5 Jurang Digital yang Harus Dihindari Umat Islam
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahkotasemarang.org — Di tengah pusaran gelombang teknologi, “berpegangan pada kearifan adalah kunci selamat,” yang merupakan inti dari akhlak digital. Inilah esensi utama Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustaz Dr. H. AM. Jumai, S.E., M.M., Wakil Ketua PDM Kota Semarang, pada Jumat, (10/10/25) di Masjid At-Taqwa RS Roemani Wonodri.
Ustaz Jumai, yang juga Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) Kota Semarang, menegaskan bahwa Adaptif di Era Digital telah menjadi kewajiban mutlak bagi umat Islam. Intinya: kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang begitu cepat adalah bekal vital agar umat tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berinovasi dan tetap relevan dalam memanfaatkan peluang besar di dunia maya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang. Namun, Ustaz Jumai mengingatkan, perjalanan kita dalam Navigasi Digital ini menuntut kearifan sebab selain manfaat, ada pula lima “jurang” etika dan moral yang harus dihindari oleh kaum Muslimin.
Lima Perisai Menjaga Akhlak Digital
Ustaz Jumai memberikan solusi tuntas berlandaskan ajaran agama untuk menghadapi tantangan di ruang maya:
Pertama: Menjauhi Konten Negatif dan Kemungkaran Digital
Tantangan pertama yang disoroti adalah maraknya konten negatif. Ustaz Jumai mengingatkan bahwa Al-Qur’an memerintahkan kita menjauhi dosa-dosa besar. Dalam konteks digital, ini berarti: “memalingkan diri dari segala bentuk kemungkaran online.” Menghindari konten buruk adalah cara untuk memastikan Allah akan menghapus kesalahan kita dan memasukkan kita ke tempat yang mulia (Q.S. An-Nisa [4]: 31).
Kedua: Membangun Verifikasi (Tabayyun) Sebagai Perisai Hoaks
Jurang terbesar kedua yang mengancam persatuan umat adalah membanjirnya hoaks. Beliau menukil Q.S. Al-Hujurat ayat 6, yang secara jelas memerintahkan kita untuk memverifikasi kebenaran informasi (tabayyun): “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah…”. Ustaz Jumai menegaskan, “Pendek kata kaum Muslimin harus selalu memverifikasi kebenaran informasi sebelum menyebarkannya dan tidak menyebarkan berita palsu atau hoaks”.
Ketiga: Mengendalikan Lisan dan Jemari untuk Akhlak Digital
Kaum Muslimin wajib menjaga etika yang baik dalam setiap interaksi online, menjauhi perkataan tidak pantas, membully, atau menyebarkan fitnah. Ustaz Jumai mengatakan bahwa ruang maya seharusnya menjadi cermin dari perilaku baik kita di dunia nyata.
Keempat: Menghargai Waktu dan Produktivitas
Penggunaan waktu secara tidak produktif (terutama di media sosial) adalah masalah serius. Al-Qur’an melalui Q.S. Al-Asr (ayat 1–3) telah menegaskan pentingnya waktu. Ustaz Jumai mengimbau agar kita bijaksana dan tidak menghabiskan waktu secara tidak produktif dalam konsumsi konten tanpa manfaat.
Kelima: Menjaga Privasi dan Keamanan Data
Terakhir, kita harus berhati-hati terhadap privasi dan keamanan data saat melakukan Navigasi Digital. Ustaz Jumai mengingatkan, “Data sensitif harus dilindungi agar tidak disalahgunakan”. Hal ini selaras dengan anjuran Q.S. Al-Hujurat ayat 12 untuk menjauhi kebanyakan prasangka.
Enam Kunci Sukses Adaptif di Era Digital
Menutup khutbahnya, Ustaz Jumai memberikan enam langkah praktis untuk menguasai Navigasi Digital dan menjadi pribadi yang tangguh:
Pertama tingkatkan keterampilan digital: Kuasai alat, platform, dan teknologi baru secara efektif.
Kedua fokus pada Soft Skill: Kembangkan empati, komunikasi terbuka, dan kemampuan mengelola stres untuk keseimbangan hidup.
Ketiga jadilah pembelajaran seumur hidup: Terus belajar dan mengembangkan diri seiring pesatnya kemajuan teknologi.
Keempat manfaatkan data cerdas: Gunakan data dan analitik untuk membuat keputusan yang berbasis bukti, bukan sekadar intuisi.
Kelima bangun jaringan dan kolaborasi: Jalin hubungan dan saling berbagi pengetahuan di dunia digital.
Keenam pedomani akhlak digital: Pastikan setiap interaksi online mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Ustaz Jumai menutup dengan pesan kunci: “Menguasai teknologi berarti menguasai masa depan, tetapi akhlak digital yang baik adalah penentu kemaslahatan kita.” Dengan kearifan dan bekal ilmu agama, umat Islam dapat menjadi pribadi yang adaptif sekaligus berintegritas dan mampu memberikan kontribusi besar dalam pembangunan umat.