Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Branding Muhammadiyah: Senjata Rahasia Menjual Ide dan Produk Persyarikatan

21 September 2025, 10:43 WIB • 4 menit baca
Branding Muhammadiyah: Senjata Rahasia Menjual Ide dan Produk Persyarikatan

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org- Di tengah hiruk pikuk informasi, setiap organisasi dan produk berlomba-lomba menarik perhatian. Namun, bagaimana sebuah ide bisa menembus kebisingan dan terpatri dalam ingatan publik?

Kunci jawabannya terletak pada branding, sebuah konsep yang jauh lebih dalam dari sekadar logo atau warna yang menarik. Branding adalah tentang membangun persepsi, menciptakan koneksi emosional, dan pada akhirnya, mengubah cara pandang orang terhadap apa yang kita tawarkan.

Inilah pesan utama yang ditekankan Dody Zulkifli, CEO dari Neyma Brand and Identity, sebuah digital marketing agency terkemuka dalam pelatihan manajemen reputasi digital yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Di hadapan tim sekretariat dan media Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Tengah, Dody menyampaikan materi penting tentang Branding dan Positioning Muhammadiyah di era digital yang semakin kompetitif.

Dody memaparkan rahasia di balik merek-merek besar yang tak lekang dimakan zaman. Selama puluhan tahun produk atau perusahaannya tersebut tetap bertahan karena berhasil membangun kekuatan mereknya di benak konsumen melalui konsistensi branding.

“Pasta gigi ‘Formula’ contohnya, bisa bertahan puluhan tahun karena konsisten menonjolkan diksi ‘nafas segar dan visual sepasang pemuda pemudi dalam iklan-iklannya ,” terang Dody seraya menunjukan konsistensi gambar kemasan dan iklan pasta gigi “Formula” sejak puluhan tahun silam hingga saat ini di layar presentasi.

Demikian pula dengan ormas Muhammadiyah, sambung Dody. Muhammadiyah punya keunggulan sejarah, amal usaha, dan jaringan yang luas. Jika semua itu dikomunikasikan secara tepat dan konsisten maka akan semakin dipercaya publik.

Holistic Branding

Menurut Dody, merek yang kuat dibangun dari fondasi yang holistik, yang ia sebut dengan konsep Holistic Branding. Konsep ini berdiri di atas tiga pilar yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Pilar pertama adalah Brand Blueprint, yaitu sebuah cetak biru yang menjadi panduan strategis untuk memastikan konsistensi dalam setiap langkah. Di dalamnya, termuat elemen-elemen fundamental seperti Brand Identity (logo, tipografi, dan warna), serta panduan Brand Voice yang menentukan bagaimana merek berkomunikasi dengan audiensnya. Tanpa cetak biru, sebuah merek akan kehilangan arah dan pesan yang disampaikan akan terasa inkonsisten, membingungkan publik, dan sulit dipercaya.

Setelah cetak biru terbentuk, langkah selanjutnya adalah implementasi, yang disebut Brand Delivery. Inilah wujud nyata dari strategi yang telah disusun, yaitu bagaimana sebuah merek benar-benar hadir dan berinteraksi dengan audiensnya.

Dody memberikan contoh menarik dari merek terkenal sabun Lifebuoy. “Lifebuoy berhasil membangun mereknya melalui kampanye kesehatan yang konsisten,” jelas Dody seraya menambahkan, pesan kampanye itu kemudian terus diulang dari generasi ke generasi.

Hal ini menunjukkan bahwa delivery yang efektif adalah tentang menghidupkan janji merek melalui tindakan dan komunikasi yang konsisten.

Pilar terakhir yang tak kalah penting adalah Brand Equity, yaitu akumulasi dari persepsi dan reputasi yang dibangun sebuah merek di mata publik. Brand Equity inilah yang mendorong orang membeli produk kita, tegas Dody.

Dody membedakan secara tajam antara persepsi dan reputasi. Persepsi adalah apa yang orang pikirkan sebelum mereka berinteraksi dengan merek, sementara reputasi adalah apa yang mereka rasakan setelahnya.

Mengambil contoh air mineral premium Equil, Dody menjelaskan bagaimana persepsi “kualitas tinggi” dari Equil sudah terbentuk sebelum orang meminumnya.

“Merek yang mampu menciptakan persepsi dan menjaga reputasi yang kuat adalah merek yang akan bertahan lama dan membangun loyalitas pelanggan,” kata Dody.

Lewat pemaparan yang atraktif dan interaktif, Dody Zulkifli, yang telah banyak menangani banyak merek-merek nasional, berhasil membuka wawasan baru bagi para peserta. Branding, menurutnya, bukan sekadar urusan estetika, melainkan sebuah strategi fundamental untuk memastikan sebuah ide atau produk tidak hanya dikenal, tetapi juga dipercaya dan dicintai oleh publik.

Salah satu peserta pelatihan, Suparno, Sekretaris PDM Kota Semarang mengakui, ilmu branding ini sangat penting bagi persyarikatan. Sehingga Muhammadiyah bisa lebih dikenal publik dengan persepsi dan reputasi yang lebih baik lagi sekaligus lebih dicintai publik.

Pihaknya, lanjut Suparno, akan segera menindaklanjuti hasil pelatihan ini dalam rangka menguatkan branding Muhammadiyah khususnya di Kota Semarang. Salah satunya dengan menggandeng MPI (Majelis Pustaka Informasi) untuk merumuskan konsep branding dan tahapan implementasinya.

Kontributor: MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: