12 Hari Suci Mbah Tumijem, Akhir Sempurna Sang Mualaf Husnul Khatimah
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Kabar duka yang menggetarkan hati datang dari Semarang pada Kamis (30/7/2026) pagi ini. Mbah Tumijem (92) wafat dengan sangat tenang, hanya berselang 12 hari setelah derai air mata mewarnai ikrar syahadatnya.. Kepergian sang nenek di penghujung usianya ini bukan sekadar berita lelayu, melainkan potret nyata dan saksi keindahan takdir seorang mualaf husnul khatimah.
Langkah rapuh Mbah Tumijem menuju Masjid At-Taqwa RS Roemani pada Sabtu, 18 Juli 2026 lalu, menjadi saksi bisu puncak pencarian spiritualnya. Wanita kelahiran Wonogiri ini memantapkan hati memeluk Islam setelah lebih dari delapan dekade memeluk agama Nasrani. Meski fisik tak lagi bugar, sorot matanya menyiratkan kelegaan luar biasa saat menuntaskan rukun Islam pertamanya.
“Situasi yang bersangkutan dalam kondisi yang butuh sekali pendampingan dan berkali-kali menghendaki untuk masuk Islam,” ungkap Dr. AM Jumai, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah.
Ia menjelaskan bahwa sang nenek memiliki tekad luar biasa. “Dalam usia 92 tahun masih bisa mengucapkan kalimat syahadat walaupun dalam kondisi tertatih-tatih,” ujar Jumai kepada Muhammadiyahsemarangkota.org, Kamis (30/7/2026), mengenang momen ikrar tersebut.
Pemandangan langka dan penuh toleransi mewarnai ruangan masjid di hari bersejarah tersebut. Mbah Tumijem tidak melewati ikrar sucinya sendirian. “Anak dan cucu ikut menyaksikan lengkap prosesi syahadat, bahkan sampai RT dan RW turut menyaksikan,” jelas Jumai.
Kehadiran keluarga dan lingkungan sekitar ini membuktikan bahwa cinta kasih berlabuh di atas segalanya.
Mualaf Learning Center Muhammadiyah
Perjalanan indah hidayah ini tidak lepas dari peran aktif pendampingan di lapangan. Muhammadiyah melalui dai-dainya menegaskan komitmen untuk merangkul semua kalangan.
“Muhammadiyah dalam memberikan bimbingan pendampingan terhadap umat tidak hanya bagi kalangan muda ataupun orang-orang yang masih produktif, tetapi juga memberikan pendampingan kepada orang yang lansia,” tegas Jumai yang juga merupaka Wakil Ketua PImpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.
Dedikasi untuk membimbing umat ini bukanlah hal baru. Sosok AM Jumai bersama Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah tercatat telah mendampingi ikrar masuk Islam lebih dari 50 orang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Angka tersebut menjadi bukti keseriusan dakwah kultural yang merangkul penuh empati.
Lebih dari sekadar seremoni syahadat, Muhammadiyah juga telah meluncurkan Mualaf Learning Center pada tahun 2025. Jumai menuturkan bahwa lembaga ini fokus pada keberlanjutan proses mualaf setelah memeluk Islam.
“Kita lakukan pendampingan akidah, ekonomi, dan juga tidak sedikit di antara mereka yang kita dampingi secara aspek hukum karena adanya intimidasi,” paparnya terkait tantangan yang kerap mengadang para mualaf.
Akhir Sempurna Kisah Mualaf Husnul Khatimah
Kini, penantian dan perjuangan spiritual panjang Mbah Tumijem telah usai. Setelah 12 hari menjalani hidup baru sebagai seorang muslimah yang didampingi dengan tulus, Allah memanggilnya pulang.
Kepergian sang nenek yang damai ini menyisakan jejak yang mendalam bagi mereka yang mengiringinya bersyahadat. Kisah mualaf husnul khatimah ini mewariskan inspirasi sepanjang masa; bahwa pintu hidayah bisa terbuka kapan saja, menuntun seseorang pada akhir yang paling suci.
Baca juga:
Kisah Mualaf Semarang: Haru Biru Bima Ucapkan Syahadat Usai Subuh di Masjid Candi Lama