Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Khauf dan Roja’: Dua Sayap Menuju Keselamatan Akhirat

17 September 2025, 13:33 WIB 3 menit baca
Khauf dan Roja’: Dua Sayap Menuju Keselamatan Akhirat

BANYUMANIK, muhammadiyahsemarangkota.org. Ada dua pilar utama dalam akidah Islam yang perlu kita cermati, yakni khauf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap) kepada Allah. Khauf dan roja’ bukanlah sekadar emosi, melainkan dua pilar utama yang harus dimiliki setiap mukmin untuk menavigasi hidup. Keduanya ibarat dua sayap yang memungkinkan seorang hamba untuk terbang menuju ketaatan dan meraih keselamatan di akhirat.

“Secara bahasa, khauf berasal dari kata khafa, yakhafu, khaufan yang berarti takut kepada Allah atas hukuman atau hal yang tidak disukai. Sementara roja’ adalah pengharapan atau mengharapkan ridha dan rahmat dari Allah. Keduanya adalah amalan hati yang esensial,” terang terang Ustad Tri Wiyanto. dalam Pengajian Ahad Pagi, Muhammadiyah Banyumanik di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Kruing Raya 165A, Ahad (14/9/25).

Adapun Ibnu Qudamah.sambung Ustad Tri Wiyanto, mendefinisikan khauf sebagai “ungkapan kegundahan hati karena adanya sesuatu yang tidak disukai dan akan terjadi pada masa mendatang”.

Menanamkan rasa takut dan harap ini memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah jaminan keamanan di hari kiamat. “Apabila dia merasa takut kepada-Ku di dunia, Aku membuatnya merasa aman pada hari kiamat,” kutipnya dari sebuah hadits qudsi, menegaskan bahwa rasa takut di dunia akan berbuah keamanan yang hakiki di akhirat.

Rasa takut yang benar ini akan membuat seseorang meneteskan air mata. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Dua mata yang tidak akan tersentuh neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tidak terpejam saat berjaga-jaga di jalan Allah.”

Lebih jauh, Bendahara Majelis Tarjih PDM Kota Semarang ini memaparkan bahwa surga menjadi balasan bagi mereka yang memiliki sifat khauf dan roja‘. “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surga-lah tempat tinggalnya,” ujarnya. Di sisi lain, roja’ memberikan motivasi untuk beristiqamah dan meneladani Rasulullah ﷺ.

Cara Menguatkan Khauf daan Roja’

Untuk menguatkan kedua sifat ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, untuk khauf, seseorang harus mengenal Allah lebih dalam. “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu di antara mereka tentang Allah, karena itu aku orang yang paling takut di antara mereka kepada-Nya,” ia mengutip perkataan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, semakin seseorang mengenal Allah, semakin kuat pula rasa takutnya.

Selain itu, merenungi akhirat dan mengingat ancaman azab juga menjadi cara untuk menumbuhkan khauf. “Api yang dinyalakan oleh Ibnu Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api jahannam,” sebutnya.

Sementara itu, untuk roja’, ia memaparkan bahwa rasa ini harus terus dipupuk. Mengutip Imam Al-Ghazali, ia mengatakan roja’ adalah “kebahagiaan dan semangatnya hati karena mengetahui begitu banyak karunia Allah.” Hal ini selaras dengan hadits qudsi yang menyebutkan, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.”

Ustadz Tri Wiyanto menutup kajiannya dengan menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara khauf dan roja’. Seseorang tidak boleh hanya memiliki salah satunya. Jika takut tanpa harapan, ia akan jatuh dalam keputusasaan. Sebaliknya, jika hanya berharap tanpa rasa takut, ia bisa terjerumus dalam rasa aman yang berlebihan.

Dengan menjaga keseimbangan keduanya, seorang mukmin akan terdorong untuk terus beramal, bertaubat, dan yakin bahwa rahmat Allah itu sangat luas, pungkasnyha.

Kontributor: MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: