Ekonomi Makin Sulit? Ini Kunci Selamat yang Sering Dilupakan
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Tekanan ekonomi yang membelit serta banjir berita negatif di media sosial kerap membuat pikiran masyarakat gampang panik dan cemas. Di hadapan ratusan jamaah shalat Jumat, Ustadz Puji, S.Pd.I. membagikan tiga penawar spiritual agar masyarakat tidak oleng menghadapi ketidakpastian hidup di Masjid At-Taqwa Semarang pada Jumat (21/8/2026).
Suasana khusyuk menyelimuti ruang utama masjid sewaktu sang khatib menyampaikan amanat dari atas mimbar. Buruh, pengusaha, hingga pegawai kantoran tampak tekun menyimak setiap bait nasihat usai melepaskan beban pekerjaan sejenak.
Khatib menegaskan bahwa tumpukan harta maupun tingginya jabatan tidak pernah menjamin kedamaian batin seseorang. Sebaliknya, rasa takut kehilangan materi justru sering kali menyiksa pikiran orang-orang yang kaya raya.
“Ketenangan tidak bersumber dari banyaknya harta. Kadang orang yang berharta pun tidak bisa tenang hidupnya karena selalu takut hartanya berpindah,” ungkap Ustadz Puji, S.Pd.I. dalam khutbahnya.
Menyaring Informasi dan Memupuk Empati
Selanjutnya, penceramah mengingatkan jamaah agar lebih selektif dalam menerima setiap kabar di media sosial. Seseorang kerap memproduksi kecemasan buatan hanya karena terlalu cepat mempercayai rumor yang belum jelas kebenarannya.
Jemari tangan dan lisan harus bekerja secara bijak agar tidak menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat. Menjaga ketenangan jiwa berawal dari kemampuan manusia dalam mengendalikan jemari saat berinteraksi di dunia digital.
Di samping itu, kepedulian sosial menjadi obat penawar berikutnya untuk melatih kepekaan nurani. Khatib mengajak seluruh jamaah menyisihkan sebagian rezeki guna meringankan beban saudara seiman yang tertimpa bencana gempa di NTT.
“Seorang atlet harus tenang jika ingin menjadi juara dalam pertempuran. Begitu pula kita, kunci ketenangan hati mengatasi masalah adalah selalu mengingat Allah Sang Pemilik Ketenangan,” tegas penceramah asal Semarang tersebut.
Dewasa Menghadapi Perbedaan
Sembari mengakhiri wasiatnya, penceramah mendorong masyarakat untuk belajar menghargai perbedaan sudut pandang. Setiap kepala manusia menyimpan keinginan yang berbeda, sehingga perbedaan takdir merupakan hal yang sangat lumrah.
Pengusaha pupuk mendambakan terik matahari, sementara penjual makanan hangat justru menantikan turunnya hujan. Kedua harapan tersebut sama-sama sah dan menunjukkan betapa mahaluasnya rahmat Allah SWT bagi seluruh hamba-Nya.
Lalu, kehangatan khutbah Jumat ini berhasil menghembuskan pencerahan baru bagi para jamaah yang hadir. Mengingat Sang Pencipta secara otomatis menjadi benteng terkuat agar akidah tidak tergadai oleh himpitan ekonomi.
Pada akhirnya, ibadah Jumat tersebut menyadarkan publik bahwa ketenangan sejati berasal dari rasa syukur yang mendalam. Menjaga ketenangan hati mengatasi masalah bakal menjadi lentera terang di tengah gelapnya dinamika zaman.