Berawal dari Grup WhatsApp, Gerakan Qori Muhammadiyah Lahir di Jateng
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sebuah grup WhatsApp sederhana kini menjelma menjadi tonggak penting pelestarian seni baca Al-Qur’an. Berawal dari 15 anggota, gerakan Qori Muhammadiyah akhirnya lahir merajut kebersamaan di Jawa Tengah. Mereka kini merapatkan barisan untuk mencetak generasi pelantun ayat suci tingkat wilayah.
Pertemuan bersejarah ini berlangsung hangat di Aula SMP Muhammadiyah 4 Kota Semarang. Para pegiat tilawah ini sepakat berkumpul pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kopdar perdana tersebut sukses memecah keheningan yang bertahun-tahun mengiringi perjalanan mereka.
Walaupun hanya separuh anggota yang hadir akibat berbagai kesibukan pekerjaan maupun studi, acara tetap berjalan lancar. Momen ini sekaligus mengukir babak baru dalam sejarah Muhammadiyah Jateng. Sebelumnya, para pembaca Al-Qur’an nyaris tidak memiliki ruang bersama untuk sekadar berdiskusi.
Sentilan Singkat di Ruang Transit
Gerakan akar rumput ini sebenarnya bermula dari sebuah teguran kultural. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., pernah memberikan masukan khusus kepada Yuliyansah Masyhar (Yayan) selaku inisiator komunitas. Peristiwa itu terjadi tepat di ruang transit usai Yayan merampungkan tugasnya.
Kala itu, sang kiai menitipkan pesan mendalam agar keahlian melantunkan ayat suci tidak berhenti pada pencapaian individu. “Saya ingat betul waktu itu beliau berpesan, ‘Mas, ilmu qira’ahnya atau seni baca Al-Qur’annya ditularkan,’” ungkap Yayan menceritakan asal mula gagasannya.
Berangkat dari pesan tersebut, Yayan segera bergerak mencari rekan-rekan sejawatnya. Ia menyadari tradisi indah ini bisa punah jika seniman tilawah terus berjuang sendirian. Sebagai langkah konkret, ia mulai menelusuri jejak para pelantun ayat suci di berbagai penjuru.
Memanfaatkan teknologi digital, proses pencarian ini dilakukan secara sangat teliti. “Saya mencari mereka melalui rekaman YouTube, siaran langsung, maupun acara persyarikatan. Saya cek khusus siapa yang membaca dan bagaimana kualitasnya,” terangnya.
Menjaga Wajah Kultural Persyarikatan
Sejalan dengan visi dakwah persyarikatan, KH Tafsir memang sangat kritis terhadap kualitas pembacaan Al-Qur’an. Ia kerap mengevaluasi langsung penampilan para qari di berbagai perhelatan besar. Tokoh agama ini bahkan pernah mengganti petugas qari secara mendadak saat acara Musypimwil di Tegal.
Tindakan tegas ini rupanya bukan tanpa alasan kuat. Ketua PWM Jateng ini menyadari bahwa masyarakat umum sering kali menilai wajah persyarikatan dari rangkaian pembukaannya. Oleh karena itu, ia selalu memeriksa kelayakan seluruh pengisi acara, mulai dari pembawa acara hingga pelantun kalam Ilahi.
Menghargai inisiatif kolektif ini, KH Tafsir lantas menyempatkan hadir langsung pada pertemuan Jumat lalu. Padahal, ia memiliki agenda rapat daring yang mendesak di waktu bersamaan. Kehadiran pimpinan wilayah ini tentu menjadi kehormatan besar sekaligus pendorong moral bagi para peserta kopdar.
Merancang Konsep Kekinian Tingkat Provinsi
Merespons arahan pimpinan wilayah, para inisiator kini bersiap menemui Prof. Masrukhi selaku anggota pleno PWM. Pertemuan lanjutan ini bertujuan murni untuk membahas legalitas dan struktur organisasi yang matang. Sang kiai sendiri menargetkan agar forum ini kelak langsung disahkan pada tingkat provinsi terlebih dahulu.
Menjelang waktu Asar, diskusi perdana tersebut akhirnya ditutup dengan ibadah berjemaah. Kendati sudah berakhir, para peserta sepakat untuk segera merumuskan langkah taktis selanjutnya. Mereka menargetkan pertemuan lanjutan pada bulan depan guna merapikan struktur perkumpulan.
Langkah strategis ini harus segera dieksekusi mengingat kelangkaan sumber daya manusia di bidang seni tilawah. “Insyaallah, awal bulan September kami akan berkumpul lagi. Kami ingin membuat konsep yang kekinian agar forum ini lebih mengena,” jelas Yayan menutup pemaparannya. Konsep modern ini diharapkan mampu memikat hati generasi muda Muhammadiyah.