Berbuat Baiklah! Jadilah Manusia yang Paling Bermanfaat
SEMARANG SELATAN, muhamadiyahsemarangkota.org- Prinsip bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesama ditekankan sebagai jawaban fundamental untuk menangkal ancaman egoisme global, hedonisme, dan individualisme yang berpotensi meruntuhkan sendi kehidupan sosial. Khatib menegaskan bahwa Islam menawarkan spektrum kebaikan luas yang tidak selalu membutuhkan modal finansial.
Hal ini disampaikan oleh Khatib Ustad Sarmadi, dalam khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa RS. Roemani Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, pada Jumat (26/09/25).
Ia menegaskan bahwa ancaman gaya hidup egois dan hedonis ini bukan sekadar cobaan individu, melainkan ancaman kolektif yang kerap “memasung” seseorang untuk enggan berbuat baik dan bisa berakibat fatal bagi kehidupan sosial. Syariat Islam datang untuk memperkuat nilai-nilai akhlak yang terpuji dan mendidik jiwa manusia agar memiliki karakter mulia dalam interaksi sosialnya.
Akhlak Mulia dan Kunci Kecintaan Ilahi
Dalam konteks spiritual, khatib menguatkan dasar ajaran Islam, yaitu penyempurnaan akhlak. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Hurairah R.A.: “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” (Hadits Shahih dalam As-Silsilah Ash-Shahihah nomor 45).
Lebih dari itu, bahwa perintah berbuat baik (ihsan) adalah perintah langsung dari Allah SWT dan secara prinsip merupakan kebaikan yang kembali kepada diri sendiri. Ia mengutip firman Allah SWT yang memerintahkan kebaikan dalam Surah An-Nahl ayat 90 dan menegaskan dalam Surah Al-Isra’ ayat 7: “Jika kalian berbuat baik berarti kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri”.
Ustad Sarmadi menegaskan bahwa menjadi manusia yang paling bermanfaat adalah kunci utama untuk meraih kecintaan Allah SWT. Poin humanis yang disorot adalah amal yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla adalah “kegembiraan yang dimasukkan ke dalam hati seorang Muslim”. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani.
Ia mengingatkan adanya jaminan pertolongan ilahi bagi mereka yang aktif membantu sesamanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Al-Hakim: “Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada seorang hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya.”
Prinsipnya, seorang muslim harus senantiasa berusaha memberikan manfaat atau menolong orang lain dalam setiap perkara dunia maupun agama mereka.
Solusi Praktis: Kebaikan Tak Butuh Modal Khusus
Untuk menepis anggapan bahwa berbuat baik harus identik dengan modal finansia, Ustad Sarmadi mengatakan bahwa menjadi orang yang mampu memberi manfaat tidak membutuhkan kemampuan khusus atau tingkat kecerdasan tertentu. Yang diperlukan setiap orang, katanya, hanyalah membulatkan tekad untuk melakukan kebaikan.
“Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak. Tidak ada sesuatu yang membatasinya. Yang perlu dilakukan setiap orang hanyalah membulatkan tekad untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain,” tandasnya.
Lalu, apa solusi praktis untuk bersedekah dan berbuat baik bagi mereka yang tidak memiliki harta? Seperti yang disampaikan Rasulullah SAW kepada para sahabat, bahwa orang tersebut hendaknya bekerja dengan usahanya sendiri sehingga bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.
Jika hal itu belum mampu dilakukan, beliau menuntun agar seseorang membantu orang yang sangat butuh pertolongan yang memohon bantuan. Apabila itu pun terkendala, maka solusi paling mendasar adalah berbuat baik dan menahan diri dari berbuat buruk. Beliau menutup dengan menegaskan, “Sesungguhnya hal itu merupakan sedekahnya,” (Hadits Muttafaq ‘alaihi yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Khutbah ini menyimpulkan bahwa menjaga karakter mulia dan memberikan manfaat adalah tanggung jawab kolektif. Allah SWT akan menyertai hamba yang melayani hamba-Nya dan membantu orang lain, membimbing dan mendukungnya dalam setiap situasi.