Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Persiapan Menyambut Ramadan: Rahasia Doa dan Amalan Agar Puasa Berkualitas

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Persiapan Menyambut Ramadan: Rahasia Doa dan Amalan Agar Puasa Berkualitas
Memperbanyak doa dan amalan di masjid merupakan bagian penting dari persiapan menyambut Ramadhan untuk meraih ampunan Allah SWT.

Jangan lewatkan momen berharga ini! Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan keras tentang orang yang bertemu bulan suci namun tidak mendapatkan apa-apa. Oleh sebab itu, mari lakukan persiapan menyambut Ramadan dengan memperbaiki kualitas doa, niat, serta bakti kita kepada orang tua.

Secara umum, masyarakat sering menyambut kedatangan bulan suci dengan ungkapan marḩaban yâ Ramaḍân. Walaupun ungkapan ini tidak memiliki dasar tekstual langsung dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi, kegembiraan tersebut lahir dari kesadaran bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah.

Sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadan yang autentik, Rasulullah SAW memberikan tuntunan doa menyambut Ramadan jika terjadi hilal (bulan sabit pertama) baru:

اَللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ

Artinya: “Ya Allah, Terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah” (HR Turmuzi: 3373).

Peringatan bagi Mereka yang Merugi

Namun, umat Islam perlu memperhatikan peringatan serius dari Nabi Muhammad SAW yang sering terabaikan. Beliau memberikan penegasan mengenai golongan yang celaka di tengah kemuliaan bulan suci. Rasulullah bersabda:

قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيْلَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka! Lalu beliau ditanya, Siapakah yang celaka, ya Rasulullah? Jawabnya, Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya, dalam usia lanjut, atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya)” (HR Muslim: 4627, 4628).

Melalui hadis ini, kita memahami bahwa kunci surga adalah berbakti kepada kedua orang tua. Nabi bahkan mengulangi peringatan ini dalam konteks keberkahan bulan puasa:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهَ الْكِبَرُ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ  

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. Celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun tidak dapat memasukkan keduanya ke dalam surga” (HR Ahmad: 3468, 8201).

Makna Kehinaan dalam Istilah “Raghima Anfu

Nabi menggunakan istilah raghima anfu rajulin yang secara literal bermakna “jelek sekali hidung seseorang”. Makna praktisnya, seseorang akan menjadi luar biasa hina atau celaka jika gagal melakukan cara mendapat ampunan Allah.

Pada zaman Jahiliah, mematahkan batang hidung adalah cara menyakiti musuh yang paling memalukan. Seseorang yang batang hidungnya hilang pasti akan merasa sangat buruk rupa dan kehilangan harga diri secara utuh.

Oleh karena itu, seseorang dianggap mengalami kehinaan yang besar manakala: (1) tidak membaca shalawat saat nama Nabi disebut, (2) keluar dari Ramadan tanpa memperoleh ampunan Allah, serta (3) tidak menjalankan bakti kepada orang tua dalam Islam hingga mereka wafat.

Amalan Utama dan I’tikaf

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa amalan bulan Ramadan yang super dominan harus berisi doa mohon ampunan. Saat i’tikaf di masjid, Nabi memerintahkan para istri beliau dan seluruh muslimin untuk banyak membaca doa: Allahumma innaka ‘afuwun karîm tuḩibbul ‘afwa fa’fu ‘annî (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah. Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku).

Selama berdiam di masjid, isilah waktu dengan doa permohonan ampunan yang tak terhitung jumlahnya. Hindarilah urusan duniawi kecuali untuk kepentingan mendesak (‘araḍ basyariah). Inilah strategi utama dalam persiapan menyambut Ramadan agar kita benar-benar bersih dari dosa.

Wujud Bakti kepada Orang Tua

Selain ibadah personal, bakti kepada orang tua dalam Islam menjadi wasilah (sarana) penting. Jika mereka masih hidup, rawatlah dengan penuh kasih sayang dan bayarkan fidyah jika mereka tak lagi kuat berpuasa. Jika mereka sudah meninggal, mintakanlah ampunan sebanyak-banyaknya karena Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ دَرَجَةَ الْعَبْدِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّي لِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: بَاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Artinya: “Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi ya Rabb? Allah menjawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun untukmu” (HR Ibnu Majah, 3650).

Sebagai penutup, mari kita terapkan doa istighfar sejak awal puasa: “Allahummaghfirlî waliwâlidayya” (Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku).

Melalui persiapan menyambut Ramadan yang sungguh-sungguh, insya Allah kualitas puasa kita meningkat dan derajat ketakwaan (la’allakum tattaqûn) dapat benar-benar terwujud.

Wallâhu a’lamu biṣawâb.

Baca juga:

1 Ramadan 1447 H Jatuh 18 Februari 2026, Serentak Sedunia!

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: