Cara Unimus Cetak Gen-Z Bermental Baja dengan Karakter Ulul Albab
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengejar indeks prestasi tinggi nyatanya belum cukup untuk menaklukkan kerasnya dunia kerja. Merespons tantangan ini, sebuah kampus di Semarang menerapkan metode khusus untuk mencetak lulusan tangguh. Mereka fokus membangun karakter Ulul Albab sebagai fondasi utama pendidikan akhlak generasi muda masa kini.
Wakil Rektor I Unimus, Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si., Med., menyampaikan pesan penting itu secara lugas dalam Pengajian Kamis Pagi di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (6/8). Ratusan sivitas akademika menepi sejenak dari rutinitas perkuliahan untuk menyimak materi. Ia memandu langsung sesi perenungan tersebut dengan sangat tenang.
Fondasi Spiritual Mahasiswa Kritis dan Beriman
Sebagai langkah awal, Prof. Budi mengajak peserta merenungkan kembali wahyu pertama Islam, yakni Surah Al-Alaq ayat 1-5. Ia menegaskan bahwa perintah “Iqra” menuntut lebih dari sekadar aktivitas membaca buku teks. Ayat ini justru menantang mahasiswa kritis dan beriman untuk peka mengamati realitas kehidupan masyarakat.
“Ilmu tidak dapat dipisahkan dari Sang Pencipta. Membaca dengan menyebut nama Allah berarti setiap ilmu yang diperoleh harus mengantarkan manusia semakin dekat kepada-Nya dan diwujudkan dalam kemaslahatan,” ujar Prof. Budi.
Berdasarkan pandangan tersebut, ilmu yang tinggi sudah semestinya menumbuhkan kerendahan hati. Manusia berasal dari titik yang lemah sehingga arogansi akademik sama sekali tidak memiliki ruang di kampus. Pengetahuan justru harus bertransformasi menjadi solusi nyata untuk menyembuhkan berbagai persoalan warga.
Menumbuhkan Nalar Kritis Melalui Ayat Al-Qur’an
Lebih jauh lagi, narasi spiritual itu berpadu selaras dengan pemahaman Surah Ali Imran ayat 190. Ayat ini secara spesifik memecut nalar manusia untuk mengamati alam semesta menggunakan pijakan logika rasional. Melalui perpaduan dua surah inilah, iklim akademik kampus perlahan membentuk jiwa serta karakter Ulul Albab pada diri mahasiswa.
“Dua ayat ini saling melengkapi. Seorang muslim tidak hanya membaca, tetapi juga berpikir, meneliti, dan menghadirkan solusi bagi persoalan kehidupan,” katanya menegaskan esensi pendidikan Islam.
Konsep filosofis ini langsung mewujud menjadi peta jalan nyata bagi Unimus. Terlebih lagi, mereka baru saja meraih akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Capaian gemilang ini berhasil menempatkan Unimus ke dalam jajaran 21 perguruan tinggi Muhammadiyah terbaik secara nasional.
Aksi Nyata Sebagai Tips Mahasiswa Sukses
Meskipun sukses meraih akreditasi tertinggi, predikat bergengsi tersebut tidak membuat pihak kampus cepat berpuas diri. Mereka justru menjadikan status ini sebagai cambuk motivasi untuk terus memperluas cakupan pengabdian. Gelar akademik baru bernilai ketika ilmu tersebut membuahkan manfaat langsung bagi publik.
“Perguruan tinggi yang berkemajuan adalah perguruan tinggi yang mampu menghadirkan kebermanfaatan. Penelitian harus berdampak, lalu diwujudkan dalam pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya menguraikan visi masa depan kampus.
Saat ini, kampus terus bergegas menyiapkan mahasiswanya untuk menghadapi ketimpangan sosial di dunia nyata. Berbagai kendala seperti kesenjangan akses pendidikan hingga krisis kesehatan publik jelas membutuhkan empati para lulusan. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat selalu menjadi tolok ukur kesuksesan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, mendidik sarjana unggul merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi peradaban bangsa. Penanaman karakter Ulul Albab menjadi warisan paling berharga yang tak lekang oleh zaman. Inilah tips mahasiswa sukses yang sejati, yakni memiliki kecerdasan intelektual sekaligus keberanian turun tangan memberi solusi.