bisakah kita menolaknya?”, melainkan “bagaimana caranya agar perahu kita tidak terbalik atau hanyut tak berbekas?” Di tengah pusaran yang kian kencang itu, mampukah kita tetap menjadi diri sendiri tanpa terhanyut sama sekali?
Inilah inti dari sebuah kearifan lokal yang sudah diwariskan turun-temurun: “ngeli neng ora keli” atau “mengikuti arus tapi tidak hanyut”. Ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah filosofi bertahan hidup yang relevan, terutama di era modern ini. Kita tidak bisa menutup mata dari perubahan. Menolak globalisasi secara total sama saja dengan mengasingkan diri. Arus itu akan terus mengalir, entah kita suka atau tidak. Tugas kita bukan melawan, melainkan belajar untuk berenang di dalamnya.
Filosofi ini mengajarkan kita tentang keseimbangan. Kita harus mampu momot, yaitu mengakomodasi dan bersinergi dengan berbagai elemen dari luar. Kita harus bisa momor, atau bergaul dan berbaur dengan berbagai macam orang, budaya, dan ide. Ini adalah kemampuan untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih besar, namun tanpa kehilangan keunikan yang kita miliki. Keunikan itulah yang menjadi jangkar, yang membuat kita tidak terombang-ambing.
Globalisasi telah membuat dunia terasa lebih kecil, dengan “McDonalds-isasi” atau “Amerikanisasi” yang mengubah cara kita makan, berpakaian, dan bersenang-senang. Kita melihat anak-anak muda akrab dengan burger, Starbucks, dan musik pop. Kita melihat fashion yang nyaris seragam di berbagai belahan dunia. Perubahan ini adalah keniscayaan. Namun, lantas apakah kita harus kehilangan selera lokal kita? Tentu tidak.
Pentingnya “ngeli neng ora keli” adalah ketika kita mengambil bagian dari arus itu, tapi memberinya sentuhan kita. Ambil contoh ayam geprek. Makanan cepat saji dari Barat, seperti ayam goreng tepung, diadaptasi dengan sambal matah atau sambal bawang yang menjadi ciri khas Indonesia. Hasilnya? Sebuah perpaduan yang unik, yang diterima secara luas, dan tetap berkarakter lokal. Ini adalah contoh konkret bagaimana kita bisa mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri. Kita beradaptasi dengan perubahan, namun esensi dari diri kita tetap terjaga.
Filosofi ini tidak hanya relevan dalam konteks budaya. Dalam kehidupan beragama, kita juga diajarkan prinsip serupa: ada yang bersifat tsabit (tetap) dan mutaghayyir (berubah). Nilai-nilai dasar seperti keimanan dan tauhid tidak boleh berubah. Namun, cara kita beribadah atau berinteraksi dengan dunia luar bisa dan harus beradaptasi.
Pakaian salat bisa beragam, dari sarung hingga celana panjang. Perjalanan haji berubah dari unta menjadi pesawat. Esensi ibadahnya sama, Namun cara mencapai tujuannya berbeda. Itu adalah contoh lain bagaimana kita bisa mengikuti perubahan tanpa mengorbankan inti dari keyakinan kita.
Jadi, di tengah hiruk-pikuk zaman yang terus berputar, ingatlah: kita adalah sungai yang mengalir, bukan air yang terbuang. Kita boleh mengikuti arus, merasakan setiap gelombangnya, tapi pastikan kita tetap memilih ke mana kita akan berlabuh. Karena hanyut hanyalah nasib bagi mereka yang lupa siapa dirinya.