Ketulusan LRB Muhammadiyah Kota Semarang: Hadir Bukan Jadi Pahlawan Kesiangan
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di tengah keriuhan publik saat bencana melanda, para relawan berompi krem di Kota Atlas justru memilih bergerak dalam kesenyapan yang menyentuh hati. Mereka menegaskan bahwa gerakan kemanusiaan persyarikatan ini aktif bukan untuk memburu panggung, melainkan demi memastikan warga yang kesusahan tidak berjalan sendirian.
Oleh karena itu, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang terus menerapkan nilai-nilai luhur kepedulian sosial secara nyata di lapangan.
Aksi nyata untuk memperkuat kesiapan warga ini dimatangkan dalam Rapat Kerja LRB PDM Kota Semarang pada Sabtu, 20 Juni 2026. Pertemuan di Komplek Masjid At-Taqwa Muhammadiyah / RS. Roemani Lantai 1, Semarang ini menjadi ruang krusial bagi para pengurus untuk menyusun strategi jangka panjang.
Selanjutnya, mereka bergerak cepat menyusun peta keselamatan terpadu sebelum cuaca ekstrem dan musim penghujan menyapa sudut-sudut kota.
Menakar Keterbatasan Alat dan Personel Sejak Dini
Ketua MDMC LRB PDM Kota Semarang, H. Mustam Effendi, S.Pd, menatap seluruh relawan yang hadir dengan pandangan penuh rasa optimistis. Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan jajaran PDM Kota Semarang harus dimulai dari sekarang tanpa perlu menunggu datangnya musibah.
Sambil memetakan wilayah rawan, ia mengingatkan esensi utama kehadiran organisasi di tengah jeritan masyarakat yang tertimpa musibah.
“Kita tugasnya meringankan, bukan menyelesaikan semua, karena itu adalah tugas pemerintah bersama. Kita dari PDM, Lazismu hanya memberikan stimulus dan memperkenalkan bahwasanya kita hadir,” tutur Mustam Effendi dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.
Penegasan tersebut seketika mengenyahkan ego sektoral dan melahirkan semangat baru untuk bergerak bersama secara tulus.
Kemudian, ia menambahkan bahwa kesadaran kolektif menjadi kunci penting bagi keberhasilan gerakan kemanusiaan ini. Pihak manajemen kebencanaan juga sengaja dirancang terpusat agar distribusi logistik tidak tumpang tindih.
Dampaknya, setiap bantuan yang tersalurkan dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) bisa menyasar target keluarga secara tepat.
Distribusi Sembako dan Servis Motor Gratis di Lapangan
Gerakan kemanusiaan ini disadari betul tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya kesatuan visi yang kokoh. Oleh karena itu, jajaran pengurus merapatkan barisan bersama lembaga amil zakat untuk melipatgandakan dampak bantuan di lapangan.
Saat banjir melanda kawasan Ngaliyan beberapa waktu lalu, kolaborasi nyata dari Lazismu Kota Semarang langsung menjadi penyelamat bagi ratusan keluarga.
“Jadi, semuanya bersumber satu suara, PDM Kota Semarang dan Lazismu. Jadi, apapun yang terjadi akan kita koordinasikan bersama, sinergi. Yang paling dekat kemarin yaitu sinergi tentang bencana yang ada di daerah Ngaliyan, di daerah Kelurahan Podorejo. Alhamdulillah kita sudah bersama-sama memberi bantuan semacam apa, untuk dapur umum, kemudian pakaian pantas pakai, serta servis. Itu yang paling dekat,” urai Mustam Effendi merinci pergerakan taktis LRB Kota Semarang.
Ikhtiar dari para relawan ini pun mendapat sambutan hangat serta dukungan penuh dari jajaran pimpinan daerah. Melalui instruksi yang jelas, gerak cepat dalam memetakan kebutuhan logistik dan peralatan mutlak dilakukan sejak dini.
“Kita juga sudah direspons oleh Bapak pimpinan kita, Bapak Sofa, Bapak H. Sofa, untuk kita segera memetakan keperluan-keperluan sejak dini untuk persiapan yang akan datang. Karena segala sesuatu tanpa persiapan juga kita akan kesulitan,” tambah Mustam Effendi.
Melatih Ketangguhan Siswa Sekolah dari Ancaman Gempa
Tidak hanya sibuk menerjang banjir dan membagikan paket sembako, organisasi ini juga menanam benih ketangguhan di institusi pendidikan. Kehadiran para relawan Muhammadiyah di sekolah-sekolah disambut dengan binar mata penuh antusiasme dari para siswa.
Kepercayaan dari masyarakat inilah yang terus dirawat dan dijaga oleh seluruh komponen persyarikatan.
Sekretaris LRB PDM Kota Semarang, Dwi Rakhmat, A.Md, menceritakan bagaimana panggilan kemanusiaan itu terus berdatangan dari berbagai penjuru sekolah.
“Alhamdulillahirabbil’alamin, untuk LRB Kota Semarang di bawah naungan PDM Kota Semarang, alhamdulillah kami masih diberi kepercayaan oleh kaum, yang di mana kami sering mendapatkan undangan dari beberapa sekolah itu terkait bagaimana cara penanganan bencana di sekolah,” ungkap Dwi Rakhmat dengan rasa syukur mendalam.
Langkah edukasi tersebut bergerak secara konsisten mulai dari wilayah Pedurungan hingga jenjang perguruan tinggi.
“Satu contohnya itu ada salah satu SD yang sering kita diundang untuk mengisi materi mitigasi bencana, itu berada di daerah Pedurungan. Nggih, hanya nama SD-nya saya lupa. Gitu, nggih. Kalau yang kedua itu SMP, SMP itu yang sering mengadakan kegiatan semacam itu SMP Muhammadiyah 3. Begitu,” pungkasnya menerangkan komitmen panjang MDMC Kota Semarang.
Pengabdian yang ditunjukkan oleh LRB Kota Semarang pada akhirnya mengembalikan kita pada tujuan sejati gerakan dakwah persyarikatan. Mereka mengajarkan bahwa menjadi bermakna tidak harus menunggu sarana prasarana menjadi sempurna terlebih dahulu.
Melalui sinergi kuat bersama PDM Kota Semarang dan Lazismu Kota Semarang, sekat-sekat keterbatasan itu runtuh oleh besarnya rasa cinta pada sesama.
Ketulusan untuk hadir meringankan beban umat adalah teladan nyata yang melampaui ucapan di ruang publik. Langkah nyata para relawan Muhammadiyah di Kota Atlas ini mengukuhkan pesan kuat bahwa benteng pertahanan terbaik sebuah kota bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan kepedulian yang mengakar di hati warganya.