Cara Asyik Nasyiatul Aisyiyah Tanamkan Nilai pada Generasi Alpha
TEMBALANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ahad pagi (09/11/25) di kawasan Bukit Kencana Jaya, Meteseh, menjadi momen istimewa bagi puluhan anak-anak. Di tengah keramaian Car Free Day (CFD) yang biasanya dipenuhi aktivitas olahraga dan kuliner, mereka justru asyik dengan dunianya sendiri. Jari-jemari mungil tampak lincah menari di atas kertas, sebuah aktivitas menyenangkan yang sejatinya sedang melatih motorik halus mereka.
Kegiatan ini merupakan inisiatif Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang untuk mengenalkan dunia literasi sejak dini. Di era digital di mana gawai sering mendominasi perhatian, PDNA menawarkan pendekatan berbeda yang interaktif: melatih ketangkasan fisik sekaligus menanamkan kecintaan pada budaya aksara melalui kegiatan menggambar dan bercerita yang akrab bagi dunia anak.
Misi Edukasi di Tengah Keceriaan
Bagi Ketua PDNA Kota Semarang, Prasasti Nugrahaing Gusti S.H., acara ini membawa misi penting yang dikemas dalam format yang menyenangkan bagi anak-anak. Mengajak anak-anak kembali mencintai bahasa ibu di tengah gempuran konten digital berbahasa asing menjadi tantangan yang dijawab melalui kegiatan ini.
“Tujuan utamanya harapannya anak-anak yang ikut cerita ini bisa semakin mencintai dan turut melestarikan bahasa dan sastra Indonesia,” ungkap Prasasti, yang tampak antusias melihat partisipasi peserta dari berbagai penjuru Kota Semarang.
Peran Strategis EMINA
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari kolaborasi apik dengan EMINA (Educare Milik Nasyiatul Aisyiyah). EMINA merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang dimiliki oleh Nasyiatul Aisyiyah. Selain sebagai institusi pendidikan formal, EMINA juga berfungsi sebagai layanan pendukung (support system) bagi para kader Nasyiah.
Kehadiran EMINA memungkinkan para ibu muda untuk tetap aktif berdaya di organisasi tanpa mengesampingkan peran pengasuhan. Dalam acara di CFD Meteseh kali ini, EMINA memperluas perannya dengan menghadirkan ruang belajar publik yang inklusif, membawa semangat pendidikan langsung ke tengah masyarakat.
Rangkaian Literasi Lintas Usia
Semarak literasi ini sebenarnya telah dimulai sejak dua pekan sebelumnya. Jika hari ini anak-anak TK dan SD mendapat panggung untuk berekspresi lewat warna, pelajar SMP dan SMA telah lebih dulu unjuk kebolehan dalam lomba bercerita.
Setiap kategori lomba dirancang dengan tujuan spesifik. Prasasti menjelaskan bahwa lomba bercerita ditujukan sebagai upaya revitalisasi budaya lokal.
“Lomba ini mengangkat dongeng atau cerita rakyat khususnya yang ada di Kota Semarang. Jadi selain mencintai bahasa, mereka juga mengenal kekayaan budaya lokal,” jelasnya.
Sedangkan untuk kategori usia dini, lomba mewarnai menjadi pintu masuk penanaman nilai-nilai kebaikan dengan tema spesifik: sedekah.
“Kami memilih tema sedekah untuk mengingatkan anak-anak sejak dini bahwa berbagi itu penting,” tutur Prasasti. Ia menambahkan bahwa aktivitas ini menjadi sarana pembelajaran yang komprehensif: melatih psikomotorik, pengenalan warna, sekaligus memantik imajinasi positif anak-anak tentang kebaikan.