Setiap Muslim pasti menghadapi kematian sebagai akhir perjalanan dunia. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami tata cara mengurus jenazah dengan benar. Kewajiban ini merupakan fardu kifayah bagi kita yang masih hidup. Proses perawatan jenazah ini bermula sejak masa kritis sakit hingga prosesi pemakaman usai.
Persiapan dan Tata Cara Memandikan Jenazah
Panduan ini merujuk pada Tuntunan Perawatan Jenazah susunan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY (Jl. Gedongkuning No. 130 B Yogyakarta). Saat keluarga sakit, kita wajib menuntunnya mengucapkan kalimat “Laa ilaaha Illallaah”. Setelah ia wafat, keluarga segera memejamkan matanya dan menutup tubuhnya menggunakan kain yang bagus. Selanjutnya, keluarga menyegerakan perawatan, melunasi utang, serta menjalankan wasiat almarhum.
Kemudian, keluarga terdekat memulai proses memandikan jenazah. Mereka menggunakan air bersih, sabun, dan wewangian seperti kapur barus. Proses ini berlangsung di ruangan tertutup untuk menjaga kehormatan almarhum.
Keluarga membersihkan kotoran terlebih dahulu, lalu mewudlukan jenazah. Setelah itu, mereka membasuh seluruh tubuh dalam hitungan ganjil, mendahulukan bagian kanan, dan merahasiakan segala aib di tubuh jenazah.
Mengafani dan Menshalatkan Jenazah
Setelah jenazah suci, proses beralih pada tahap mengafani jenazah. Keluarga menyiapkan tiga lembar kain putih untuk laki-laki atau lima lembar untuk perempuan. Mereka membungkus jenazah secara rapi tanpa berlebih-lebihan. Selanjutnya, keluarga menambahkan wewangian sebelum mengikat kain kafan tersebut dengan simpul di sebelah kiri.
Tahap berikutnya adalah melaksanakan shalat jenazah. Imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah pria atau bagian lambung jenazah wanita. Jamaah melaksanakan shalat dengan empat kali takbir. Berikut adalah ragam bacaan doa berdasarkan tuntunan, di mana pada takbir pertama jamaah membaca Al Fatihah dan Shalawat:
اﻟﺤْ َﻤْﺪ ُ ﷲ ِ ِ رَب ِّ اﻟْﻌَﺎَﻤِﻴﻦ َ * اﺮَّﺣﻤ ْ َﻦ ِ اﺮَّﺣ ِ ﻴﻢ ِ * ﻣَﺎِﻚ ِ ﻳَﻮْم ِ اﻟﺪ ِّ ﻳﻦ ِ
ﺻﺮ ِ َاط َ اﻟﺬ َّ ِﻳﻦ َ أَْﻌَﻤْﺖ َ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ َ ﻴﺮ ْ ِ اْﻤَﻐْﻀ ُ ﻮب ِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ وَﻻ َ * إِﻳَّﺎك َ َﻌْﺒُﺪ ُ وَِﻳَّﺎك َ َ ﺴ ْ ﺘَﻌِﻴﻦ ُ * اﻫْﺪ ِ ﻧَﺎ اﺼﺮ ِّ َاط َ اْﻤُﺴ ْ ﺘَﻘِﻴﻢَ *
اﻀ َّ ﺎﻟِّﻴﻦ َ *
اﻠّﻬُﻢَّ ﺻ َ ﻞ ِّ ﻋﻠﻰ َ ﻣﺤ ُ َﻤَّﺪ ٍ وَﻋﻠﻰ َ ال ِ ﻣﺤ ُ َﻤَّﺪ ٍ , ﻛَﻤَﺎ ﺻ َ ﻠَّﻴْﺖ َ ﻋﻠﻰ َ
ﺑَﺎرَْﺖ َ ﻋﻠﻰ َ اِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ وَال ِ اِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ اِﻧَّﻚ َ ﺣﻤ َ ِﻴْﺪ ٌ ﻣﺠ َ ِﻴْﺪ ٌ اِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ وَال ِ اِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ, وََﺎرِك ْ ﻋﻠﻰ
Bertakbir, pada takbir yang kedua/ketiga membaca doa pengampunan jenazah:
، وَوَﺳ ِّ ﻊْ ﻣُﺪْﺧَﻠَﻪُ ، وَاﻏْﺴ ِ ﻠْﻪُ ﺑِﻤَﺎءٍ وَﺛَﻠْﺞ ٍ وََﺮَدٍ ، وََﻘِّﻪِ ﻣِﻦ ْ اﻠﻬُﻢَّ اﻏْﻔِﺮْ ﻟﻪ َ ُ وَارْﺣﻤ َ ْﻪُ ، وَﻋﺎ َ ﻓِﻪِ وَاْﻒ ُ َ ﻨْﻪُ وَأَْﺮِمْ ﻧُﺰُﻟﻪ َ ُ
ﺧَ ﻴﺮ ْ ًا ﻣِﻦ ْ دَارِهِ ، وَأَﻫْﻼ ً ﺧَ ﻴﺮ ْ ًا ﻣِﻦ ْ أَﻫْﻠِﻪِ ، وَزَوْﺟ ًﺎ ﺧ َﻴﺮ ْ ًا ﻣِﻦ ْ اﻟﺨْ َﻄ َ ﺎﻳَﺎ ﻛَﻤَﺎ ُﻨَﻘﻰ َّ اﻟﺜَّﻮْب ُ اﻷ ْ َْﻴَﺾ ُ ﻣِﻦ ْ اﻟﺪ َّ َ ﺲ ِ ، وَأَﺑْﺪ ِ ﻟﻪ ْ ُ دَارًا
زَوْﺟ ِ ﻪِ ، وَﻗِﻪ ﻓِﺘْﻨَﺔَ اﻟْﻘَﺒﺮ ْ ِ وَﻋَﺬَاب َ اﻟﻨَّﺎرِ
Selain itu, terdapat pula variasi doa lainnya untuk memohon ketetapan iman:
ﻋﻠﻰ َ َ اﻹ ْ ِﺳ ْ ﻼ َ م ِ ، وَﻣَﻦ ْ ﺗَﻮََّﻴْﺘﻪ ﻣِﻨَّﺎ َﺘَﻮَﻓَّﻪُ ﻋﻠﻰ َ َ اﻹ ْ ِﻳﻤَﺎن ِ اﻠﻬُﻢَّ ﻻ َ ، وََﺒِﻴﺮِﻧَﺎ وَذَﻛَﺮِﻧَﺎ ، وَأُْﺜَﺎﻧَﺎ، اﻠﻬُﻢَّ ﻣَﻦ ْ أَﺣْﻴَْﺘﻪ ﻣِﻨَّﺎ ﻓَﺄَﺣْﻴِﻪِ اﻠﻬُﻢَّ اﻏْﻔِﺮْ ﻟﺤ ِ َﻴِّﻨَﺎ ، وَﻣَﻴِِّﻨَﺎ ، وَﺷ َ ﺎﻫِﺪ ِ ﻧَﺎ ، وَﻏﺎ َ ﺋِِﻨَﺎ ، وَﺻ َ ﻐِﻴﺮِﻧَﺎ
ﺗﺤ َ ْﺮِﻣْﻨَﺎ أَﺟْﺮَهُ وَﻻ َ ﺗُﻀ ِ ﻠَّﻨَﺎ َﻌْﺪ َ هُ .
Khusus untuk jenazah anak-anak, jamaah membacakan doa berikut:
اﻠﻬُﻢَّ اﺟْﻌَﻠْﻪُ ﻟﻨ َ َﺎ ﺳ َ ﻠَﻔًﺎ وَﻓَﺮَﻃ ً ﺎ وَأَﺟْﺮًا
Setelah takbir keempat, jamaah mengakhiri shalat dengan mengucapkan salam:
اﺴﻼم ﻋﻠﻴﻢ ورﺣﻤﺔ اﷲ وﺮﺗﻪ
Tata Cara Menguburkan Jenazah dan Adab Berduka
Tahap terakhir bermula dengan mempercepat langkah membawa jenazah menuju pemakaman. Para pengantar mengiringi jenazah dengan tenang. Sesampainya di kuburan, petugas memasukkan jenazah dari arah kaki kubur dan menghadapkannya ke arah kiblat. Saat meletakkan jenazah ke dalam liang lahat, petugas membaca “Bismillaahi wa ‘ala millati Rasuulillaah”.
Selanjutnya, petugas menaburkan tanah tiga kali dari arah kepala. Mereka kemudian meninggikan kuburan sekitar satu jengkal dan memberi tanda batu nisan. Pada akhir prosesi menguburkan jenazah, pelayat mendoakan ampunan bagi almarhum. Syariat Islam membolehkan keluarga menangis atau mencium kening jenazah sebagai bentuk kasih sayang. Namun, agama melarang keras tindakan meratap histeris, menampar pipi, hingga merobek pakaian karena hal tersebut bertentangan dengan nilai kesabaran.