Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Melestarikan Tradisi Ulama, Cara Seru Perdalam Ilmu Agama Langit Lewat Kitab Gundul

24 Januari 2026, 19:29 WIB • 3 menit baca
Foto suasana pengajian di dalam ruangan berlantai karpet biru. Seorang ustadz berbaju batik duduk bersila di depan laptop dan kitab yang terbuka, memberikan penjelasan kepada puluhan jamaah bapak-bapak yang duduk santai di atas kursi plastik kecil berwarna ungu
Menghidupkan kembali tradisi ngaji Arab gundul: Ustadz Muhammad Fahim, S.Pd. saat memandu kajian Kitab Minhajul Muslim mengenai bab thaharah di PTM Ibnu Abbas (23/01/2026). Kegiatan ini menjadi oase ilmu bagi warga sekitar untuk memahami hukum Islam langsung dari sumber aslinya

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Mempelajari hukum agama tidak harus kaku. Buktinya, puluhan warga sekitar Pesantren Tahfidz Muhammadiyah (PTM) Ibnu Abbas sangat antusias membedah literasi ulama. Pada Jumat malam (23/01/2026), mereka berkumpul menghidupkan tradisi ngaji arab gundul. Warga fokus mempelajari hal mendasar dalam ibadah, yakni thaharah atau bersuci.

Suasana khidmat menyelimuti kompleks pesantren saat warga membuka lembaran Kitab Minhajul Muslim. Agenda ini bertujuan mengajak masyarakat mengenal sumber asli hukum Islam. Tujuannya agar pemahaman warga menjadi lebih kokoh. Melalui bedah kata, warga memahami bahwa belajar agama memerlukan ketelitian literasi yang kuat.

Kupas Tuntas Fiqih Mandi Besar dan Solusi Tayammum

Selanjutnya, Ustadz Muhammad Fahim, S.Pd. memandu jalannya kajian dengan memfokuskan materi pada belajar fiqih mandi besar.

Sosok pengampu kajian ini mengupas tuntas tata cara bersuci yang benar sesuai sunnah, mulai dari rukun-rukunnya hingga hal-hal yang membatalkan.

Penjelasan mengenai tayammum juga menjadi pusat perhatian karena sangat berguna sebagai solusi bersuci saat kondisi darurat atau ketika air sulit ditemukan.

Mengenai metode yang unik ini, pengampu kajian menyampaikan bahwa literasi kitab kuning sangat penting untuk menjaga keaslian ilmu.

“Kita mengajak warga kembali ke sumber asli agar paham bahwa setiap gerakan ibadah memiliki dasar hukum yang akurat langsung dari kitab para ulama,” tutur Ustadz Fahim di tengah pemaparannya.

Alhasil, warga tidak hanya sekadar mengikuti kebiasaan, tetapi benar-benar paham alasan di balik setiap langkah bersuci.

Diskusi Hangat dan Antusiasme Luar Biasa Warga

Menariknya, dingin malam tidak menyurutkan semangat jamaah untuk bertanya secara teknis. Sesi tanya jawab menjadi momen yang paling warga nanti-nantikan.

Ibu-ibu aktif menanyakan detail syarat mandi besar dalam keseharian. Diskusi interaktif ini menciptakan suasana akrab dan mencairkan kekakuan kajian kitab klasik.

Kegiatan ini mempererat hubungan harmonis antara pesantren dan warga sekitar. Oleh karena itu, PTM Ibnu Abbas berfungsi sebagai “oase” ilmu bagi semua lapisan umat.

Dampaknya, warga merasa lebih mencintai institusi pendidikan Islam di lingkungan mereka sendiri. Kehadiran warga membuktikan bahwa pesantren bersifat inklusif bagi siapa saja.

Komitmen Dakwah yang Inklusif bagi Lapisan Umat

Selain itu, kegiatan ini merupakan bukti nyata komitmen PTM Ibnu Abbas dalam memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat.Kemudian, pihak pesantren terus membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin belajar bersama tanpa memandang latar belakang usia.

Ternyata, metode ngaji arab gundul yang awalnya dianggap sulit, justru menjadi daya tarik yang membuat warga merasa tertantang untuk terus hadir.

Pencerahan agama yang dibalut dengan rasa kekeluargaan ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih religius dan literat.

Sejauh ini, respons positif warga menjadi bahan bakar bagi pesantren untuk terus mengadakan kajian rutin yang bermanfaat luas. Mari, kita dukung tradisi mulia ini agar cahaya ilmu para ulama tetap bersinar di tengah modernitas zaman.

Baca Juga :

Libur Tanpa Gadget! Menukar Layar HP dengan Hafalan Al-Qur’an di PTM Ibnu Abbas

Kontributor: Nailana K Nisak
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: