SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org- Pernahkah Anda bertanya-tanya, ke mana perginya anak muda saat pengajian? Faktanya, mayoritas majelis pengajian Muhammadiyah saat ini memang didominasi oleh kalangan orang tua.
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Mereka menyadari, jika tidak ada perubahan, generasi penerus bisa saja mencari jalan spiritualnya sendiri.
Dr. K.H. Fachrur Rozi, M.Ag., Ketua PDM Kota Semarang, menekankan perlunya strategi dakwah yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga relevan dengan kehidupan anak muda. “Jika dakwah tidak menyentuh dan relevan mereka, mereka akan mencari jalannya sendiri,” ujarnya dalam perbincangan santai dengan muhammadiyahsemarangkota.org, baru-baru ini.
Pentingnya aksi dakwah dengan menyasar anak muda memang sudah tak bisa ditunda-tunda lagi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menunjukkan bahwa 68,54% populasi Kota Semarang adalah usia produktif, mayoritas adalah generasi muda.
Ditambah lagi, survei Populix pada tahun yang sama mengungkapkan, lebih dari separuh Gen Z (57%) dan hampir separuh Milenial (44%) di Indonesia ingin konten agama yang nyambung dengan keseharian mereka. Ini adalah bukti bahwa keinginan beragama anak muda itu ada, hanya saja cara penyampaiannya yang perlu disesuaikan.
Konten yang Relate
Salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam dakwah bagi anak muda adalah, kata Fachrur Rozi, adalah soal konten bahasan. Saat ini dakwah bagi anak muda harus menyentuh isu-isu yang benar-benar mereka rasakan. Atau istilah anak muda sekarang: konten yang relate bagi kehidupan mereka. Sehingga dengan topik semacam itu membuat mereka lebih tertarik dan merasa dilibatkan.
Sebagai contoh, ia menyebut tema yang kini akrab di telinga anak muda: “Mengubah insecure menjadi syukur”. Tema atau konten seperti ini dipilih karena bisa langsung menjawab permasalahan psikologis yang banyak dialami anak muda, seperti ketidakpercayaan diri dan kekhawatiran masa depan.
“Memahami kerentanan emosional dan kecemasan yang dialami anak muda akan membuat dakwah lebih efektif,” jelas dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang ini.
Dari Ceramah Kaku Menjadi Ruang Diskusi Terbuka
Tak hanya konten, cara penyampaian juga perlu inovasi. Metode ceramah satu arah yang kurang menarik kini harus disesuaikan dengan perkembangan. Untuk dakwah ke anak muda, pihaknya mendorong format yang lebih interaktif dan santai, seperti dialog, sarasehan, atau kumpul-kumpul di tempat non-formal seperti angkringan. Tujuannya adalah menciptakan suasana yang nyaman agar mereka lebih terbuka untuk berbagi dan berdiskusi.
“Pembicara dakwah sebaiknya tampil bukan sebagai ustad yang menggurui,” katanya. “Pembicara diharapkan menjadi kawan diskusi atau fasilitator yang bisa memahami dan berbicara dengan bahasa yang akrab di telinga anak muda.”
Namun demikian sambung Fachrur Rozi, pembicara tidak harus selalu yang berusia muda. “Asalkan, mereka bisa nyambung dengan problem dan bahasa mereka,” tandas kyai kondang Semarang yang digandrungi anak muda dan masyarakat umum ini.
Kreativitas Tanpa Batas, dengan Dukungan Penuh Pimpinan
Sebagai organisasi yang dikenal sebagai pembaharu, Muhammadiyah mendorong semangat inovasi dakwah untuk anak muda. Para pemangku kepentingan dakwah dihimbau jangan takut berkreativitas. “Pegangan kita adalah: ‘Al-aslu fil asya al-ibahah’. Segala sesuatu pada dasarnya boleh, kecuali yang dilarang,” tegas Fachrur Rozi.
Prinsip ini memberikan koridor yang jelas bagi kreativitas, sehingga para penggerak dakwah muhammadiyah tak perlu takut “kebablasan” selama tidak melanggar batasan agama, terangnya.
“Masyarakat akan menilai dengan sendirinya jika ada yang terkesan kebablasan.”
Fachrur Rozi meyakinkan, inisiatif baik dari angkatan muda akan selalu mendapat dukungan penuh dari senior, baik dari segi biaya maupun fasilitas. Ini adalah ajakan sekaligus dorongan bagi seluruh Angkatan Muda Muhammadiyah seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) untuk proaktif dan berani berkarya.
“Angkatan Muda Muhammadiyah merupakan potensi besar yang dapat digerakkan untuk dakwah kepada anak muda,” tandas Fachrur Rozi mengakhiri wawancara.


