Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Suhu Ekstrem Sengat Arafah, Jemaah Haji Semarang Lakukan Ini Demi Antisipasi Heat Stroke

29 Mei 2026, 13:10 WIB • 3 menit baca
Petugas kesehatan Kloter 28 SOC Semarang sedang berdiri menyampaikan sosialisasi kesehatan darurat menggunakan mikrofon di hadapan para jemaah di dalam tenda Arafah yang tertib
Suasana edukasi kesehatan darurat oleh petugas medis di dalam tenda jemaah haji Kloter 28 SOC Semarang di Padang Arafah, Kamis (28/5/2026)

ARAFAH, muhammadiyahsemarangkota.org — Cuaca ekstrem di sekitar Padang Arafah menuntut kewaspadaan tingkat tinggi dari seluruh jemaah haji Indonesia. Oleh karena itu, petugas kesehatan kloter bergerak cepat menggelar edukasi massal pada Kamis kemarin (28/5/2026). Langkah kilat ini bertujuan menyelamatkan fisik jemaah dari ancaman cuaca panas yang menyengat tubuh.

Melalui momentum kultum sore hari, dokter Kloter 28 SOC Semarang memberikan sosialisasi kesehatan secara intensif. Menariknya, Tim Pembimbing Haji Indonesia (TPHI), Nurbini, membagikan langsung situasi edukasi tersebut dari dalam tenda jemaah. Sebab, Wakil Ketua PDM Kota Semarang ini ingin memastikan seluruh jemaah memahami bahaya dehidrasi.

Menurut laporan langsung dari lokasi, panitia mengemas agenda ini dalam program PKIH. Pasalnya, petugas fokus pada materi antisipasi heat stroke, dehidrasi, hingga pencegahan penularan batuk. Melalui edukasi ketat inilah, tim medis berharap kondisi fisik para tamu Allah tetap prima hingga akhir rangkaian ibadah.

Mengonsumsi Oralit Secara Rutin Demi Menghalau Sengatan Matahari

Terkait teknis penyelamatan fisik, dokter kloter melarang keras jemaah untuk keluar dari area tenda. Sebab, paparan langsung sinar matahari di luar ruangan berpotensi memicu kolaps pada tubuh jemaah. Oleh sebab itu, menetap di dalam tenda menjadi pilihan paling aman saat suhu udara sedang memuncak tinggi.

Selain membatasi aktivitas luar ruangan, jemaah juga wajib meningkatkan volume minum air setiap waktu. Artinya, pasokan cairan harus masuk ke dalam tubuh secara konsisten untuk mencegah terjadinya dehidrasi parah. Bahkan, tim medis menyarankan jemaah untuk mencampur air minum mereka menggunakan bubuk oralit secara rutin.

“Tidak terjadi heat stroke, dehidrasi, dan penyakit lainnya. Diingatkan agar jemaah tidak keluar dari tenda untuk menghindari sengatan panas matahari secara langsung karena suhu udara yang cukup panas. Kemudian juga sering-sering untuk minum biar tidak dehidrasi, termasuk mengonsumsi oralit,” lapor Nurbini langsung dari Arafah.

Berkat penerapan taktik disiplin tersebut, kondisi kesehatan para jemaah terpantau aman dan terkendali. Kondisi ini membuat gema takbir bersahut-sahutan penuh rasa syukur di dalam tenda Kloter 28 SOC. Selanjutnya, para jemaah terus memperbanyak zikir sembari menjaga kebugaran fisik mereka menghadapi puncak haji.

Masker Pengaman dan Opsi Badal: Solusi Jitu Cegah Penularan Batuk Masal di Jamarat

Selain ancaman cuaca panas, potensi penularan penyakit flu dan batuk juga menjadi perhatian serius petugas. Pasalnya, interaksi masif antarjemaah dari berbagai belahan dunia sangat rentan memicu penyebaran virus. Oleh karena itu, dokter kloter mewajibkan jemaah untuk lebih sering memakai masker selama beraktivitas.

Memasuki persiapan agenda melempar jumrah, TPHI memberikan imbauan yang tidak kalah penting mengenai rute jamarat. Sebab, jarak tempuh menuju lokasi pelemparan jumrah terhitung cukup jauh dan menguras banyak energi. Akibatnya, jemaah yang memiliki keterbatasan fisik dilarang keras memaksakan diri berangkat ke lokasi.

“Kemudian juga agar tidak terjadi penyakit menular seperti flu, batuk, maka disarankan jemaah lebih sering memakai masker. Kemudian juga diingatkan jemaah karena untuk jamarat, melempar jumrah karena cukup jauh, maka jangan memaksakan diri dan agar bisa dibadalkan melempar jumrahnya,” tegas perwakilan TPHI tersebut.

Melalui penyediaan opsi badal atau penggantian tersebut, keselamatan jiwa jemaah risti menjadi lebih terjamin. Artinya, jemaah yang sehat bisa mewakili jemaah lansia tanpa mengurangi keabsahan rukun ibadah haji. Pada akhirnya, seluruh strategi ini sukses melindungi jemaah Semarang dari risiko kelelahan ekstrem di tanah suci.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: