Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Pahala Besar Sebanding Besarnya Ujian

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Drs. H. Danusiri, M.Ag. Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Pahala Besar Sebanding  Besarnya Ujian
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Sering kali kita merasa berat saat menghadapi ujian hidup, seolah-olah beban yang kita pikul terlalu berat. Namun, pernahkah terlintas di benak kita bahwa kesulitan dan musibah yang datang silih berganti adalah wujud kasih sayang Allah?

Sebuah hadis dari Anas bin Malik mengingatkan kita tentang hakikat ini: bahwa Allah menyegerakan hukuman bagi hamba-Nya yang Dia kehendaki kebaikan baginya di dunia, sementara menunda balasan bagi hamba yang Dia kehendaki kejelekan hingga hari kiamat (HR. Tirmidzi: 2396).

Adapun hadis lengkapnya adalah:

إِأَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian berat. Sungguh, Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun murka.” (HR. Ibnu Majah: 4031).

Hadis dari Anas bin Malik tersebut berbunyi:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Hal ini sejalan dengan nasihat seorang saleh, Lukman, kepada anaknya: “Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.” Ujian adalah cara Allah menguji dan memurnikan keimanan seorang mukmin, sama seperti api yang menguji kemurnian emas dan perak.

Nasihat Lukman tersebut tertulis:

يَا بُنَيَ الذَهَبُ وَالْفِضَةُ يُخْتَبَرَانِ بِالنَارِ وَالْمُؤْمِنُ يُخْتَبَرُ بِالْبَلَاءِ

Tingkatan Terapan dalam Beribadah

Dalam beribadah, ada setidaknya tiga tingkatan terapan. Pertama, tingkatan kewajiban yang memberatkan. Sebagai contoh, salat misalnya, secara fiqih merupakan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada mukalaf, yaitu orang yang sudah terbebani sesuatu. Beban ini, terkadang terasa berat, menjadi alasan banyak orang malas atau bahkan tidak sanggup melaksanakannya.

Tipe keberagamaan ini menjadikan salat hanya sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban. Ada yang menjalankannya setahun sekali, bahkan ada yang tidak salat sama sekali, meski mengaku beragama Islam.

Bagi mereka, ibadah sunah seperti salat rawatib pun terasa enggan untuk dilakukan. Bahkan saat salat berjemaah, mereka berharap salat cepat selesai, bacaan surah pendek, dan akan menggerutu dalam hati jika bacaan imam terlalu panjang. Mereka melakukan ibadah tanpa memahami maknanya, bahkan bagi sebagian kaum terpelajar.

Tingkatan ibadah selanjutnya adalah refleksi kerinduan kepada Allah. Tipe ini meyakini dirinya dikasihi oleh Allah dan selalu ingin berlama-lama dalam beribadah.

Mereka memilih surah panjang saat salat, atau mengulang-ulang surah pendek. Rukuk dan sujud pun mereka lakukan dalam waktu yang lama dengan mengulang-ulang tasbih.

Apabila mereka memahami makna dari setiap bacaan, mereka akan menghayatinya dalam-dalam. Orang-orang seperti ini sering menangis, terutama saat membaca ayat-ayat tentang kedahsyatan neraka atau merasa bahagia saat menemukan ayat tentang rida Allah.

Ibadah sunah, seperti salat malam, terasa ringan karena menjadi media untuk menumpahkan kerinduan mereka kepada Sang Pencipta.

Tingkatan terapan ibadah tertinggi adalah penemuan. Dalam salat, mereka selalu menemukan hal baru untuk dikerjakan ke depannya. Ibadah telah menjadi dialog personal dengan Sang Pencipta, di mana doa seperti “Ihdinaṣṣirâthal mustaqîm” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus) dijawab langsung oleh Allah. Ini adalah salat Rasulullah ﷺ yang selalu mendapatkan jalan lurus dan benar sesuai kehendak Allah.

Namun, ibadah tipe ini sering terlihat asketis, seperti menyiksa diri secara lahiriah. Menahan lapar dan haus untuk berpuasa, menahan kantuk untuk salat malam, bahkan salat malam hingga kaki bengkak adalah contohnya. Sebuah hadis menggambarkan asketisme Nabi ﷺ:

يَبِيْتُ يُجَافِـي جَنْـبُهُ عَنْ فِـرَاشِهِ إِذَا اسْتَثْقَلَتْ بِالْمُشْرِكِيْنَ الْمَضَاجِعِ

Artinya: “Beliau bermalam sambil merenggangkan lambung dari tempat tidurnya, ketika tempat-tempat tidur terasa berat bagi orang-orang musyrik.” (HR Bukhari: 1155).

Maksud hadis ini menginformasikan bahwa punggung Nabi tidak menempel pada alas tidur untuk tahajud ketika berlama-lama salat malam, sehingga kakinya pun sampai bengkak.

Ketika ditegur “Bukankah Alah telah menjamin surga untukmu? Nabi menjawab:

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

(Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur? [HR Bukhari: 1130, 2819].

Jawaban ini menunjukkan perbedaan mendasar: Nabi beribadah karena bersyukur, sementara umatnya beribadah untuk memohon rida Allah. Dalam syukur ada unsur memberi, sedangkan dalam memohon rida masih ada unsur menuntut sesuatu.

Hal ini menjelaskan mengapa salat umat Muhammad ﷺ tidak pernah utuh, seperti sabda Nabi:

إنَّ الرَّجلَ لينصَرِفُ وما كُتِبَ لَهُ إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها نِصفُها

(Ada yang selesai dari salatnya, tetapi ia hanya mendapatkan sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan separuhnya.[HR. Abu Daud: 796]) .

Meski begitu, janganlah kecewa. Selama salat dikerjakan tanpa bolong, insyaallah kita akan selamat. Nabi ﷺ bersabda:

أَأَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُواللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Artinya: “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih ada kotoran yang tersisa padanya?” Para sahabat menjawab, “Tidak tersisa sedikit pun kotoran padanya.” Beliau bersabda: “Seperti itulah salat lima waktu, dengannya Allah menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari: 528, Muslim: 283).

Pada akhirnya, ujian hidup adalah wujud cinta Allah kepada kita. Jadikanlah setiap kesulitan sebagai jembatan untuk meraih rida-Nya dan menempa kualitas ibadah kita. Jangan pernah menyerah, karena pahala besar menanti mereka yang sabar dalam menghadapi ujian.

Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: