Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bukan Sekadar Ibadah, Masjid Unggulan Muhammadiyah di Semarang Wajib Ramah Anak & Difabel

30 Desember 2025, 18:26 WIB • 2 menit baca
Bukan Sekadar Ibadah, Masjid Unggulan Muhammadiyah di Semarang Wajib Ramah Anak & Difabel
Screenshot

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Konsep Masjid Unggulan Muhammadiyah di Kota Semarang kini memasuki babak baru dengan mewajibkan fasilitas ramah anak dan akses difabel sebagai syarat utama standarisasi masjid berkemajuan.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang merancang langkah ini agar masjid tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik yang sunyi, melainkan tumbuh menjadi pusat solusi inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Visi tersebut mengemuka saat para pengurus masjid berkumpul di Aula PDM Kota Semarang, Minggu (28/12/2025).

Ketua LPMM PDM Kota Semarang, Suwardi, menegaskan bahwa takmir masjid memegang peran kunci untuk menciptakan ruang yang nyaman bagi siapa saja. Menurutnya, status Masjid Unggulan Muhammadiyah menuntut pengelola lebih peka terhadap kebutuhan jemaah, termasuk kelompok rentan.

“Apapun masalahnya, masjid solusinya. Pesan ini bermakna bahwa masjid bukan semata-mata bangunan fisik, tetapi juga tempat yang ramah anak dan masyarakat umum mengenalnya secara luas,” ujar Suwardi saat memotivasi para pengurus masjid.

Mengejar 16 Indikator Manajemen Modern

Para pengelola masjid kini memikul tanggung jawab untuk memenuhi 16 indikator standar guna meraih predikat Masjid Unggulan Muhammadiyah. Indikator tersebut mencakup legalitas hukum sertifikasi Muhammadiyah, penghijauan lingkungan, hingga kemampuan takmir dalam menggerakkan potensi remaja.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Drs. H. Danusiri, M.Ag., mengapresiasi tinggi komitmen perubahan tersebut. Ia mendorong pengurus masjid segera membentuk Badan Eksekutif Masjid (BEM) untuk mempercepat proses transformasi organisasi.

“Kami berharap semua pengurus masjid bermetamorfosis dari pola tradisional menjadi modern berkemajuan. Kita harus terus meng-upgrade ghiroh ini melalui manajemen yang komprehensif agar kriteria Masjid Unggulan Muhammadiyah benar-benar terwujud,” tegas Danusiri.

Menguasai Dakwah Digital dan Branding

Selain membenahi aspek fisik, PDM Kota Semarang juga mewajibkan masjid menguasai teknologi informasi. Perwakilan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kota Semarang, Rizqi Aulia, mengingatkan bahwa Masjid Unggulan Muhammadiyah harus membangun strategi branding yang kuat di dunia maya.

Rizqi menyoroti pentingnya tim publikasi agar masyarakat mengetahui setiap agenda masjid melalui media sosial atau laman resmi organisasi. Ia meyakini konten kreatif merupakan magnet yang efektif untuk menarik minat jemaah.

“Takmir harus membranding masjid agar masyarakat luas mengenalnya. Salah satunya melalui pembuatan konten menarik yang mengundang rasa penasaran orang untuk datang dan mengenal masjid lebih dalam,” jelas Rizqi.

Melalui pendataan dan pembinaan rutin ini, PDM Kota Semarang optimis seluruh masjid di wilayahnya segera naik kelas menjadi Masjid Unggulan Muhammadiyah yang makmur dan memakmurkan jemaah.

Baca juga : Transformasi Masjid: Dari Ruang Ibadah Jadi Pusat Solusi Hidup Umat

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: