Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Batasan Ketaatan dalam Islam: Kapan Kita Harus Berani Berkata Tidak?

6 Mei 2026, 13:36 WIB • 2 menit baca
Seseorang memegang tasbih bercahaya di tengah kerumunan yang kabur sebagai simbol menjaga batasan ketaatan dalam Islam dan prinsip iman.
Menjaga prinsip dan batasan ketaatan dalam Islam menjadi kompas moral bagi setiap muslim di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Seringkali kita merasa sungkan menolak permintaan orang lain, namun Ustadz Fathuddin Halim, S.Sos. selaku Takmir Masjid At Taqwa PDM mengingatkan adanya batasan ketaatan dalam Islam yang tak boleh dilanggar. Pesan mendalam ini ia sampaikan saat mengisi kultum ba’da Dzuhur di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang, Rabu (06/05/26).

Ia menegaskan bahwa ketaatan seorang muslim kepada manusia memiliki batas yang sangat jelas. Jika sebuah perintah menggiring seseorang pada kemaksiatan, maka ia wajib menolaknya dengan tegas. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta,” ujar Ustadz Fathuddin mengutip hadis Rasulullah SAW.

Filter dalam Adab Muslim Modern

Selain itu, ia menyoroti bagaimana adab muslim modern seharusnya berfungsi sebagai filter sosial. Menurutnya, integritas seseorang justru teruji saat ia berani memprioritaskan prinsip agama di atas tekanan pertemanan atau pekerjaan. Oleh karena itu, memahami batasan ketaatan dalam Islam menjadi kunci agar hidup tetap selaras dengan syariat.

Namun, ia juga merinci ada lima golongan yang tidak boleh ditaati oleh setiap hamba Allah. Golongan tersebut meliputi orang tua yang mengajak syirik, pendusta agama, hingga mereka yang hidupnya hanya mengejar hawa nafsu. Mengikuti kemauan kelompok ini hanya akan menjerumuskan kita ke dalam lembah kesesatan.

Menghindari Jebakan Dosa

Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa kepatuhan yang buta seringkali menjadi pintu masuk dosa maksiat kepada pencipta. Kita mungkin merasa tidak enak hati kepada sesama manusia, tetapi rasa takut kepada Allah harus jauh lebih besar. Prinsip ini harus tertanam kuat agar kita tidak mudah goyah oleh ajakan yang menyimpang.

Sebagai langkah nyata, ia mengajak jamaah untuk kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama. Dengan kompas tersebut, kita bisa membedakan mana perintah yang membawa berkah dan mana yang justru menghancurkan akidah.

Refleksi dan Konsistensi

Sebagai penutup, ia memberikan refleksi menarik bagi seluruh jamaah yang hadir. Ia berpesan agar setiap individu selalu berhati-hati dalam memilih lingkaran pergaulan maupun panutan hidup.

“Jangan biarkan cinta kita kepada manusia mengalahkan cinta kita kepada Sang Khalik. Mengetahui kapan harus berkata ‘tidak’ adalah bentuk tertinggi dari kedaulatan iman seorang muslim,” pungkasnya.

Pada akhirnya, menjaga batasan ketaatan dalam Islam adalah tugas sepanjang hayat. Dengan memegang teguh prinsip ini, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga memberikan teladan kebenaran bagi lingkungan sekitar.

Kontributor: Halim Zaki
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: