Tantang Generasi 4.0, LLDIKTI VI Tegaskan Maba Unimus: Jangan Cuma Jadi Budak AI
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Dunia perkuliahan masa kini menuntut adaptasi cepat di tengah ledakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Peringatan menohok ini mengemuka saat Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. Aisyiah Endah Palupi, M.Pd., membakar semangat ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) pada Selasa (8/9/2026).
Dalam rangkaian Masa Ta’aruf (Masta) 2026 tersebut, sosok akademisi yang akrab dengan sapaan Prof. Palupi ini membedah pergeseran peran mahasiswa. Pihaknya menegaskan bahwa anak muda tidak boleh terjebak dalam rutinitas pasif sekadar datang, kuliah, lalu pulang.
“Dunia berubah cepat, maka peran mahasiswa juga ikut berubah. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar. Mereka harus belajar, berkarya, dan memberikan dampak,” ujar Prof. Palupi di hadapan peserta.
Asah Tiga Senjata Utama dan Jangan Pasrah pada Teknologi
Perkembangan instan teknologi digital berisiko menumpulkan daya kritis jika generasi muda tidak bijak memanfaatkannya. Oleh karena itu, Prof. Palupi memperkenalkan tiga kekuatan utama bagi mahasiswa era 4.0, yakni kreatif, kritis, dan berdampak.
Kreativitas tumbuh dari rasa ingin tahu yang tinggi serta keberanian menjalin kolaborasi lintas keilmuan. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis menjadi benteng utama agar mahasiswa tidak menelan mentah-mentah data keluaran mesin pencari.
“Sekarang banyak hal bisa dilakukan dengan teknologi, tetapi jangan sampai kita hanya bisa menggunakan teknologinya tanpa memahami ilmunya,” tutur Prof. Palupi menyentil kebiasaan anak muda.
Hadirkan Inovasi Konkret yang Langsung Dirasakan Warga
Kecanggihan alat digital harus berposisi sebagai penguat potensi manusia, bukan malah mematikan analisis berpikir. Kampus mendorong mahasiswa baru agar piawai menerjemahkan data menjadi karya nyata yang relevan bagi publik.
Dampak sosial yang nyata bermula dari kemampuan mendengarkan kebutuhan warga di lapangan secara langsung. Mahasiswa perlu merancang solusi bersama masyarakat dan menjaga keberlanjutan karya tersebut.
“Jangan hanya datang membawa jawaban. Tumbuhlah bersama masyarakat, dengarkan kebutuhannya, rancang bersama, uji manfaatnya, lalu jaga keberlanjutannya,” kata Prof. Palupi menutup orasi pembekalan.
Pesan bertenaga ini menjadi pijakan awal bagi mahasiswa baru UNIMUS 2026. Dari ruang Masta, mereka siap menempa diri menjadi generasi adaptif yang tidak sekadar berburu gelar, melainkan aktif memberi dampak nyata.