Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Cara Menjaga Pahala Puasa: Rahasia Agar Amalan Tak Sia-sia di Ramadan

24 Februari 2026, 11:28 WIB 3 menit baca
Jamaah mendengarkan kajian cara menjaga pahala puasa di depan deretan ompreng buka puasa di Masjid Raya Candi Lama Semarang.
Suasana khusyuk majelis taklim di Masjid Raya Candi Lama Semarang yang mengulas strategi dan cara menjaga pahala puasa agar tidak sia-sia menjelang Ramadan 2026.

CANDISARI, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengetahui cara menjaga pahala puasa menjadi prioritas ratusan jamaah di Masjid Raya Candi Lama Semarang demi meraih keberkahan sempurna di bulan suci. Mereka berkumpul di kawasan Kaliwiru, Candisari, saat langit perlahan berubah jingga pada Senin (23/2/26). Di serambi masjid, deretan ompreng sudah tertata rapi, siap menyambut waktu berbuka yang penuh kehangatan.

Para warga dari berbagai usia ini datang bukan sekadar untuk makan bersama. Sebaliknya, mereka hadir guna menjemput ilmu dalam sebuah majelis taklim yang khusyuk. Di tengah suasana syahdu tersebut, sebuah pesan kuat bergema: puasa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, melainkan tentang kontrak eksklusif antara hamba dan Sang Pencipta.

Memahami Kontrak Langit yang Eksklusif

Imam Santoso Abu Maulana, sang pemateri dari Sekolah Tabligh PDM Kota Semarang, mengupas tuntas hikmah puasa menurut hadits Qudsi. Ia menekankan bahwa ibadah ini memiliki kedudukan yang sangat spesial di mata Allah SWT. Berbeda dengan amalan lain yang memiliki hitungan pahala jelas, puasa merupakan rahasia antara manusia dan Tuhannya.

“Semua amal anak Adam itu untuknya, kecuali puasa. Allah berfirman: Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya,” ujar Imam dengan nada tegas. Ia menjelaskan bahwa pahala puasa bersifat tak terbatas. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami cara menjaga pahala puasa dengan sungguh-sungguh agar investasi akhirat ini tidak menguap begitu saja.

Waspada ‘Pencuri’ Pahala di Balik Dahaga

Namun, sang ustadz memberikan catatan kritis yang menjadi inti materi sore itu. Ia mengingatkan bahwa besarnya ganjaran tersebut bisa sirna seketika jika seorang hamba mengabaikan bahaya syirik dalam ibadah. Syirik merupakan “penyakit” paling mematikan yang dapat menghancurkan seluruh tabungan pahala seorang hamba dalam sekejap.

“Jangan sampai kita sudah bersusah payah berlapar-lapar seharian, tetapi nilai ibadah kita ludes karena rusaknya tauhid,” tegas Imam Santoso.

Ia menambahkan bahwa langkah praktis dalam cara menjaga pahala puasa adalah dengan memurnikan niat. Fokuslah hanya pada rida Allah, bukan pada pujian manusia atau sekadar menggugurkan kewajiban.

Refleksi Syahdu Menjelang Berbuka

Selanjutnya, keriuhan diskusi mereda saat jarum jam mendekati jadwal buka puasa Semarang. Suasana berganti menjadi heningnya doa, sebuah momentum paling mustajab bagi orang yang berpuasa. Begitu azan berkumandang, para jamaah menikmati sajian berbuka dengan tertib dan penuh rasa syukur.

Kebersamaan di Masjid Raya Candi Lama ini akhirnya menjadi pengingat penting bagi kita semua. Bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, konsistensi dalam menerapkan cara menjaga pahala puasa adalah kunci utama agar lelah kita berbuah surga. Pada akhirnya, puasa adalah pembuktian cinta yang paling sunyi, yang hanya butuh pengakuan dari Sang Pemilik Semesta.

Baca juga :

5 Ciri-Ciri Orang Bertakwa: Apakah Puasa Kita Sudah Berhasil?

Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah Lewat Hikmah Puasa Ramadhan

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: