Banjir Boleh Menerjang, Tapi Tidak Menenggelamkan Semangat: Kisah Solidaritas Muhammadiyah Tangani Banjir Semarang

GAYAMSARI, muhammadiyahsemarangkota.org– Bau apak lumpur dan air sisa genangan masih melekat kuat, membalut ruang kelas sekolah Muhammadiyah di kawasan Gayamsari, Semarang. Di sana, di antara barisan meja dan kursi kayu yang terguling, ada pemandangan yang menyentuh. Bukan tangis atau keluhan, melainkan keringat dan napas yang terengah-engah dari orang-orang yang tengah bergotong royong.

Mereka, para relawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, dan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah, tampak seperti ksatria yang sedang menarik kembali masa depan dari cengkeraman air bah.

Ruangan itu, yang seharusnya dipenuhi celotehan dan coretan kapur, kini basah kuyup. Genangan air setinggi pinggang yang sempat merendam selama sepuluh hari telah surut, namun meninggalkan jejak berlumpur di setiap sudut.

Meja-meja yang menyimpan ingatan tentang jam pelajaran, terpaksa dibalik, diangkat, dan disikat habis-habisan. Sebab, bagi warga Gayamsari, banjir boleh datang dan pergi, tapi harapan akan pendidikan dan kebersamaan, tidak akan pernah tenggelam.

Hari ini Sekolah Kembali Beroperasi

Pada Ahad (2/11) kemarin, semangat itu kembali menyala. Tidak menunggu air surut total, para relawan dan warga bergerak cepat. Target utama mereka adalah menyelamatkan ruang-ruang belajar.

Di halaman SMP Muhammadiyah 7, yang lumpurnya tebal, dan di dalam kelas SD Muhammadiyah 11, adegan heroik itu terekam jelas. Pakaian merah para relawan kontras dengan warna kuning dan biru dinding kelas yang kusam karena air. Mereka membungkuk, menyikat, dan mendorong sisa air ke luar.

“Kami bersyukur karena banyak pihak yang peduli,” ucap Lina, salah satu warga, dengan mata berbinar lega. “Sekolah dibersihkan, anak-anak pun bisa kembali belajar.”

Aksi gotong royong ini bukan sekadar membersihkan lumpur, tetapi membangun kembali mental yang sempat terkikis oleh bencana. Ini adalah wujud nyata bahwa bantuan, dari sembako yang disalurkan Lazismu hingga sikat dan ember, adalah manifestasi dari kepedulian yang tak berbatas.

Berkat upaya kolektif ini, SD Muhammadiyah 11 bisa kembali menyambut muridnya. Sejak hari Senin (3/11) ini, ruang kelas yang Ahad kemarin masih digenangi air 40 cm, kini kembali ramai dengan kegiatan belajar mengajar tatap muka.

Pengobatan Gratis Warga Terdampak Banjir

Sebelumnya, tim gabungan Muhammadiyah Kota Semarang menggelar layanan pengobatan gratis bagi ratusan warga terdampak banjir parah di Kecamatan Genuk, Jumat (31/10). Aksi medis ini menjadi respons darurat setelah kawasan tersebut dilaporkan terendam banjir selama 10 hari terakhir, yang menyebabkan kondisi kesehatan warga mulai menurun.

Posko kesehatan yang didirikan di area Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genuk ini merupakan kolaborasi antara Lazismu, MDMC, LLHPB Aisyiyah Kota Semarang, dan tim medis dari Rumah Sakit Roemani.

“Pengobatan ini ditargetkan menyasar 100 warga korban Genuk, khususnya di Kelurahan Gubang Sari maupun di Kelurahan Bangetayu Bulon,” ujar Thomi Setiawan, Manajer Lazismu Kota Semarang, di lokasi.

Sementara itu, bagi Nurdianto warga Genuk Indah, banjir yang terjadi sejak Selasa pekan lalu ini bukanlah bencana, melainkan rutinitas tahunan yang dipeluk dengan penuh ikhlas. “Kita sudah terbiasa banjir, jadi ya disyukuri saja,” ujarnya santai, sambil tersenyum melihat anak-anaknya menjadikan genangan di halaman rumah sebagai “wisata air gratis”.

Tawa anak-anak yang bermain water blaster di atas genangan air setinggi 50 sentimeter itu menjadi melodi pengiring di tengah suasana muram. Kontras inilah yang menjadi denyut nadi Genuk: duka yang ditanggapi dengan syukur.

Kontributor:

TIM MPI PDM SEMARANG

Editor:

Rizqi Aulia

Bagikan berita ini

Kabar Lainnya

Scroll to Top