Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

H.M. Rasjidi, Tokoh Muhammadiyah Pengukir Sejarah Kementerian Agama

19 Januari 2026, 12:37 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi grafis Prof Dr H.M. Rasjidi Menteri Agama pertama RI dan logo Muhammadiyah. Tokoh Muhammadiyah ini adalah figur sentral dalam Sejarah Kementerian Agama.
H.M. Rasjidi, tokoh Muhammadiyah yang dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Agama pertama dengan departemen resmi pada 3 Januari 1946.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sejarah Kementerian Agama mencatat tinta emas kontribusi tokoh Muhammadiyah, H.M. Rasjidi. Berbeda dengan era sebelumnya yang hanya berstatus menteri negara, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Drs. H. Danusiri, M.Ag mengungkap bahwa di tangan Rasjidi-lah struktur kementerian benar-benar berdiri tegak pada 3 Januari 1946.

Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus Semarang itu menegaskan fakta tersebut dalam diskusi terbaru terkait dinamika sejarah Kementerian Agama di Indonesia. Ia menyebut kemunculan kementerian ini bukanlah hadiah instan. Sebaliknya, lembaga ini lahir lewat proses politik yang panjang dan penuh dinamika.

Asal Usul Kemenag dan Penolakan Awal

Danusiri menguraikan asal usul Kemenag yang berakar jauh ke masa lampau. Sejak zaman kerajaan hingga kolonial Belanda, pejabat resmi atau penghulu sudah menangani masalah nikah hingga waris. Namun, pasca proklamasi, usulan pembentukan kementerian khusus sempat menuai resistensi.

“Kementerian Agama ini sejarahnya panjang. Pasca Proklamasi, para wakil umat Islam meminta diadakan lembaga negara yang menangani urusan agama, tetapi penolakannya keras dari kalangan lain,” tegas Danusiri menggambarkan situasi politik kala itu, kepada muhammadiyahsemarangkota.org, Senin (19/1/26)

Akibat penolakan tersebut, pemerintah awal hanya membentuk pos “Menteri Negara Urusan Agama”. K.H. Wahid Hasyim memegang jabatan ini dalam periode singkat, yakni September hingga November. Sayangnya, posisi ini tidak memiliki departemen atau bawahan struktural.

Kekosongan lembaga teknis ini memicu keresahan ulama Banyumas, termasuk K.H. Dardiri. Mereka lantas menuntut pemerintah pusat segera membentuk kembali lembaga keagamaan yang definitif. Pasalnya, lembaga semacam ini justru eksis dan melayani umat pada masa kolonial.

Para ulama kemudian menyampaikan aspirasi mendesak tersebut melalui tokoh-tokoh Partai Masyumi, termasuk Moh. Natsir. Langkah strategis ini membuahkan hasil manis. Lobi politik mereka sukses meyakinkan pemerintah akan pentingnya institusi agama.

H.M. Rasjidi: Tokoh Muhammadiyah di Kursi Menteri Pertama

Puncak dari perjuangan tersebut terjadi pada 3 Januari 1946. Presiden Soekarno menunjuk H.M. Rasjidi sebagai Menteri Agama pertama yang memimpin kementerian dengan struktur departemen penuh. Penunjukan ini menjadi babak paling krusial dalamsejarah Kementerian Agama karena Rasjidi memiliki wewenang eksekutif, berbeda dengan pendahulunya.

“Usaha lobi itulah yang berhasil hingga berdirilah Kementerian Agama yang memiliki departemen di bawah menteri pertama H.M. Rasjidi dari Muhammadiyah,” ungkap Danusiri yang sebelumnya juga sempat mengabdi puluhan tahun sebagai dosen UIN di lingkungan Kementerian Agama.

Rasjidi bukanlah sosok sembarangan. Ia dikenal sebagai intelektual Islam berwawasan luas dan kader tulen Muhammadiyah. Kapabilitasnya dalam menjembatani pemikiran Islam dan tantangan negara modern menjadikannya figur tepat untuk meletakkan fondasi awal kementerian. Di tangannya, birokrasi keagamaan mulai tertata secara sistematis.

Kehadiran tokoh Muhammadiyah ini di kabinet sekaligus menjawab keresahan umat Islam kala itu. Ia berhasil merealisasikan aspirasi para ulama agar negara hadir melayani urusan agama secara resmi. Kepemimpinan Rasjidi menjadi bukti nyata kontribusi kader persyarikatan dalam membangun tata kelola negara di awal kemerdekaan.

Momentum bersejarah inilah yang kini kita peringati sebagai Hari Amal Bhakti Kemenag. Danusiri menutup penjelasannya dengan sebuah refleksi penting. Menurutnya, Sejarah Kementerian Agama adalah bukti nyata perjuangan umat Islam dalam menjaga pilar agama di tubuh negara.

Baca juga:

Biografi Ahmad Syafi’i Maarif: Dari Pelayan Toko Jadi Guru Bangsa

Kontributor: Tim MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: