Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Biografi Ahmad Syafi’i Maarif: Dari Pelayan Toko Jadi Guru Bangsa

15 Januari 2026, 07:38 WIB • 5 menit baca
Sosok Ahmad Syafi'i Maarif atau Buya Syafi'i, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang mengenakan batik lurik dan peci hitam khas kesederhanaannya.
Ahmad Syafi'i Maarif (Buya Syafi'i). Sosok Guru Bangsa dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang dikenal luas karena keteladanan, kesederhanaan hidup, dan pemikirannya yang inklusif.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Siapa sangka, sosok Ahmad Syafi’i Maarif atau Buya Syafi’i pernah bekerja serabutan sebelum menjadi tokoh besar. Sekolah tujuannya bahkan pernah menolak pendaftaran tokoh fenomenal Muhammadiyah itu.

Inilah perjalanan inspiratif Buya Syafi’i yang menakjubkan. Kisahnya adalah oase keteladanan yang tak pernah kering.

Jauh sebelum publik mengenalnya sebagai guru bangsa, ia harus melewati terjalnya perantauan. Ia merasakan pahitnya penolakan hingga bekerja kasar demi menuntut ilmu.

Narasi ini bukan sekadar biografi singkat biasa. Tulisan karya Dwi Taufan Hidayat (Wakil Sekretaris PDM Kab. Semarang 1985 – 1990) ini adalah cermin bening bagi siapa saja yang merindukan integritas di tengah kemarau keteladanan.

Masa Pahit dan Kisah Hidup Buya Syafi’i

Pada tahun 1953, Ahmad Syafi’i Maarif memutuskan merantau ke Yogyakarta. Kala itu usianya baru menginjak 18 tahun. Ia bertekad melanjutkan sekolah demi masa depan. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit sesampainya di sana. Pihak sekolah menolak pendaftarannya karena alasan kelas penuh.

Alih-alih putus asa, ia sempat mengambil sekolah montir dan bekerja serabutan. Akhirnya, ia berhasil masuk kembali ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia tamat pada tahun 1956. Namun, ia harus berjuang sendiri karena ayahnya meninggal setahun sebelumnya.

Impitan ekonomi memaksa Ahmad Syafi’i Maarif melakoni berbagai pekerjaan kasar. Ia harus bertahan hidup demi membiayai kuliah di Surakarta dan Yogyakarta. Dalam catatan kisah hidup Buya Syafi’i, ia pernah menjadi guru mengaji dan buruh. Bahkan, ia sempat bekerja sebagai pelayan toko kain pada tahun 1958.

Pengalaman hidup di level bawah ini membentuk kepribadiannya. Ia tumbuh menjadi sosok yang sangat sederhana dan merakyat. Semangat intelektualnya tetap membara meski ia harus bekerja keras sebagai pelayan toko. Hasilnya, ia berhasil meraih gelar sarjana dari IKIP Yogyakarta pada tahun 1968.

Ia tidak hanya belajar di kelas selama masa kuliah. Syafi’i muda mulai mengasah bakat menulis dan berorganisasi. Ia aktif menjadi redaktur di majalah Suara Muhammadiyah. Selain itu, ia juga bergabung dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Pengalaman kerja kasar, disiplin organisasi, dan ketekunan akademik menjadi modal utamanya. Bekal inilah yang membawanya terbang menempuh pendidikan doktor ke Amerika Serikat.

Muhammadiyah dan Profil Buya Syafi’i Maarif

Sejak muda, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi bagi Syafi’i Maarif. Organisasi ini menjadi rumah ideologis dan ruang pembentukan karakter baginya. Kita bisa melihat profil Buya Syafi’i Maarif lebih dalam. Lingkungan Muallimin telah menempa karakternya dalam tradisi disiplin dan kemandirian.

Muhammadiyah mengajarkannya satu hal penting. Agama tidak boleh berhenti pada ritual. Agama harus hadir dalam kerja sosial dan pembelaan terhadap kaum lemah.

Kiprah intelektualnya semakin matang sepulang dari studi doktoral di Amerika Serikat. Buya Syafi’i memiliki bekal perspektif sejarah Islam dan pemikiran modern. Ia tampil sebagai intelektual lantang yang menyuarakan Islam inklusif dan toleran. Ia selalu berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan universal.

Baginya, Muhammadiyah adalah gerakan moral, bukan kendaraan politik. Muhammadiyah sejatinya merupakan kekuatan etik bangsa, bukan alat kekuasaan. Konsistensi sikap ini mengantarkannya pada posisi puncak kepemimpinan.

Muktamar Muhammadiyah tahun 1998 menetapkan Ahmad Syafi’i Maarif sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, ia memegang amanah pada masa sulit. Saat itu, Indonesia baru saja memasuki era reformasi.

Muhammadiyah tampil sebagai kekuatan moral yang menyejukkan di bawah kepemimpinannya. Buya tegas menolak upaya menyeret persyarikatan ke politik praktis. Namun, ia tetap lantang mengkritik negara saat keadilan terinjak. Tak heran jika publik mengenangnya sebagai tokoh Muhammadiyah inspiratif yang teguh pendirian.

Kesederhanaan Buya Syafi’i Maarif yang Autentik

Buya Syafi’i memimpin tanpa kemewahan simbolik. Jabatan tidak mengubah wataknya, meski ia beranjak dari perantau miskin menjadi pemimpin umat. Kesederhanaan Buya Syafi’i Maarif bukanlah pencitraan, melainkan watak alami.

Ia tetap menjalani hidup tanpa jarak dengan rakyat kecil hingga menjabat posisi tertinggi. Orang lebih sering melihatnya berjalan kaki atau menggunakan kendaraan sederhana. Pakaiannya pun sering kali hanya kemeja polos dan peci hitam yang sama.

Ia tak merasa perlu menunjukkan status sosial lewat simbol materi. Baginya, tampilan luar tidak mengukur martabat manusia. Buya juga terbiasa melayani dirinya sendiri dalam keseharian. Ia tak sungkan mengambil air minum atau menyiapkan kebutuhan pribadi sendiri.

Sikap hemat dalam menggunakan fasilitas organisasi juga menjadi ciri khasnya. Buya kerap mengingatkan pengurus agar menggunakan dana umat secara bertanggung jawab. Dana itu bukan untuk memanjakan elite. Ia menolak gaya hidup mewah di lingkungan persyarikatan. Pasalnya, Muhammadiyah harus menjadi teladan kesederhanaan.

Warisan Pemikiran Politik dan Buku Karya Ahmad Syafi’i Maarif

Selain keteladanan hidup, buku karya Ahmad Syafi’i Maarif adalah warisan berharga. Karya-karyanya merekam jejak pergulatan panjang antara iman, akal, dan realitas kebangsaan. Tulisan-tulisannya menjadi bukti ketajaman analisis sang Guru Bangsa.

Ia menulis kutipan ikonik dalam bukunya, Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman. Bunyinya, “Agama akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti pada simbol, tetapi bisu ketika berhadapan dengan ketidakadilan.”

Sementara itu, Buya memberikan kritik tajam dalam buku Menerobos Kemelut. Kutipan ini relevan sepanjang masa: “Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur.”

Buya memperlihatkan benang merah pemikirannya lewat buku lain seperti Tuhan Menyapa Kita dan Islam dan Politik. Ia berani jujur dan setia pada nurani. Di sinilah letak kekuatan pemikiran politik Buya Syafi’i. Ia menolak politisasi agama, namun juga menentang sekularisme kering.

Baginya, Islam tidak membutuhkan negara untuk hidup. Sebaliknya, negara membutuhkan nilai-nilai Islam agar tidak kehilangan arah. Ahmad Syafi’i Maarif menulis sebagaimana ia hidup. Tulisannya sederhana tetapi tajam, tenang tetapi menggugah.

Warisannya adalah pengingat abadi bagi kita semua. Kepemimpinan sejati tidak memerlukan kemewahan. Kebesaran pemikiran justru tumbuh subur dalam hidup yang bersahaja.

Baca juga:

Muhammadiyah dan Wasathiyah

Kontributor: Dwi Taufan Hidayat (Wakil Sekretaris PDM Kab. Semarang Periode 1985 – 1990)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: