MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, MIJEN – Misi pemberdayaan masyarakat janganlah berhenti hanya pada aksi pemberian santunan atau bantuan sesaat, namun sebisa mungkin memberikan peluang masyarakat untuk bisa lebih mandiri.
Falsafah tersebut rupanya diyakini betul oleh Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Adhi Putra Wicaksono, M.Si. Pihaknya menyelenggarakan pelatihan urban farming (pertanian perkotaan) khususnya bagi para dhuafa,mualaf dan disabiltas untuk membuat kalangan mustahik lebih berdaya.
Pelatihan yang diikuti 30 peserta itu diselenggarakan di Bertani Agrofarm, Mijen, Semarang, Sabtu (9/12). Peserta dilatih langsung oleh owner Bertani Agrofarm Rahmatul Khafidl dari Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam).
“Urban Farming atau aktivitas bertani di perkotaan berpeluang untuk menghasilkan cuan (uang). Dia punya keunggulan kompetitif. Semakin mendekatkan produsen hasil pertanian dengan lokasi konsumennya di perkotaan. Sangat prospektif,” tandas Adhi, ketika ditemui di sela-sela acara pelatihan. Apalagi pascapandemi ini masyarakat semakin sadar akan gaya hidup sehat, termasuk dalam mengonsumsi hasil pertanian . Sayur mayur hasil urban farming bisa menjadi pilihan yang tepat. Karena itu, pihak MPM mendorong para mustahik untuk bisa mencari penghasilan tambahan melalui kegiatan urban farming, katanya.

Manfaatkan Tanah Wakaf
Tidak hanya sekadar memberikan pelatihan teknis bertani urbannya saja, MPM juga akan mendampingi peserta yang serius menekuni bisnis ini. Sehingga mereka bisa memproduksi dan memasarkan hasil urban farming-nya. “Selanjutnya para peserta akan kami bina untuk memanfaatkan tanah-tanah wakaf yang belum produktif untuk dijadikan lahan-lahan urban farming bekerjasama dengan Majelis Pemberdayaan Wakaf dan Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam) untuk pendampingannya,” cetus Adhi.
Ditemui di tempat yang sama, Ketua Divisi Pemberdayaan Mualaf Center Aisyiyah (MCA) PDA Semarang Binarsih menyambut baik kegiatan pemberdayaan bagi para mualaf ini. Mereka bisa terbantu sisi ekonominya jika menekuninya dengan serius. “Ketika memutuskan menjadi mualaf, beberapa terdampak kehidupanya. Termasuk secara ekonomi. Jadi para mualaf ini butuh dikuatkan. Tak hanya dari sisi akidahnya saja, namun juga penghidupan ekonominya,” ujar Binarsih.

Kolaborasi Majelis dan Lembaga
Pelatihan Urban Farming ini sendiri terseleggara berkat kerjasama erat Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) dengan Lazismu Semarang. Ketua Badan Pengurus Lazismu Kota Semarang Agus Alwi Mashuri, S.Sos, M.Kom menegaskan akan selalu mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya para mustahik.
“Lazismu sebagai satu-satunya lembaga yang ditunjuk Muhammadiyah untuk mengelola dana zakat, infaq dan sedekah, tugas pokoknya adalah fundraising atau menghimpun dana. Adapun untuk pen-tasharruf-nya (penyalurannya, red) kita bersinergi dan berkolaborasi dengan majelis dan lembaga, seperti program pemberdayaan dhuafa dan mualaf MPM ini,” kata Alwi.
Kalau memang belum ada programnya, maka Lazismu akan membuat program khusus untuk mengatasi masalah-masalah keumatan dan sosial yang berkembang di masyarakat, terang Alwi. Lazismu, lanjut Alwi, selalu mengarahkan kegiatan yang dilakukannya agar bisa berdampak mengatasi masalah sosial, kemiskinan, kebodohan dan lainnya. Tidak hanya sekadar memberikan santunan semata, tapi bisa berkelanjutan seperti program pelatihan bagi dhuafa, mualaf dan disabilitas ini. Selain Lazismu, pelatihan urban farming MPM ini juga mendapat dukungan penuh dari Lembada Dakwah Komunitas (LDK) PDM kota Semarang, Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA kota Semarang, serta Mualaf Center Aisyiyah (MCA) kota Semarang. Seluruh peserta juga mendapat bingkisan dari mitra UPZ Baznas Telkom Semarang.
Kontributor : Agung Setia Bakti
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara