MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Setiap Ahad pagi, di tengah hiruk-pikuk Car Free Day (CFD), ada sudut kecil yang selalu menyita perhatian. Sebuah koper besar, bukan berisi pakaian atau peralatan dagang, melainkan ratusan buku anak-anak yang disusun rapi dan terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca, tanpa biaya. Inisiatif ini menjadi magnet bagi anak-anak dan orang tua yang ingin menumbuhkan minat baca sejak dini.
Pada hari Ahad, 2 Juni 2025, koper besar berisi ratusan buku anak-anak kembali hadir, kali ini di Urban Farming Center bersama Pasar Sehati. Inisiatif ini menjadi magnet bagi anak-anak dan orang tua yang ingin menumbuhkan minat baca sejak dini.
Dengan lokasi yang strategis, koper buku ini menjadi tempat yang ideal bagi keluarga untuk menghabiskan waktu bersama sambil membaca dan belajar. Ratusan buku anak-anak yang disusun rapi dan terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca, tanpa biaya, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Dengan koleksi buku yang beragam dan menarik, sudut baca ini menjadi tempat yang ideal bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia literasi. Orang tua juga dapat menemani anak-anak mereka membaca dan berdiskusi tentang buku-buku yang mereka sukai.
Sudut baca ini tidak hanya menyediakan akses gratis ke buku-buku anak-anak, tetapi juga menciptakan komunitas yang peduli dengan pendidikan dan literasi. Dengan demikian, inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi komunitas lain untuk mempromosikan minat baca dan pendidikan.
Oase Literasi bagi Anak-Anak Kota
Koper Pustaka, sebuah gerakan literasi yang kini menjadi oase bagi anak-anak kota yang haus bacaan. Yuli Kuswanti, pustakawan sekaligus penggagas gerakan ini, menjadi sosok sentral di balik hadirnya Koper Pustaka. Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Yuli bersama sang suami merintis inisiatif ini pada 2021, tak lama setelah pandemi mereda.
Gerakan ini telah membawa perubahan signifikan dalam meningkatkan minat baca anak-anak kota. Dengan koleksi buku yang beragam dan menarik, Koper Pustaka menjadi tempat yang ideal bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia literasi. Yuli berharap bahwa gerakan ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Yuli mengungkapkan bahwa inisiatif ini awalnya dimulai dari koleksi buku pribadinya. Namun, respons positif dari masyarakat membuat gerakan ini berkembang pesat.
“Awalnya hanya dari buku-buku saya sendiri. Tapi banyak yang tergerak untuk ikut menyumbang. Anak-anak perlu dikenalkan dengan buku sejak dini, dan ruang publik bisa jadi tempat yang menyenangkan untuk itu,” kata Yuli yang juga merupakan pimpinan MPI PDM Kota Semarang bidang pustaka & literasi.
Melalui Koper Pustaka, Yuli telah membuktikan bahwa dengan semangat dan dedikasi, kita dapat menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Gerakan ini menjadi contoh bagi kita semua untuk terus mempromosikan pendidikan dan literasi.
Membawa Literasi ke Tengah Masyarakat
Kini, koper besar yang dibawa ke CFD Menteri Supeno, Semarang Selatan, tak lagi sekadar berisi koleksi pribadi. Lebih dari 1.000 eksemplar buku telah terkumpul, hasil sumbangan komunitas, individu, hingga lembaga yang turut mendukung semangat literasi ini. Setiap Ahad, anak-anak dari berbagai sudut kota datang, duduk di atas alas bekas MMT sederhana, dan tenggelam dalam halaman demi halaman cerita yang mereka baca.
Yuli mengungkapkan bahwa kegiatan literasi ini tidak hanya dilaksanakan di CFD Menteri Supeno saja.
“Alhamdulillah, untuk saat ini selain mengadakan kegiatan di CFD Menteri Supeno, kita juga mengadakan kegiatan di CFD Meteseh, sesuai dengan jadwal lengang kita, kadang juga kita mengadakan kegiatan di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) kalau misal ada event di sana,” kata Yuli dengan penuh semangat.
Koper Pustaka telah menjadi simbol semangat literasi di tengah masyarakat. Dengan dukungan dari berbagai pihak, gerakan ini terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi anak-anak kota. Melalui Koper Pustaka, anak-anak dapat menikmati dunia literasi dan mengembangkan minat baca mereka.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa dengan kerja sama dan dukungan dari masyarakat, kita dapat menciptakan ruang literasi yang menyenangkan dan inklusif bagi anak-anak. Dengan demikian, Koper Pustaka dapat menjadi contoh bagi komunitas lain untuk mempromosikan literasi dan pendidikan.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara