Bukan Sekadar Tren, Rahasia Ekologi Islam di Balik Konsep Green Masjid
KUDUS_muhammadiyahsemarangkota.org- “Manusia sebagai Khalifah fil Ardh memiliki tanggung jawab besar untuk memelihara dan melestarikan alam, bukan hanya menikmati manfaatnya.” Pernyataan tegas itu meluncur dari Dr. Aang Kunaepi, M.Ag, seorang ulama terkemuka sekaligus Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, membuka cakrawala baru tentang peran krusial umat dalam menjaga bumi.
Momentum ini terjadi dalam Pengajian Ahad Pagi dan Sosialisasi Masjid Ramah Lingkungan yang digelar di Aula Muhammadiyah Kudus pada Ahad (27/07/2025) lalu. Fokus utama yang diusung adalah urgensi konservasi air serta penerapan konsep “Green Masjid” sebagai jantung ekologi dalam bingkai Islam.
Ekologi Islam: Fondasi Penjaga Alam Semesta
Di tengah gempuran krisis lingkungan global, mulai dari degradasi alam hingga ancaman kelangkaan air, Dr. Aang Kunaepi menegaskan bahwa Islam telah membekali umatnya dengan etika keberlanjutan yang komprehensif.
Ia menguraikan bagaimana Al-Qur’an secara lugas melarang tindakan merusak di muka bumi, seperti termaktub dalam QS. Al-Baqarah 205 atau Al-A’raf 56. Konsep ‘Rabbul ‘alamin’ juga menempatkan seluruh alam semesta sebagai ciptaan ilahi yang patut dijaga dengan penuh penghargaan.
Secara spesifik, air mendapatkan perhatian istimewa dalam ajaran Islam. Dr. Aang menyoroti betapa Al-Qur’an menyebut kata ‘ma’a’ (air) hingga 63 kali, menegaskan perannya sebagai fondasi kehidupan, bahkan sebagai asal muasal segala makhluk hidup, seperti disinggung dalam QS. Al-Anbiya’ 21:30.
“air bukan sekadar sumber daya, melainkan anugerah dan amanah besar dari Allah SWT yang wajib kita syukuri dan jaga.”Ujarnya dengan nada rendah.
Dr. Aang mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan untuk berwudu dengan air sesedikit mungkin, bahkan ketika berada di tepi sungai yang melimpah sekalipun, menekankan pentingnya efisiensi dalam setiap aspek kehidupan.
Green Masjid: Wujud Nyata Konservasi di Rumah Ibadah
Merespons tantangan ini, Dr. Aang Kunaepi memperkenalkan gagasan “Green Masjid”, sebuah inisiatif yang mengubah masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai teladan nyata dalam pelestarian lingkungan.
Masjid ramah lingkungan adalah tempat ibadah yang secara sadar mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam desain arsitektur, operasional, hingga kegiatan sehari-hari. Kriteria ini mencakup arsitektur yang efisien energi dan air, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, penghijauan area sekitar, hingga pemanfaatan energi terbarukan.
Contoh nyata keberhasilan konsep ini adalah Masjid Istiqlal di Jakarta, yang berhasil meraih sertifikasi EDGE dengan penghematan energi 23% dan pengurangan konsumsi air 36% berkat inovasi seperti panel surya dan daur ulang air wudu.
Langkah Konkret Menuju Masjid Berkelanjutan
Lantas, bagaimana implementasinya dalam skala yang lebih luas? Dr. Aang memaparkan beberapa langkah konkret. Mulai dari membangun sistem pengumpulan dan pengolahan air hujan, mendaur ulang air wudu untuk menyiram tanaman, hingga secara berkelanjutan mengedukasi jamaah tentang pentingnya hemat air. Penggunaan perlengkapan dan sistem sanitasi yang efisien air juga menjadi kunci penting.
Dengan demikian, masjid bukan hanya berkontribusi pada efisiensi air dan kelestarian alam, melainkan juga menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih mendalam di kalangan jamaah, menjadikannya mercusuar perlindungan lingkungan yang berlandaskan ajaran Islam.
Diakui, tantangan seperti budaya konsumsi berlebihan, keterbatasan teknologi, dan rendahnya kesadaran masyarakat masih membayangi. Namun, Dr. Aang Kunaepi optimis melihat peluang besar. Peran ulama dan khatib dalam dakwah lingkungan yang berkelanjutan, integrasi nilai-nilai agama dalam kebijakan pengelolaan air, serta kolaborasi solid antar komunitas, pemerintah, dan lembaga Islam, diyakini akan menjadi kunci.
“Mengatasi tantangan ini memerlukan upaya kolektif dan sinergi dari berbagai pihak untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan,” tegas Dr. Aang, menggarisbawahi bahwa setiap tetes air yang diselamatkan adalah investasi untuk generasi mendatang.
Melalui inisiatif masjid ramah lingkungan dan sosialisasi ekologi Islam, kita diajak untuk bersama-sama menjadi agen perubahan, mengembalikan harmoni antara manusia dan alam, serta memastikan keberlanjutan sumber daya yang tak ternilai ini untuk masa depan yang lebih hijau dan berkah.