Menanti Tawaf Wada, Ini Kegiatan Jemaah Haji Setelah Puncak Haji
MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Suasana tenang menyelimuti pemondokan jemaah asal Jawa Tengah setelah mereka melewati lelahnya ritual di Armuzna. Saat ini, para jemaah mengisi hari-hari mereka dengan berbagai kegiatan jemaah haji setelah puncak haji. Namun, rasa haru perlahan merayap di balik senyum lelah mereka karena hari perpisahan dengan tanah suci kian mendekat.
Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang kloter 28 SOC, Dr. Mafrukhi, menyampaikan laporan tersebut langsung dari Makkah. Ia mengirimkan kabar menyentuh ini pada Rabu (03/06/26) malam kepada muhammadiyahsemarangkota.org. Melalui laporan tersebut, ia memastikan bahwa seluruh jemaah berada dalam kondisi sehat dan tetap bersemangat.
Sebelumnya, gema takbir riuh terdengar di Padang Arafah. Namun, kini suasana tersebut telah berganti menjadi keheningan yang syahdu di sudut-sudut maktab. Para tamu Allah pun merasa lega karena mereka telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar. Oleh karena itu, kini mereka hanya fokus mengucap syukur sembari menanti kepulangan ke tanah air.
Melantunkan Doa di Masjid Hotel
Rombongan jemaah yang berjumlah 262 orang tersebut baru saja menyelesaikan agenda ziarah opsional ke Kota Taif. Pihak panitia membagi rombongan tur ini ke dalam 6 armada bus. Karena program ini bersifat pilihan dan berbayar, panitia membebaskan jemaah untuk ikut atau tetap tinggal di hotel.
Selanjutnya, panitia membagi peserta tur menjadi dua kelompok sesuai pilihan masing-masing jemaah. Kelompok pertama terdiri atas 112 jemaah yang memilih paket tur lengkap dengan naik kereta gantung atau gondola. Sementara itu, kelompok kedua berisi 150 jemaah yang memilih paket tur biasa tanpa naik gondola.
Selama di Kota Taif, rombongan mengunjungi enam lokasi bersejarah secara berurutan. Mereka mendatangi Masjid dan Makam Ibnu Abbas, lalu melihat langsung proses di tempat penyulingan parfum. Setelah itu, jemaah menuju Masjid dan tempat mikat Qornul Manazil, Masjid Gontoro, Masjid Addas, dan beristirahat di tempat makan nasi kebuli.
Berburu Pahala Akhir di Baitullah
Setelah menyelesaikan perjalanan fisik yang cukup menguras tenaga itu, para jemaah langsung kembali memfokuskan diri pada ibadah. Saat ini, mereka sedang menunggu jadwal kepulangan haji 2026 yang akan berlangsung pada 11 Juni nanti. Sembari menunggu hari tersebut tiba, mereka justru makin memperketat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.
Selain itu, lantai masjid hotel kini menjadi saksi bisu kesibukan baru para jemaah yang menyejukkan iman. Setiap kali suara azan berkumandang, mereka langsung melangkah cekatan untuk memenuhi saf-saf yang rapi. Mereka sengaja menghidupkan suasana pemondokan melalui aktivitas salat berjamaah yang berlanjut dengan kajian keagamaan bakda salat.
Pihak panitia juga menyelenggarakan kajian tersebut secara rutin demi memperdalam ilmu fiqih jemaah. Langkah ini terbukti sangat efektif untuk menjaga momentum kekhusyukan jemaah selama berada di dalam hotel. Akhirnya, ruang tunggu hotel pun berubah fungsi menjadi sebuah madrasah batin yang penuh berkah.
Di sisi lain, kerinduan terhadap keindahan Ka’bah seolah tidak pernah ada habisnya bagi para pencinta ibadah ini. Oleh karena itu, jemaah menumpahkan sisa waktu luang mereka untuk memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Mereka rela menembus kepadatan Kota Makkah demi bisa bersujud langsung di depan kiblat umat Islam.
“Tidak sedikit pula jamaah yg memanfaatkan waktu salat di Masjidil Haram,” tulis Dr. Mafrukhi dalam laporan tertulisnya.
Menuju Ritual Pamungkas yang Haru
Aktivitas mandiri ini menjadi pilihan terbaik bagi jemaah untuk mengejar keutamaan pahala yang berlipat ganda. Baik jemaah yang memilih berdiam di hotel maupun yang menuju Baitullah, semuanya memiliki tujuan serupa. Mereka ingin menyerap habis atmosfer kesucian Makkah sebelum fajar perpisahan itu benar-benar terbit.
Sekarang, fokus seluruh jemaah dari KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang tinggal menyisakan satu ibadah pamungkas yang sarat emosi. Mereka hanya tinggal melaksanakan tawaf wada ketika akan meninggalkan Makkah dalam beberapa hari ke depan. Ritual penghormatan terakhir tersebut biasanya menjadi momen yang paling menguras air mata keharuan umat Muslim.
Pada akhirnya, beragam agenda spiritual di tanah suci ini bukan lagi sekadar untuk menggugurkan kewajiban saja. Ini adalah babak krusial bagi jemaah untuk mempertahankan jubah kemabruran setelah melewati ujian fisik yang berat. Melalui untaian zikir yang terus mengalir, mereka sedang menyiapkan diri untuk membawa perubahan perilaku yang positif.