Kuat Mental Tanpa Kekerasan, Belajar Pola Asuh Anti-Bullying
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pendidikan karakter anak di lingkungan keluarga menentukan sejauh mana mereka mampu menghadapi tekanan sosial tanpa melakukan kekerasan. Orang tua memikul tanggung jawab besar dalam membentuk mental tangguh sekaligus menanamkan empati mendalam sejak dini.
Kesadaran pentingnya pola asuh yang tepat mengemuka dalam kegiatan Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan di SMP Muhammadiyah 4 Semarang pada Ahad (25/10/2026). Forum pencerahan rohani ini menghadirkan narasumber utama Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang sekaligus Penasihat Korps Muballigh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah.
Di hadapan para jemaah, Aang Kunaepi mengupas tuntas strategi mendidik anak melalui pendekatan prophetic parenting atau pola asuh berbasis keteladanan Rasulullah SAW. Pendekatan ini memadukan unsur kasih sayang, ketegasan yang proporsional, serta komunikasi terbuka guna mencegah perilaku perundungan (bullying) di kalangan anak-anak.
Menurut Aang Kunaepi, kekuatan fisik atau dominasi sosial tidak boleh dipahami sebagai alat untuk menguasai orang lain. Sebaliknya, anak-anak perlu dilatih memiliki keberanian moral untuk membela kebenaran dan melindungi pihak yang lemah.
“Anak perlu memahami bahwa kekuatan bukanlah kemampuan menguasai atau menyakiti orang lain, melainkan keberanian menjaga kebenaran, mengendalikan emosi, dan melindungi pihak yang lemah,” ujar ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang tersebut.
Integrasikan Ketahanan Mental dan Empati Sosial
Penasihat Korps Mubaligh PWM Jateng itu menjelaskan bahwa ketangguhan dan kasih sayang harus tumbuh secara beriringan. Ketangguhan membekali anak untuk bangkit dari kegagalan, sementara empati menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
Ketangguhan tanpa empati berisiko melahirkan sikap keras dan dominan. Sebaliknya, kasih sayang tanpa keberanian membuat anak rentan terhadap tekanan lingkungan yang tidak adil.
Penerapan pola asuh ini berlandaskan nilai kelembutan sebagaimana ajaran Islam contohkan. Orang tua wajib menciptakan suasana rumah yang aman agar anak berani bercerita serta mengakui kesalahan tanpa rasa takut.
“Kasih sayang merupakan unsur penting dalam pembentukan akhlak. Anak perlu mengalami kasih sayang agar dapat belajar memberikannya kepada orang lain,” tegas dosen dan ulama tersebut.
Tujuh Langkah Strategis Membangun Budaya Anti-Bullying dari Rumah
Aang Kunaepi membagikan tujuh strategi praktis bagi orang tua dalam menerapkan pola asuh anti-perundungan. Langkah awal dimulai dari menghadirkan teladan nyata, seperti menghindari bentakan, makian, ataupun mempermalukan anak di depan umum.
Orang tua juga perlu membiasakan komunikasi terbuka dengan mendengarkan cerita anak secara tenang tanpa langsung menyalahkan. Langkah berikutnya melibatkan upaya menumbuhkan empati melalui pembiasaan menolong serta menghargai perbedaan.
Orang tua wajib menerapkan disiplin positif tanpa kekerasan, melatih keberanian anak membela korban, serta mengawasi etika digital anak di ruang siber. Seluruh ikhtiar ini memerlukan kerja sama yang konsisten antara pihak keluarga dan sekolah.
Penyelenggaraan Kajian Ahad Pagi di SMP Muhammadiyah 4 Semarang ini mendapat sambutan hangat dari para jemaah. Pemahaman prophetic parenting yang mendalam membekali para orang tua untuk mencetak generasi masa depan yang berakhlak mulia, tangguh, dan penuh kasih sayang.