Merasa Iman Sering Lusuh? Inilah Rumus Kebiasaan Kecil Penyelamat Diri
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Kerap kali manusia merasakan grafik keimanan di dalam dada mengalami pasang surut yang sangat drastis. Rasa malas dan kelesuan beribadah sering kali datang menyapa tanpa menyadari bahwa kondisi iman sedang perlahan memudar.
Peringatan serta solusi atas persoalan batin masyarakat modern tersebut mengemuka dalam Kajian Subuh di Masjid Baitul Makmur, Sumbermulyo, Semarang, pada Sabtu (1/8/2026). Forum ilmu tersebut mengajak jamaah membedah cara memperbarui iman melalui pendekatan kebiasaan harian.
Penceramah kajian tersebut, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., menegaskan bahwa iman manusia memang bisa melapuk ibarat pakaian tua yang usang. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami strategi pembentukan karakter agar ketaatan tidak mudah runtuh di tengah jalan.
Sosok yang bertugas sebagai Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang ini membedah konsep Atomic Habits sebagai metode menginternalisasi rukun iman. Konsistensi memelihara amalan kecil setiap hari jauh lebih utama daripada melakukan ibadah secara berlebihan tetapi cepat berhenti.
Tiga Langkah Sederhana
Selanjutnya, penceramah kajian ini mengingatkan jamaah untuk tidak terlalu membebani fisik secara berlebihan sewaktu beribadah. Rasulullah SAW justru sangat menyukai amalan ringan yang dikerjakan secara terus-menerus oleh seorang hamba.
Maka dari itu, Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah ini membeberkan tiga langkah praktis dalam membangun kebiasaan baik. Pertama, setiap Muslim hendaknya konsisten melakukan satu amal saleh kecil setiap hari.
Kedua, jamaah perlu menggabungkan kebiasaan beribadah seperti dzikir dan sedekah ke dalam rutinitas harian. Ketiga, evaluasi diri secara mingguan menjadi kunci penting untuk menjaga identitas sebagai insan bertakwa.
“Jangan pernah mengejar banyaknya amal, tetapi kejarlah konsistensinya. Sedikit tetapi rutin jauh lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi mendadak terputus,” tutur Dr. Aang di hadapan puluhan jamaah Subuh.
Menjaga Keseimbangan Hak Tubuh Agar Batin Tidak Mudah Lelah
Di samping menjaga ritme ibadah, pembahasan kajian Subuh ini juga menekankan pentingnya menghargai hak-hak tubuh dan keluarga. Semangat beribadah yang berlebihan tanpa memperhatikan waktu istirahat justru berpotensi merusak kesehatan jiwa dan raga.
Seseorang harus mampu membagi perhatian secara adil untuk pasangan, keluarga, serta lingkungan sekitar. Islam mengajarkan kemudahan dan kedamaian, bukan membebani hidup pemeluknya secara kaku.
Guna menutup pesan dakwahnya, penceramah Semarang tersebut mengimbau jamaah untuk selalu memohon pembaruan iman kepada Allah SWT. Kerendahan hati dan ketekunan menjaga kebiasaan kecil akan menjadi perisai terbaik menghadapi ujian hidup.
“Iman akan menjadi sangat kuat dengan ketaatan yang terjaga melalui istiqamah. Mulailah dari langkah paling kecil setiap hari, niscaya hasil yang luar biasa akan mengikutinya,” pangkas Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. mengakhiri kajiannya.