Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Tidak banyak yang benar-benar siap ketika usianya mulai menyentuh angka 40. Sebagian masih sibuk mengejar karier, sebagian lain justru mulai dihantui pikiran tentang masa depan. Dalam Khotbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang (14/11/2025), Ustadz Raad Noor Fattah M.Ag selaku Bina RS Roemani, mengajak jamaah berhenti sejenak, melihat ke belakang, lalu jujur bertanya pada diri sendiri sudah sejauh apa persiapan kita untuk kematian?
Tema ini langsung mengena, sebab menurutnya, usia 40 bukan sekadar angka melainkan alarm keras yang menandai babak baru sebuah kehidupan.
Ketika Usia 40 Menjadi Titik Balik Pada Kematangan dan Peringatan
Dalam ceramahnya, Ustadz Raad menjelaskan bahwa banyak orang menganggap usia 40 sebagai fase “stabil”.
Padahal dalam Islam, usia ini adalah titik balik yang menentukan arah hidup. Di usia ini, seseorang seharusnya sudah matang dalam berpikir, memilih kata, menata tindakan, hingga memantapkan ibadahnya.
Rasulullah SAW menerima wahyu pertama pada usia yang sama sebuah penanda bahwa kedewasaan sejati bukan hanya soal usia, tetapi kejernihan akal dan kesiapan spiritual.
Yang membuat jamaah tersentak adalah ketika ia menyebut bahwa mereka yang sudah mencapai usia 60 tahun tak lagi memiliki alasan untuk tidak mendekat kepada Allah, sebagaimana hadis sahih riwayat Imam Bukhari. “Waktu yang tersisa itu tidak bisa diputar kembali,” ujarnya.
Kalimat itu menggema, membuat sebagian jamaah menunduk merenung.
Akal, Karunia Terbesar Sudah Dipakai untuk Taat atau Sekadar Hidup?
Selain mengingatkan jamaah tentang persiapan menghadapi kematian, Ustaz Raad Noor Fattah M.Ag. juga menyoroti satu anugerah yang sering kali luput disyukuri yakniakal.
Baginya, manusia disebut makhluk termulia bukan karena rupa atau kekuatannya, tetapi karena kemampuan berpikir yang membedakannya dari seluruh ciptaan lain.
Ia bahkan menekankan bahwa kata-kata terkait proses berpikir muncul 49 kali dalam Al-Qur’an, sebagai sinyal jelas bahwa Allah benar-benar menginginkan umat-Nya menggunakan akal secara benar dan bertanggung jawab.
Dari sini, ia mengangkat kembali peringatan QS Al-Fatir ayat 37 kisah tentang orang-orang di neraka yang memohon kesempatan untuk kembali ke dunia, sekadar agar mereka bisa beramal saleh.
Namun permintaan itu ditolak karena Allah telah memberikan umur panjang dan waktu cukup untuk berpikir, merenung, dan bertaubat, tetapi semua kesempatan itu disia-siakan.
Menurutnya, ayat ini bukan ancaman, melainkan cermin bahwa hidup hari ini adalah kesempatan emas yang tidak akan pernah diulang.
Setelah membahas akal sebagai karunia besar, ia mengajak jamaah menengok lima bekal penting yang seharusnya mulai disiapkan ketika usia memasuki atau melewati 40 tahun.
Bekal pertama adalah mensyukuri hidup lewat amal saleh, bukan sekadar kalimat syukur yang diucapkan di bibir. Indra yang Allah berikan tanpa biaya harus diarahkan kepada kebaikan, bukan hal yang menjerumuskan.
Bekal kedua adalah berbakti kepada orang tua, baik yang masih ada maupun yang telah tiada.
Ketiga, ia mengingatkan agar Al-Qur’an benar-benar dijadikan warisan hidup dalam keluarga. Bukan hanya menghias rak atau diturunkan sebagai benda, tetapi diamalkan, dibaca, dan dijadikan pedoman.
Bekal keempat adalah bijak mengelola harta, terutama saat memberi.
Menurutnya, seseorang baru meraih puncak kebajikan ketika sanggup berinfak dari harta yang paling dicintai harta yang biasanya paling sulit dilepas.
Terakhir, ia menekankan pentingnya bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Tidak satu pun manusia yang tanpa kesalahan, namun Allah selalu membuka pintu taubatan nasuha bagi siapa pun yang mau kembali. Usia boleh bertambah, tetapi kualitas hidup harus ikut naik.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari lamanya ia hidup, tetapi dari bagaimana ia menggunakan waktu yang tersisa untuk kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik.


