MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Alumni KBIH Muhammadiyah Semarang melalui Majelis Ta’lim Al Misfalah 23 pada hari Kamis, 5 Juni 2025 mengadakan kegiatan napak tilas wukuf Arafah 1446 H di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Kota Semarang, Semarang Selatan. Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Ustadz Drs. H. Nurbini M.S.I., menjadi pemateri dalam kegiatan ini.
Kegiatan Napak Tilas Wukuf Arafah yang digelar di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Kota Semarang, merupakan kegiatan kedua kalinya setelah pertama kali digelar pada tahun 2024. Makna kegiatan ini sebagai pengingat saat berada di Arafah selama menunaikan ibadah haji, sehingga diharapkan peserta dapat selalu istiqomah dalam beribadah dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya ibadah.
Diadakannya kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya wukuf Arafah dalam ibadah haji. Dengan napak tilas ini, diharapkan peserta dapat lebih memahami makna dan hikmah di balik wukuf Arafah.
Live Streaming Wukuf di Arafah
Agenda kegiatan utama Napak Tilas Wukuf Arafah adalah live streaming pelaksanaan wukuf di Arafah melalui media Zoom. Laporan langsung suasana di Padang Arafah disampaikan oleh Ustadz Budi Martono dan Ustadz Salahudin.
“Jamaah dalam kondisi baik dan saat ini sedang khusyu melaksanakan wukuf di Padang Arafah,” kata Ustadz Budi Martono dalam laporan langsungnya.
Sementara itu, Ustadz Salahudin menambahkan, “Kekhusyukan jamaah dalam melaksanakan wukuf sangat terlihat jelas, menunjukkan keseriusan dan kesabaran mereka dalam beribadah.
Kegiatan live streaming ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan keseriusan jamaah dalam melaksanakan ibadah wukuf.
Momen Perenungan dan Introspeksi Diri
Ustadz Nurbini memberikan tausiah wukuf kepada jamaah, mengingatkan mereka tentang pentingnya kesadaran dan keseriusan dalam melaksanakan ibadah wukuf.
“Tadi kita sudah menyaksikan sekilas live streaming di Padang Arafah saat ini, sebagai pengingat kita saat melaksanakan wukuf di Arafah,” ujarnya.
Hari Arafah adalah momen yang sangat penting dalam ibadah haji, di mana jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah. Maka, apa yang membuat Arafah begitu istimewa? Jawabannya adalah bahwa Hari Arafah adalah momen utama dibukanya rahmat dan ampunan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya.
“Pada hari ini, Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan kepada hamba-Nya yang sedang berjuang di Padang Arafah,” demikian penjelasan Ustadz Nurbini tentang pentingnya Hari Arafah kepada para jamaah yang hadir.
Dengan demikian, Hari Arafah menjadi momen yang sangat berharga bagi jamaah haji untuk memperbanyak doa, dzikir, dan amalan lainnya.
Ustadz Nurbini mengingatkan jamaah bahwa sebelum wukuf, mereka telah melaksanakan Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah.
“Hari Arafah merupakan hari penyempurnaan agama dan nikmat yang agung dari Allah SWT,” ujarnya.
Oleh karena itu, Ustadz Nurbini menekankan pentingnya Hari Arafah sebagai momen penyempurnaan agama dan nikmat dari Allah SWT, serta mengajak jamaah untuk memperbanyak syukur dan amalan pada hari tersebut.
Ustadz Nurbini menyampaikan bahwa Hari Arafah adalah momen istimewa di mana Allah SWT membebaskan hamba-Nya dari dosa-dosa.
“Apabila di Lailatul Qadar yang turun adalah malaikat dan tidak pasti harinya, maka di Hari Arafah yang turun adalah Allah sendiri dan pasti harinya,” ujarnya.
Selanjutnya, Ustadz Nurbini menekankan bahwa Hari Arafah adalah kesempatan emas untuk meningkatkan pahala dan ampunan.
“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa 1 tahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang,” tambahnya.
Ustadz Nurbini mengingatkan bahwa 10 hari awal puasa bulan Dzulhijah adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT.
“Amalan pada hari-hari ini melebihi dari amalan jihad, dan Arafah adalah puncak dari semuanya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ustadz Nurbini menjelaskan bahwa Arafah adalah momen perenungan dan introspeksi diri.
“Arafah adalah perenungan kepada Sang Kholiq, untuk memahami tujuan diciptakan,” tambahnya.
Dengan demikian, puasa Arafah dan 10 hari awal puasa bulan Dzulhijah menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara