Bukan Durasi Zikir, Tapi Kualitas Ibadah Jauh Lebih Utama
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang kerap mengukur kesalehan hanya dari seberapa lama seseorang duduk bersimpuh. Padahal, Islam meletakkan keikhlasan, ketepatan tuntunan, dan ilmu sebagai syarat mutlak agar ibadah bernilai di sisi Tuhan.
Oleh karena itu, pesan reflektif ini mengemuka dalam Pengajian Rutin Sab’ata ‘Asyara Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Wonodri. Acara bertempat di Masjid As-Salam Wonodri, Semarang Selatan, Sabtu (17/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, penceramah Drs. H. Agus Supriyadi membedah tema “Kebijakan Allah terhadap Ibadah Wanita” di hadapan ratusan jamaah.
Sebab, Agus Supriyadi mengingatkan bahwa orang yang beribadah tanpa landasan ilmu ibarat orang buta. Masing-masing meraba bagian tubuh gajah lalu mengambil kesimpulan secara sepotong-sepotong. Akibatnya, ketaatan yang benar justru harus memancarkan perubahan akhlak dan kelembutan dalam bertindak.
“Setelah mengikuti pengajian, kebaikan, amaliah, perilaku, dan perbuatan kita seharusnya semakin baik. Ibadah kita semakin meningkat,” tegas Drs. H. Agus Supriyadi saat mengurai tausiahnya.
Solusi Cerdas Rasulullah untuk Kesibukan Muslimah
Selain itu, ajaran Islam yang ideal tidak pernah bertujuan membebani atau mempersulit ruang gerak wanita. Hal ini terlihat saat penceramah mengutip kisah Rasulullah SAW bersama istrinya, Juwairiyah. Nabi Muhammad SAW menguraikan bacaan zikir singkat yang membawa keutamaan pahala sangat besar.
Bahkan, teladan tersebut membuktikan bahwa kualitas ibadah muslimah tidak bergantung pada seberapa lama ia meninggalkan tugas rumah tangga. Justru, menjalankan salat di rumah menjadi keutamaan yang melapangkan peran wanita tanpa mengabaikan keluarga.
Oleh sebab itu, pemahaman agama yang cermat mencegah seseorang memaksakan diri hingga merusak kesehatan. Di sisi lain, keikhlasan mengurus rumah tangga dan melayani pasangan secara santun menjadi ladang pahala yang nyata.
“Amal ibadah akan menjadi amalan yang istimewa kalau dilandasi dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan,” tutur pemateri pengajian ‘Aisyiyah tersebut.
Mendidik Generasi Lewat Keteladanan dan Kelembutan Hati
Peran ibu dalam merawat keimanan anak memegang posisi kunci bagi keberlangsungan masa depan bangsa. Namun, penyampaian nasihat agama kepada keluarga tidak boleh dilakukan melalui luapan amarah atau paksaan yang kasar.
Merujuk Surah At-Tahrim ayat 6 dan Ali Imran ayat 159, pendidikan agama wajib mengedepankan keteladanan, komunikasi yang santun, dan ketenangan. Bentakan keras justru berisiko membuat anak-anak menjauh dari ajaran Islam.
Kehidupan rumah tangga semestinya menjadi ruang aman untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Orang tua dipanggil untuk lebih merisaukan kualitas akidah anak ketimbang sekadar mengkhawatirkan urusan materi duniawi.
“Ketika kita menyampaikan kebaikan dan nasihat kepada anak-anak serta keluarga, hendaknya kita mengingatkan dengan cara yang bijak, jangan emosi,” pimpin penceramah pengajian menutup tausiahnya.