Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Amalan Sedekah Paling Mudah Bagi Pekerja Keras Tanpa Harus Keluar Uang

31 Juli 2026, 18:37 WIB • 2 menit baca
Potret H. Sukendar sedang menyampaikan khutbah Jumat tentang amalan sedekah paling mudah dari atas mimbar kayu di Masjid At Taqwa Ngaliyan.
Akademisi UIN Walisongo, H. Sukendar, M.Ag., Ph.D., memaparkan materi tentang amalan sedekah paling mudah dan pentingnya menjaga lisan saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates, Semarang, Jumat (31/7/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak pekerja merasa kesulitan berbagi harta saat kondisi finansial keluarga menipis. Padahal, Islam selalu menawarkan amalan sedekah paling mudah bagi siapa saja. Ibadah ringan ini sangat cocok bagi Anda yang sedang kehabisan uang dan energi sosial.

Pesan menyejukkan ini mengemuka saat pelaksanaan ibadah salat Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates, pada Jumat, 31 Juli 2026. Saat itu, H. Sukendar yang bertindak sebagai khatib mengurai pandangan segar mengenai kedermawanan. Ia mengajak para jamaah melihat alternatif kebaikan selain materi.

Solusi Sedekah Tanpa Uang

Akademisi UIN Walisongo Semarang itu memvalidasi kerasnya perjuangan mencari nafkah harian di jalanan. Sebagai jalan keluar, agama hadir memberikan ruang lega berupa praktik sedekah tanpa uang. Pilihan spiritual ini tentu sangat membebaskan jiwa-jiwa lelah di tengah tingginya tuntutan hidup.

Syarat menjalankan ibadah sunah ini ternyata sangat sederhana dan masuk akal. Seseorang bisa mendulang pahala diam tidak menyakiti orang manakala merasa tak sanggup berinteraksi ramah. Praktik pasif ini langsung menenangkan hati dan menurunkan stres.

Meraih Pahala dari Sikap Diam

Lebih lanjut, ia mengutip sebuah sabda Nabi untuk menguatkan argumennya mengenai kebaikan tanpa modal. “Yang terakhir kata Rasulullah, jika susah juga, tidak ada yang terakhir, apa? Al-muslimu man salimal-muslimuna min lisanihi wa yadih,” terang H. Sukendar dari atas mimbar. Kutipan sahih ini seketika membuka pikiran banyak pendengar.

Ketua Majelis Tarjih PDM Kota Semarang ini lalu menjabarkan makna hadis tersebut secara gamblang. “Manusia disebut muslim, disebut orang Islam ketika orang lain selamat dari bahaya lidahnya dan bahaya tangannya,” lanjut sang khatib. Penjelasan tersebut menyadarkan arti penting menjaga kedamaian sosial meski kita sedang terpuruk.

Menjaga Lisan Sebagai Benteng Terakhir

Oleh sebab itu, kebiasaan menjaga lisan dalam Islam berfungsi murni sebagai benteng terakhir kedermawanan. Anda hanya perlu menahan jari atau mulut saat hawa nafsu mendorong untuk mencela orang lain. Langkah kecil ini langsung menjadi bentuk amal berkelas di mata Sang Pencipta.

Untuk merangkum pesannya, ia memberikan sebuah kesimpulan logis yang menyentuh sanubari. “Iya belum bisa memberi manfaat, tetapi jangan sampai merugikan orang,” tegasnya menutup keresahan jamaah Jumat siang itu. Pada akhirnya, menahan diri adalah wujud cinta kasih termudah bagi sesama manusia.

Kontributor: Media At-Taqwa Wates
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: