Bukan Sekadar Teori, Dakwah Inklusif PWM Jateng Jadi Percontohan Nasional
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Perhelatan Rakornas LDK PP Muhammadiyah di Semarang menjadi saksi bisu keberhasilan Inovasi Dakwah PWM Jawa Tengah. Program tersebut memberikan dampak nyata bagi komunitas yang selama ini terpinggirkan. Akhirnya, PWM Jawa Tengah sukses meraih apresiasi nasional pada pembukaan acara, Jumat (30/1/2026).
Pimpinan pusat menyerahkan penghargaan bergengsi tersebut di lantai 8 Gedung Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Momen ini menandai babak baru bagi penguatan Dakwah Inklusif yang menyasar kelompok marginal secara konsisten.
Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. Ahmad Tafsir, menerima apresiasi Tokoh Penggerak Dakwah dengan penuh syukur. Ia menilai capaian ini merupakan buah kerja keras kolektif seluruh elemen Muhammadiyah di Jawa Tengah.
Kejutan di Panggung Rakornas
Awalnya, prestasi ini bermula dari kedisiplinan pengurus dalam menjalankan Strategi Dakwah Inklusif. Para penggerak turun langsung mendampingi komunitas yang sering kali terabaikan oleh masyarakat umum.
Oleh karena itu, Ahmad Tafsir mengaku sangat terkejut saat panitia memanggil namanya ke atas panggung. Sosok pemimpin ini tidak pernah membayangkan aktivitas harian timnya akan mendapat perhatian sebesar ini di tingkat nasional.
“LDK PP Muhammadiyah yang mengetahui persis alasan pemberian penghargaan ini. Saya tidak mungkin menilai kinerja sendiri karena itu wilayah orang lain,” ungkapnya dengan rendah hati.
Membumikan Inovasi Dakwah
Meskipun merasa terkejut, ia menganggap apresiasi ini sebagai suntikan semangat baru. Ia berharap penghargaan tersebut memacu para relawan untuk terus menebar manfaat tanpa batas bagi sesama.
Selain itu, dunia yang terus berubah menuntut para dai untuk tampil kreatif. PWM Jateng terus mendorong Inovasi Dakwah agar pesan Islam tetap relevan bagi kebutuhan masyarakat modern saat ini.
Menurut Ahmad Tafsir, dakwah saat ini tidak boleh kaku atau hanya berhenti di balik mimbar. Ia mengajak para kader untuk memanfaatkan teknologi digital agar nilai kebaikan tersebar lebih luas.
“Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Kita tidak cukup menjadi orang baik secara pribadi, tetapi harus aktif mengajak orang lain melalui Dakwah Inklusif,” tegasnya.
Misi Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Selanjutnya, seluruh gerakan di Jawa Tengah ini bersumber pada semangat Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Ahmad Tafsir mengingatkan bahwa wajah Islam harus tampil penuh keramahan serta kasih sayang tulus kepada setiap makhluk.
Program Dakwah Komunitas Muhammadiyah di Jawa Tengah membuktikan bahwa pendekatan humanis jauh lebih efektif. Strategi ini mampu merobohkan sekat sosial yang selama ini memisahkan berbagai lapisan masyarakat.
“Islam hadir untuk siapa pun dan di mana pun. Melalui ketulusan, kita menyapa semua orang tanpa membedakan latar belakang mereka,” tambah Ahmad Tafsir dengan yakin.
Kini, langkah sukses tersebut resmi menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Keberhasilan mereka menjalankan Dakwah Inklusif membuktikan bahwa kepedulian nyata jauh lebih berharga daripada sekadar teori.
Baca juga :
Insan Dakwah Award 2026: Penghargaan Tertinggi bagi Pejuang Dakwah Inklusif
Strategi Abad Kedua: Dakwah Komunitas Muhammadiyah Sasar Daerah 3T dan Kaum Marginal
300 Peserta Padati Pembukaan Rakornas LDK Muhammadiyah 2026 di UNIMUS