Jadikan Nabi Muhammad Idola, Bukan Artis Korea
SEMARANG, muhammadiyahkotasemarang.org – Di tengah kompleksitas tantangan era modern, umat Islam diajak untuk kembali menggali ‘harta karun’ dari masa lalu: Sirah Nabawiyah. Kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW ditegaskan bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah peta jalan yang relevan untuk membentuk pribadi unggul masa kini.
Seruan tersebut disampaikan oleh pemateri Ustadzah Zaenab Lailatul Badriyah, S.Ag, dalam Kajian Rutin Nasyiatul Aisyiyah (KARUNA) di Masjid At-Taqwa Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang pada Sabtu (27/9/2025) sore.
Sentil Fenomena Idola Populer
Ustadzah Zaenab memberikan sentilan tajam yang mengaitkan ajaran agama dengan budaya populer saat ini. Ia menyayangkan fenomena saat sebagian masyarakat lebih mengenal riwayat hidup selebritas ketimbang Nabinya sendiri.
“Jangan hanya belajar tentang artis-artis Korea atau artis-artis Indonesia atau artis mana saja. Tapi kita melupakan ada artis sesungguhnya yang tidak ada dosa di dalamnya, yaitu adalah Nabi Muhammad SAW,” tegasnya di hadapan para jamaah.
Sirah Nabawi sebagai Solusi Masa Depan
Lebih lanjut, Ketua Hubungan Antar Lembaga & Lintas Agama Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang ini menekankan bahwa mempelajari Sirah Nabawiyah bukanlah sekadar aktivitas nostalgia. Ia memosisikannya sebagai bekal strategis untuk merancang masa depan.
“Belajar tentang sejarah itu tidak hanya untuk belajar masa lalu, tapi sebagai landasan kita dalam mencari inspirasi, solusi, prediksi, dan motivasi supaya kita tidak salah jalan,” jelasnya.
Menurutnya, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah akan menjadi lebih aplikatif jika diiringi dengan pemahaman tentang bagaimana Nabi Muhammad mempraktikkannya dalam keseharian. Ia menyebut Rasulullah sebagai “‘Al-Qur’an berjalan’” dan mendorong setiap keluarga Muslim untuk menjadikan buku-buku sirah sebagai bacaan wajib.
Kajian yang dimoderatori oleh Nabila Zahara Qolbi, LC ini ditutup dengan penegasan bahwa meneladani Rasulullah adalah wujud ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21 yang menyebut Nabi sebagai uswatun hasanah atau suri teladan yang baik.