‎Geliat Si Cantik MEK Aisyiyah di Pesta Rakyat Festival Kalibanger

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org– ‎Tanpa hiruk-pikuk promosi, tanpa baliho tanpa sepatah iklan pun bertebaran di sudut kota, Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) PCA Semarang Timur memilih berjalan dengan langkah yang sunyi. Namun dalam kesunyian itulah mereka menyiapkan kejutan, sebuah cara lembut untuk membawa nama Muhammadiyah hadir di tengah denyut masyarakat. Bukan lewat retorika, melainkan lewat karya yang bisa disentuh dan dirasakan.
‎‎
‎Sungai Kalibanger Semarang Timur yang selama ini lebih sering  menjadi cermin kusam dari hiruk pikuk kota sebagai aliran kotor, menanggung limbah, memikul sampah seakan bangun dari tidur panjangnya, pada Ahad, 30 November 2025, ia seakan mendapat hidup baru. Pagi itu, wajahnya berubah. Seakan ada angin baru yang menyibak muramnya, membuat alirannya berkilau oleh kehidupan. Sepanjang bantarannya berubah menjadi panggung rakyat yang riuh dan penuh warna.

‎Tepian sungai yang biasanya sepi, kali ini ribuan manusia tumplek blek menghadiri Festival Kalibanger 2025, sebuah hajatan masyarakat yang menyuguhkan cooking class, lomba tangkap bebek, pukul guling, pacu dayung, hingga pasar murah UMKM se-Semarang Timur.

Sejenak, sungai yang dulu muram itu menjadi pusat keceriaan, tempat orang tertawa tanpa sungkan dan anak-anak berlarian tanpa henti seolah menjelma menjadi panggung rakyat, tempat suara tawa berpadu dengan kecipak air dan lantunan musik.

‎Festival dibuka secara resmi oleh Camat Semarang Timur, didampingi Kapolsek, Danramil, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PU, serta sejumlah anggota DPRD Kota Semarang.

‎“Ini pesta rakyat, cara kami menyadarkan warga untuk menjaga Kalibanger. Beberapa bulan terakhir kami membersihkan sungai, dan hari ini puncaknya. Harapannya, tiap warga kembali merasa memiliki sungai ini—penolong kita dalam mengatasi banjir,” tutur Akbar Ali Nurdin, S.H., Kp, Camat Semarang Timur, ketika berbincang dengan muhammadiyahsemarangkota.org, Ahad (30/11/25).

Stand Kecil yang Menghentikan Langkah

‎Di tengah riuh pasar dan warna-warni acara, sebuah stand kecil berdiri tenang di tengah bantaran sungai. Tak mencolok, namun justru itulah yang membuat orang berhenti. Stand itu milik MEK Aisyiyah Semarang Timur, sederhana, tapi penuh daya tarik seperti halaman buku lama yang selalu mengundang untuk dibuka

‎Di atas meja tersusun rapi produk-produk lokal Muhammadiyah yang jarang ditemui di pasaran. MieMu, LezatMu, Biskuit Cahaya, jus, pepes, puding, pepes serta delapan jenis sabun buatan tangan dengan aroma lembut, dan kerudung sulam pita maha karya ibu-ibu Aisyiyah dengan ketelitian dan sentuhan seni yang tinggi

‎“Selama ini, produk-produk kami lebih banyak dikenal warga Muhammadiyah sendiri. Lewat momen ini kami manfaatkan untuk membuka diri, memperkenalkan karya dengan desain kemasan yang cantik dan cara promosi yang lebih segar. Alhamdulillah, sambutannya luar biasa, terbukti produk kami hampir semuanya habis,” ujar Siwin Rumdhany, Ketua MEK PCA Semarang Timur, dengan senyum yang seolah ikut menebarkan wangi sabun-sabun itu.

‎Apresiasi yang Mengalir dari Banyak Arah

Keberanian Aisyiyah tampil rapi dan percaya diri bukan hanya memikat pengunjung. Ia menjadi percakapan, menjadi contoh kecil bahwa kerja yang tertata selalu menemukan jalannya sendiri hingga mampu memancing apresiasi penyelenggara festival.

‎“Kami sampaikan terima kasih kepada Muhammadiyah. Selama ini menjadi teladan dalam banyak hal—baik secara organisasi maupun keagamaan. Pengelolaannya rapi, dan hari ini kembali menunjukkan kelasnya,” ungkap Suragah Rambing, Ketua Karang Taruna Kota Semarang, yang juga menjadi panitia kegiatan.

‎Kekaguman juga datang dari Eka Rahmawati, istri Camat Semarang Timur yang turut mampir dan membawa pulang beberapa produk.

‎“Stand Aisyiyah luar biasa. Satu-satunya stand yang menampilkan produk asli amal usaha Muhammadiyah. Selain menarik, semuanya enak, bersih, dan terjamin halal. Kami bangga sekali,” ucapnya.

‎Dari Sungai, Tumbuh Harapan

‎Festival Kalibanger bukan sekadar pesta rakyat. Namun juga menjadi ruang bagi karya-karya kecil Muhammadiyah untuk menemukan panggungnya. Tanpa promosi besar-besaran, tanpa pemaksaan, hanya dengan ketulusan dan keberanian untuk tampil, geliat ekonomi itu mulai muncul pelan, namun pasti sehingga nama Muhammadiyah dan Aisyiyah kembali menguat di hati masyarakat.

Di tepian sungai yang hari itu lebih ramah, harapan tumbuh seperti riak kecil yang merambat menjadi gelombang.
‎Dan dari sanalah perjalanan baru dimulai.

Baca juga:

MENARIK! Ini yang dibahas saat Musyawarah ‘Aisyiyah Kota Semarang!



Kontributor:

Imam Abu Maulana (PCM Semarang Timur)

Editor:

Agung S Bakti

Bagikan berita ini

Kabar Lainnya

Scroll to Top