Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kala Lampu Merah Menyala di Pintu Nabawi, Kisah Sujud Jemaah Semarang di Bawah Terik 40 Derajat

8 Mei 2026, 22:19 WIB • 3 menit baca
Lautan jemaah haji duduk bersaf di pelataran luar di bawah naungan payung raksasa saat pelaksanaan Jumatan Masjid Nabawi akibat area dalam masjid penuh.
uasana pelataran luar (courtyard) yang dipenuhi lautan jemaah haji saat shalat Jumat (8/5/2026). Jemaah terpaksa menggelar alas shalat di bawah payung peneduh raksasa akibat area dalam Masjid Nabawi telah mencapai kapasitas maksimal sejak pukul 11.00 waktu setempat. (Foto: Ustadz Nurbini/TPIHI Kloter 28 SOC)

MADINAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Jarum jam belum menunjuk pukul 11.00 waktu Saudi Arabia. Namun sebuah tanda peringatan telah menyala terang di pintu-pintu masuk. Lampu indikator berwarna merah memancarkan pesan tegas bagi ribuan tamu Allah: area dalam masjid telah mencapai batas maksimal. Pemandangan Jumatan di Masjid Nabawi pada Jumat (8/5/2026) siang itu menjadi saksi bisu betapa tingginya gelombang kerinduan umat Islam yang rela berdesakan mencari saf di bawah terik matahari.

Bertepatan dengan hari libur nasional di Arab Saudi, warga lokal turut membanjiri jantung kota Madinah. Mereka berbaur dengan jemaah haji dari berbagai benua. Dampaknya, lautan manusia meluap hingga jauh ke area pelataran luar (courtyard).

Di antara ribuan hamba Allah yang tertahan di pelataran tersebut, terdapat rombongan jemaah haji asal Jawa Tengah yang tergabung dalam Kloter 28 SOC. Kabar haji Semarang siang ini mencatat sebuah kisah tentang kesabaran fisik dan keteguhan niat.

Ustadz Nurbini, Pembimbing Ibadah (TPIHI) Kloter 28 SOC, yang berada langsung di lokasi, menuturkan pengalaman dramatis tersebut. Ia dan rekan sekamarnya menjadi saksi betapa cepatnya saf-saf terisi penuh saat Jumatan di Masjid Nabawi.

“Teman sekamar saya berangkat setengah sebelas, sudah tidak bisa masuk ke dalam masjid karena penuh. Saya sendiri berangkat sekitar jam sebelas kurang sedikit, juga sudah tertahan di luar. Lampu di pintu sudah merah,” lapor Ustadz Nurbini secara eksklusif kepada muhammadiyahsemarangkota.org, sesaat setelah Jumatan berakhir.

Kejar Waktu Jumatan Masjid Nabawi

Situasi ini sejatinya telah diantisipasi oleh sebagian jemaah. Khawatir tak mendapat tempat, banyak jemaah Kloter 28 SOC yang memilih bergegas lebih awal. Ada yang merelakan waktu istirahatnya untuk berangkat sejak pukul 10.00 pagi. Bahkan tak sedikit yang sudah bersiap menempati saf sejak pukul 09.00 pagi demi saf terbaik untuk Jumatan di Masjid Nabawi.

Bagi mereka yang harus menggelar sajadah di pelataran luar, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Cuaca Madinah Haji 2026 tengah menunjukkan taringnya. Suhu udara siang itu tercatat mencapai 37 derajat Celcius. Sebuah angka yang cukup menyengat kulit, mengingat suhu di Madinah belakangan ini kerap menyentuh angka ekstrem 40 derajat Celcius.

Namun, di tengah terik yang memanggang pelataran marmer Nabawi, kasih sayang Sang Pencipta hadir lewat cara yang lembut. Rombongan awan mendung sesekali melintas, memayungi matahari, dan memberikan jeda kesejukan bagi jemaah yang tengah bersujud. Payung-payung raksasa Nabawi yang mekar sempurna menjadi benteng peneduh terakhir bagi ribuan jemaah yang mengais rindu di halaman masjid.

Fase Krusial Arbain Menuju Makkah

Kepadatan luar biasa ini sejalan dengan data pergerakan jemaah. Gelombang pertama jemaah haji Indonesia saat ini tengah berada pada fase krusial untuk menuntaskan ibadah Arbain (shalat fardu 40 waktu berturut-turut) di Madinah.

Sementara itu, pihak Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga terus melakukan manajemen kerumunan secara ketat di area gerbang utama demi keselamatan jemaah. Hal ini engingat jemaah haji gelombang kedua yang tiba di Tanah Suci kini langsung diarahkan menuju Makkah.

Bagi sebagian besar jemaah Kloter 28 SOC, momen Jumatan di Masjid Nabawi yang sarat peluh dan perjuangan di pelataran Nabawi ini adalah kenangan spiritual yang tak ternilai harganya sebelum mereka beranjak ke Makkah. Sebuah sujud tahan uji, di mana hawa panas dan lelahnya tubuh tak mampu mengalahkan khusyuknya doa yang dilangitkan untuk keluarga di Tanah Air.

Pantau terus laporan terkini jemaah haji Muhammadiyah, Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org

Kontributor: KBIHU Muhammadiyah Semarang
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: