Cetak Ulama Intelektual: Pesantren Muhammadiyah Kawinkan Kitab Kuning dan Sains Modern
Yogyakarta, muhammadiyahsemarangkota.org — Anggapan bahwa Muhammadiyah menjauhi tradisi kitab kuning ternyata keliru besar. Faktanya, Pesantren Muhammadiyah kini tengah memperkuat model pendidikan integratif yang sangat unik. Mereka memadukan keilmuan klasik (turats) dengan pendekatan sains modern yang sangat relevan.
Melansir dari laman resmi Muhammadiyah.or.id, Wakil Ketua I LP2 PP Muhammadiyah, Muhbib Abdul Wahab, memaparkan strategi ini di Yogyakarta, Senin (27/4/2026). Beliau menjelaskan bahwa Muhammadiyah mengembangkan pendekatan integratif yang memadukan sistem pesantren tradisional (salaf) dan modern (khalaf).
Strategi ini bahkan sudah berjalan sangat jauh dalam satu dekade terakhir. Muhammadiyah telah menyusun dan mencetak kitab-kitab sendiri sebagai standar pendidikan khas mereka. Hal ini menunjukkan fleksibilitas pesantren dalam merespons perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Kurikulum dirancang secara integratif, tidak hanya mengajarkan kitab klasik, tetapi juga menggabungkannya dengan pendekatan modern,” ujar Muhbib Abdul Wahab.
Target Hafalan dan Penguasaan Ilmu Eksakta
Selain mengkaji kitab, santri juga wajib menuntaskan target hafalan Al-Qur’an dan hadis pilihan. Selama masa pendidikan enam tahun, mereka minimal harus menghafal lima juz Al-Qur’an dan sekitar 250 hadis. Target ini menjadi pondasi dasar sebelum mereka menyelami ilmu yang lebih kompleks.
Menariknya, kurikulum ini tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Santri tidak hanya fasih membaca kitab, tetapi juga mempelajari matematika, kimia, hingga astronomi. Pola ini bertujuan agar lulusannya menjadi kader ulama yang melek teknologi dan perkembangan sains.
Muhbib menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap menjaga khazanah klasik namun dengan target yang jauh lebih luas. Target utamanya adalah melahirkan ulama intelektual yang mampu menjawab tantangan dunia modern dengan bekal ilmu syar’i yang kuat.
“Target kita adalah melahirkan ulama intelektual, kader ulama yang mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu modern,” jelasnya.
Jihad Pendidikan demi Masa Depan Dakwah
Merawat pesantren merupakan bagian dari gerakan dakwah yang membutuhkan komitmen penuh. Muhbib mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk melakukan “jihad” kesungguhan dalam mengelola sumber daya manusia. Hal ini mencakup peningkatan standar pendidikan dan penguatan kurikulum yang berkelanjutan.
Dengan penguasaan turats dan ilmu modern, para ustaz diharapkan bisa berkiprah lebih luas. Mereka harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat secara global. Dengan demikian, pesantren Muhammadiyah akan terus menjadi pabrik kader yang mencerahkan bangsa.
Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa Muhammadiyah sangat serius dalam merawat warisan keilmuan Islam. Integrasi ilmu ini menjadi modal utama untuk menciptakan peradaban muslim yang berkemajuan. Pungkasnya, setiap lulusan diharapkan menjadi jembatan antara teks-teks suci dan realitas kehidupan masa kini.
“Dengan demikian, kader ulama Muhammadiyah dapat berkiprah lebih luas dalam memajukan pesantren serta memberikan kontribusi nyata,” tutup Muhbib.
Baca Juga :
Rekor Dunia! Muhammadiyah Jadi Organisasi Keagamaan Pemilik Fakultas Kedokteran Terbanyak
Keutamaan Wakaf Laptop Sarana Pendidikan Sebagai Alternatif Kurban