Filosofi Menanam di Ujung Kiamat: Menghidupkan Amal Jariyah Berkelanjutan untuk Generasi Masa Depan
PEDURUNGAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Bahkan jika hari kiamat datang esok pagi, Rasulullah SAW tetap memilih menanam biji kurma di tangannya. Filosofi agung ini mengajarkan bahwa amal jariyah berkelanjutan jauh melampaui batas usia manusia di bumi.
Semangat tersebut membahana di ruang pertemuan SMA Negeri 2 Semarang pada hari Ahad, 27 September 2026. Acara ini dihadiri oleh pimpinan pleno PDM, jajaran Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Semarang, Dr. Mufnaeti Shofa, M.Ag. selaku Wakil Ketua PW Aisyiyah Jawa Tengah, serta ratusan kader Aisyiyah dalam perhelatan Hari Ber-Aisyiyah dan Milad ke-59. Di hadapan para hadirin, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag. selaku Ketua PDM Kota Semarang menyampaikan gagasan mendalam tentang pentingnya merawat kehidupan.
Ancaman Nyata Krisis Lingkungan
Ia membuka ceramahnya dengan analogi tajam mengenai perahu besar berbendera Indonesia. Kapal itu membawa ribuan penumpang dengan latar belakang ibadah yang beragam.
Namun, di dek bawah kapal tersebut, segelintir orang mabuk berulah atas nama kebebasan egois.
“Kapal ini kita lubangi kan banyune akeh to Bos, ra sah munggah,” ujar Rozi menirukan logika sesat para pemabuk di dalam kapal.
Pernyataan tersebut menggambarkan kelompok tidak bertanggung jawab yang merasa bebas merusak tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Kisah metaforis itu merefleksikan krisis kepedulian lingkungan di era modern.
Jika kerusakan alam dibiarkan atas nama dalih pribadi, bencana dahsyat pasti akan menenggelamkan seluruh penumpang tanpa terkecuali. Melalui analogi ini, Rozi menegaskan bahwa dakwah kultural bukan sekadar ceramah di atas mimbar, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian alam.
Menanam Kebaikan Tanpa Tapi
Semangat amal jariyah berkelanjutan lantas dijabarkan melalui teladan menanam pohon. Manusia tidak perlu cemas memikirkan siapa yang akan memetik hasilnya kelak.
Rozi mengingatkan bahwa kita tidak pernah dituntut untuk sukses dalam memetik hasil akhir. Sebaliknya, nilai hidup dihitung dari seberapa tulus kita berbuat kebajikan semasa hidup.
“Mungkin aku hanya nanam, mungkin hasilnya akan dilihat oleh anakku, atau kalaupun tidak anakku oleh cucuku, tapi yang pasti akan dilihat oleh generasi yang akan datang,” ungkap Rozi di hadapan ratusan kader Aisyiyah.
Makna dari ungkapan ini menegaskan bahwa setiap kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia. Walaupun pelaku kebaikan tidak sempat menikmati buahnya, manfaat usaha tersebut pasti dirasakan oleh anak, cucu, serta generasi masa depan.
Prinsip hidup bermanfaat itu terangkum sempurna dalam bait syair klasik Tuba liman mata walam yamut ‘amaluhu. Betapa beruntungnya seseorang yang raganya telah tiada dan beristirahat di peraduan, tetapi aliran kebaikannya terus hidup menghidupkan semesta.
Warisan Abadi untuk Masa Depan
Semangat berbagi dan merawat bumi ini kemudian diwujudkan lewat aksi nyata penggalangan dana. Wakaf produktif seperti pembangunan Rumah Sehat Aisyiyah menjadi bukti nyata gerakan tersebut.
Selanjutnya, Rozi memotivasi para kader Aisyiyah untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Langkah ini penting demi meninggalkan jejak peradaban yang mulia.
“Mari kita rampungkan, kita selesaikan itu kira-kira untuk menjadi amal supaya sebelum kepeduk Malaikat Izrail, kita sudah menyiapkan amal terbaik,” pungkas Rozi menutup sesinya dengan penuh refleksi.
Pesan tersebut mengajak setiap individu untuk segera menuntaskan amal kebaikan sebelum ajal menjemput. Kematian adalah sebuah keniscayaan yang pasti datang menghampiri.
Oleh karena itu, menyiapkan bekal amal saleh terbaik semasa hidup menjadi prioritas utama setiap insan. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan garis akhir di mana benih kebaikan terus dipanen oleh generasi masa depan.