Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Insan Pers Bangga! Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Terima Penghargaan Tertinggi Dewan Pers

14 Agustus 2026, 11:32 WIB • 3 menit baca
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berdiri di tengah memegang plakad penghargaan didampingi Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat dan pimpinan perguruan tinggi di atas panggung acara UMJ.
Momen bersejarah penganugerahan Kartu Wartawan Utama Khusus bagi insan pers nasional, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. (tengah), oleh Dewan Pers dalam peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di UMJ.

JAKARTA, muhammadiyahsemarangkota.org – Pengakuan tertinggi di dunia jurnalistik Indonesia kembali terukir indah dalam peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026. Dewan Pers secara resmi menganugerahkan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Kamis (13/8/2026).

Melansir dari laman resmi Muhammadiyah.or.id, penganugerahan langka ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi panjang Haedar Nashir di dunia literasi sejak tahun 1982. Pemimpin tertinggi persyarikatan ini terbukti tetap konsisten menghasilkan karya tulis jurnalistik yang mencerahkan publik hingga saat ini.

Kehadiran penghargaan ini sekaligus menjadi perwujudan cita-cita pribadinya yang telah lama diidamkan. Pasalnya, rekam jejak kepenulisannya berakar kuat dari majalah Suara Muhammadiyah yang menjadi salah satu media massa tertua di Tanah Air.

Usai menerima kartu keanggotaan kehormatan tersebut, Haedar Nashir mengungkapkan rasa syukurnya atas penghargaan bergengsi bagi insan pers nasional ini. “Secara persisnya, ada yang mungkin lebih awal lagi atau lebih lanjut. Saya benar-benar menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah, media tertua di Indonesia yang berdiri pada 1915,” ujar Haedar Nashir dalam penyampaiannya pada Kamis (13/8/2026).

Literasi dan Pers Sebagai Ruh Gerakan Dakwah Intelektual

Penetapan tanggal 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah menyimpan sejarah panjang yang melandasi pergerakan organisasi. Oleh sebab itu, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah bersama Lembaga UKW UMJ menginisiasi perhelatan ini sebagai momentum merawat kesadaran demokrasi.

Ketua MPI PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, M.T., menegaskan bahwa tradisi menulis sudah menyatu dalam DNA perjuangan persyarikatan sejak awal berdiri. Maka dari itu, media massa bukan sekadar alat komunikasi biasa, melainkan sarana dakwah pencerdasan bangsa.

“Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pers dan literasi bukan sekadar instrumen komunikasi Muhammadiyah, tetapi merupakan bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan dakwah menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak awal berdirinya,” ungkap Muchlas sebagaimana dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Penjelasan tersebut mempertegas posisi organisasi sebagai gerakan intelektual yang selalu adaptif mengikuti perkembangan zaman. Melalui saluran pers yang sehat, gagasan pembaharuan Islam dapat terus bergema ke seluruh penjuru negeri.

Benteng Pertahanan Masyarakat dari Serangan Hoaks

Penghargaan bagi insan pers nasional ini terasa makin krusial di tengah ancaman gelombang disinformasi media sosial masa kini. Oleh karena itu, Dewan Pers mengapresiasi tinggi peran aktif lembaga keagamaan dalam menjaga kualitas informasi publik.

Ketua Dewan Pers Nasional, Prof. Dr. Komarudin Hidayat, menilai bahwa masyarakat membutuhkan berita terverifikasi layaknya kebutuhan pokok harian. Bahkan, verifikasi ketat menjadi kunci utama agar informasi tidak berbalik menjadi racun yang menyesatkan.

“Berita hari ini banyak yang hoaks dan palsu. Banyak sekali disinformasi. Padahal masyarakat itu kebutuhan pada informasi itu layaknya kebutuhan pada udara dan minum. Setiap saat kita butuh udara bernapas, setiap sehari kita butuh minum, dan setiap saat kita butuh informasi,” tegas Komarudin Hidayat pada Kamis (13/8/2026).

Selanjutnya, sinergi antara akademisi dan pers profesional ini siap melahirkan standar baru dalam pengawalan demokrasi Pancasila. Akhirnya, pengabdian 42 tahun Haedar Nashir di dunia jurnalistik berhasil menginspirasi generasi muda untuk terus merawat tradisi literasi bangsa.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: