Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lelah Mengurus Umat? Ini Kunci Ikhlas Kelola Amal Usaha Muhammadiyah

23 Agustus 2026, 10:39 WIB • 2 menit baca
Ustadz H. Suparno BM menyampaikan materi akhlak bekerja dan pengembangan profesi dalam Kajian Ahad Pagi pengelola Amal Usaha Muhammadiyah di Masjid Nurul Qomariyah Semarang.
Ustadz H. Suparno BM., S.Ag., M.SI. saat memaparkan panduan akhlak bekerja guna menjaga semangat relawan dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Nurul Qomariyah, Pedurungan Kidul, Semarang.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengurus umat sering kali memicu kelelahan mental yang menguras pikiran. Untuk mencari cara mengatasi burnout, warga Semarang mendalami pedoman hidup islami dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah. Langkah ini menjadi kunci penting dalam menjaga kewarasan dan semangat para relawan.

Ratusan warga mewujudkan upaya menyegarkan jiwa tersebut lewat agenda Kajian Ahad Pagi. Pengurus masjid menyelenggarakan kegiatan ini pada Ahad, 23 Agustus 2026.

Jamaah tampak antusias memadati Masjid Nurul Qomariyah di Jl. Zebra Tengah, Pedurungan Kidul, Kota Semarang. Mereka hadir khusus untuk mendengarkan siraman rohani yang menguatkan mental pengabdian sosial. 

Merawat Niat Pengabdian

Tampil sebagai penceramah, Ustadz H. Suparno BM., S.Ag., M.SI., membedah tema “Kehidupan Dalam Mengelola Amal Usaha (PHIWM)”. Dosen UNDIP sekaligus Sekretaris PDM Kota Semarang ini menyoroti arti penting keikhlasan. Ia menyadari betul beratnya tantangan para penggerak sosial di lapangan. 

“Mengurus Amal Usaha Muhammadiyah itu bukan sekadar kerja fisik, tetapi kerja hati. Jika niat kita melenceng sedikit saja, rasa lelah akan cepat berubah menjadi keluhan,” tegasnya di hadapan jamaah.

Berangkat dari pemahaman tersebut, ia mengajak jamaah untuk selalu meluruskan niat. Relawan harus melayani masyarakat berlandaskan kerelaan batin, bukan mengharapkan pujian manusia.

Menjadikan Pedoman Hidup Islami sebagai Jangkar

Gesekan dengan sesama pengurus atau minimnya apresiasi memang berpotensi meruntuhkan semangat. Menghadapi situasi semacam itu, setiap aktivis membutuhkan pegangan yang kuat agar tidak mudah menyerah.

“Ketika menghadapi jalan buntu atau gesekan antar pengurus, kembalilah pada pedoman hidup islami. Jadikan ajaran agama sebagai jangkar agar kita tidak kehilangan arah saat melayani umat,” pesannya mengingatkan.

Memiliki pegangan spiritual terbukti membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan. Mengelola institusi umat akhirnya berubah menjadi ladang ibadah yang menenangkan jiwa, bukan malah membebani pikiran.

Amal Usaha sebagai Jalan Kebahagiaan

Melalui pemahaman ini, mengabdi pada persyarikatan akan memberikan kepuasan batin yang nilainya melebihi materi. Rutinitas kajian ahad pagi berperan penting sebagai pengingat yang efektif bagi jamaah. Majelis ilmu sukses mengisi ulang energi positif mereka setiap akhir pekan. 

“Kelelahan mengurus umat adalah kelelahan yang memberkahi jiwa. Yakinlah, mengelola Amal Usaha Muhammadiyah dengan ikhlas justru mendatangkan kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli,” tutupnya memberikan motivasi.

Memasuki pukul sembilan pagi, seluruh rangkaian kajian pun berakhir. Warga perlahan meninggalkan area masjid dengan senyum dan wajah yang lebih segar. Mereka kini siap menyambut tugas kemasyarakatan dengan mental yang jauh lebih tangguh.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: