Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Harga Taksi Meroket, Perjuangan Jemaah Haji Ini Berbuah Manis

2 Juni 2026, 19:57 WIB • 3 menit baca
Jemaah haji kloter SOC 28 asal Kota Semarang bersiap melaksanakan Tawaf Ifadah di depan Ka'bah Masjidil Haram berkat inisiatif Haji Mandiri
Potret jemaah haji kloter SOC 28 dari kafilah KBIHU Muhammadiyah saat bersiap melaksanakan Tawaf Ifadah di pelataran Ka'bah, Senin (01/06/26) pagi. Strategi berangkat pukul 06.00 pagi terbukti ampuh menghindari kepadatan lautan manusia.

MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Keberhasilan melaksanakan Tawaf Ifadah berkat spirit “haji mandiri” sukses mengubah nasib ibadah jemaah Kloter SOC 28. Jemaah yang matang dalam persiapan manasik ini berani mengambil keputusan mandiri menyewa taksi meskipun harganya meroket, merekam jelas potret perjuangan jemaah haji Indonesia yang berdaya di tanah suci.

Nekat Menembus Kepadatan Makkah

Berdasarkan kiriman ketua kafilah KBIHU Muhammadiyah, Dr. Mafrukhi, pada Senin (01/06/26) malam, jemaah awalnya diminta menunggu operasional Bus Selawat. Jadwal resmi ini jatuh bertepatan dengan 15 Zulhijah.

Namun, berkat kemampuan membaca situasi hasil kemandirian yang terlatih, jemaah mengubah skenario di lapangan dan memilih berangkat lebih awal pada hari Ahad, 14 Zulhijah.

Oleh karena itu, mereka menggunakan kemandirian tersebut untuk menyewa taksi komersial menuju Masjidil Haram. Harga sewa taksi melonjak tajam hingga mencapai 100 Riyal.

Meskipun begitu, jemaah kloter ini tetap membayar ongkos mahal tersebut dengan penuh keyakinan. Keputusan berani yang berujung pada kelancaran Tawaf Ifadah ini lahir dari kematangan manasik untuk menyelesaikan rukun ibadah secepatnya secara mandiri.

Langkah nekat yang terukur tersebut mendapat tanggapan positif dari ketua kafilah. Ia melihat kemandirian jemaah sebagai buah manis dari persiapan di tanah air.

“Kami berseloroh berkat ‘Haji Mandiri’. Karena latihan manasiknya matang dengan tujuan agar dapat haji mandiri, maka terbukti hasilnya,” ujar Dr. Mafrukhi dalam laporannya.

Strategi Cerdik dan Aksi Solidaritas

Keberanian jemaah juga terlihat dari strategi pemilihan waktu berangkat. Sebagian orang mencoba menuju Masjidil Haram pada pukul 02.00 dini hari.

Sayangnya, mereka justru terjebak kepadatan luar biasa di pelataran Ka’bah. Akibatnya, kelompok ini harus menunggu dan baru memulai tawaf selepas salat Subuh.

Di sisi lain, berkat kemandiriannya membaca kondisi, kelompok selanjutnya memilih langkah yang sangat berbeda. Mereka berangkat lebih santai dari hotel pada pukul 06.00 pagi. Strategi cerdik hasil kematangan “haji mandiri” ini terbukti ampuh menembus kerumunan manusia. Alhasil, mereka sukses menyelesaikan tawaf bersamaan dengan rombongan yang berangkat pada dini hari.

Selain mandiri, jemaah juga menunjukkan kepedulian sosial yang sangat tinggi. Orang-orang dengan risiko tinggi (risti) tetap mendapat pendampingan penuh dari rombongan. Rekan satu regu secara bergantian mendorong kursi roda jemaah lansia selepas waktu Isya.

Akhir Manis Rangkaian Ibadah

Kerja sama dan inisiatif tinggi yang difasilitasi kemandirian ini membuahkan akhir yang sangat membahagiakan. Seluruh rangkaian inti ibadah haji resmi tuntas setelah ibadah tawaf selesai. Selanjutnya, gugurnya status ihram membawa kelegaan luar biasa bagi semua pihak.

Kondisi ini memicu suasana hangat dan penuh tawa di pemondokan. Dr. Mafrukhi turut mencatat kegembiraan jemaah ini ke dalam laporannya. “Dengan Tawaf Ifadah selesailah prosesi haji dan semua larangan haji sudah tidak berlaku lagi, termasuk berkumpulnya suami istri,” tambahnya menegaskan.

Pelepasan ihram ini bahkan melahirkan candaan baru di antara mereka. Kelakar ringan mengenai “kamar barokah” mulai terdengar riuh di kalangan jemaah suami istri. Tentu saja, guyonan ini menjadi simbol rasa syukur atas kelancaran ibadah haji mandiri mereka pada tahun ini.

Kontributor: KBIH Muhammadiyah
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: