Dari Papua, Mereka Mengirim Cahaya
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Jauh dari gemerlap panggung MTQ Nasional ke-31 di Kota Semarang, ada kisah perjuangan yang nyaris tak terdengar. Dari tanah Papua Barat, kafilah MTQ datang bukan dengan kemewahan. Mereka datang membawa keterbatasan: jarak antar kabupaten yang jauh, fasilitas yang belum memadai, pelatih yang masih minim, serta pesantren yang jumlahnya belum banyak. Namun dari keterbatasan itulah, para qari dan qariah ini belajar satu hal; perjuangan tak boleh berhenti hanya karena keadaan.
Di belakang langkah mereka menyemarakkan jadwal MTQ Nasional ini, ada sosok Drs. Musa Kamudi M.Si., Ketua Harian LPTQ Provinsi Papua Barat. Mantan Asisten I Sekda Papua Barat yang purna tugas pada 2021 itu memilih tetap mengabdikan diri melalui pembinaan generasi Qurani.
Bagi Musa, mengirim perwakilan Papua Barat ke ajang bergengsi MTQ Nasional bukan sekadar mengejar piala atau memantau hasil MTQ.
“Yang utama bukan juara. Bagaimana membangun silaturahmi dan kerukunan antara anak bangsa di seluruh Indonesia,” ujarnya ketika ditemui wartawan Muhammadiyah di lokasi MTQ Semarang.
Kalimat itu menjadi alasan mengapa Papua Barat selalu berusaha berpartisipasi dalam setiap perhelatan MTQ Nasional maupun STQ. Sebab di balik gemerlap berbagai cabang lomba MTQ, ada pesan yang ingin mereka bawa: Di tanah Papua ada Muslim yang mencintai Al-Qur’an, ada generasi yang terus belajar, dan ada anak-anak Papua yang ingin berdiri bersama saudara-saudaranya dari seluruh penjuru Nusantara. Padahal, perjuangan pembinaan mereka tidaklah ringan.
Musa mengenang, pada era 1980-an, Papua yang ketika itu masih bernama Irian Jaya pernah menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Papua bahkan pernah menembus empat besar pada ajang MTQ Nasional di Bengkulu.
Kini prestasi itu belum kembali. Pembinaan yang belum optimal menjadi salah satu tantangan. Peserta kerap baru digenjot ketika perlombaan semakin dekat. Padahal, menurut Musa, pembinaan seharusnya dilakukan sejak jauh hari secara berjenjang, dari kecamatan, kabupaten hingga tingkat provinsi sebelum melaju ke ajang nasional. Belum lagi bentangan geografis Papua yang membuat pembinaan dari satu daerah ke daerah lain membutuhkan waktu dan biaya besar.
Tetapi mereka tetap berjalan. Karena bagi Musa, kalah dalam perlombaan di panggung MTQ Nasional bukan alasan untuk kalah dalam perjuangan syiar Islam.
Dakwah yang Turun Tangan
Di tengah perjuangan mengharumkan nama daerah di MTQ Nasional itu, Musa melihat sebuah gerakan yang menurutnya memberikan harapan bagi masyarakat Papua Barat, yakni hadirnya Muhammadiyah.
Ia mengaku kagum melihat Muhammadiyah tidak berhenti pada dakwah di mimbar. Gerakan itu hadir melalui pendidikan dan kesehatan. Sekolah dibangun. Pelayanan kesehatan diberikan. Rumah sakit hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Yang membuat Musa semakin terkesan, manfaat itu tidak hanya dirasakan umat Islam.
“Rumah sakit Muhammadiyah di sana sudah sangat bagus dan sangat membantu, bukan hanya umat Muslim,” katanya.
Bagi Musa, inilah wajah dakwah yang sesungguhnya. Dakwah bukan hanya suara yang terdengar dari pengeras suara masjid. Dakwah juga bisa berupa tangan yang mengobati orang sakit, sekolah yang mencerdaskan anak bangsa, dan pelayanan yang diberikan kepada siapa pun tanpa melihat perbedaan.
Di Papua Barat, kata Musa, gerakan Muhammadiyah berjalan berdampingan dengan pemerintah dalam memberi manfaat kepada masyarakat. Dan mungkin, di situlah dua perjuangan ini bertemu.
Para kafilah MTQ Nasional asal Papua Barat datang ke MTQ Semarang membawa lantunan syahdu suara Al-Qur’an. Sementara Muhammadiyah membawa pesan bahwa nilai Al-Qur’an harus menjelma menjadi amal yang dirasakan manusia.
Pada akhirnya, perhelatan akbar MTQ Nasional bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Bukan pula tentang berapa banyak piala yang dibawa pulang ke daerah asal.
Ada kemenangan yang jauh lebih besar: ketika anak-anak Papua berani datang membawa Al-Qur’an, ketika saudara dari berbagai penjuru Nusantara menyambut mereka dengan persaudaraan, dan ketika sebuah gerakan dakwah memilih hadir untuk melayani manusia tanpa sekat.
Dari Papua Barat, mereka tidak sekadar mengirim perwakilan ke MTQ Nasional. Mereka mengirim pesan yang kuat: Bahwa di ujung timur Indonesia, cahaya Al-Qur’an tetap menyala.
Dan selama masih ada anak-anak yang mau belajar melantunkannya, masih ada orang-orang seperti Musa yang mau memperjuangkannya, serta masih ada tangan-tangan yang ikhlas mengabdi seperti Muhammadiyah, maka cahaya itu tidak akan pernah padam.
Sebab terkadang, yang paling indah dari sebuah perjuangan bukanlah ketika kita berdiri mengangkat piala MTQ Nasional, tetapi ketika kita mampu menyalakan cahaya di tempat yang jauh, lalu membiarkannya menerangi siapa saja.