Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

KKN Unimus Tembus Malaysia: Hadirkan Pendidikan Nonformal bagi Ratusan Anak Migran Tanpa Status Jelas

1 November 2025, 09:29 WIB • 3 menit baca
KKN Unimus Tembus Malaysia: Hadirkan Pendidikan Nonformal bagi Ratusan Anak Migran Tanpa Status Jelas

SELANGOR, muhammadiyahsemarangkota.org– Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) secara nyata mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi ke kancah global dengan mengirimkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke Malaysia. Program ini tidak hanya berorientasi pengabdian, tetapi juga menjadi wujud dakwah pendidikan Muhammadiyah yang fokus pada pemenuhan hak belajar anak-anak pekerja migran Indonesia, termasuk yang berstatus tidak resmi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimus sekaligus pendamping program KKN Malaysia, Dr. AM. Jumai, S.E., M.M., mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut berhasil menjangkau Sanggar Belajar di lokasi yang sulit diakses.

“Program KKN Luar Negeri tahun 2025 ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda di Selangor, yakni Sanggar Belajar Gumut di Hulu Selangor dan Sanggar Belajar Ampang,” jelas Dr. Jumai saat dikonfirmasi, Jumat (31/10/2025).

Relawan Mengajar di Tengah Keterbatasan
Titik fokus pengabdian Unimus adalah Sanggar Belajar Gumut, sebuah sekolah rakyat nonformal yang didirikan untuk anak-anak TKI. Lokasi sanggar yang berada di pedalaman, dikelilingi perkebunan karet dan kelapa sawit, dengan akses jalan berbatu dan fasilitas terbatas, menuntut ketahanan tinggi dari para relawan mahasiswa. Sanggar ini telah mendapat pengakuan resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.

Dua mahasiswa Unimus, Rallef Qorsya Salwa dan Afan Arga Ahyana, dikirim sebagai relawan pengajar di Gumut. Mereka memberikan pelajaran mengaji, membaca, menulis, dan pelajaran umum.

“Dari hasil kunjungan lapangan, para mahasiswa menunjukkan ketulusan, disiplin, dan semangat pengabdian tinggi, meski harus hidup jauh dari kenyamanan. Pengalaman mereka menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu dilakukan di mimbar, tetapi juga di ruang-ruang belajar yang sederhana,” tegas Dr. Jumai.

Sementara itu, di Sanggar Belajar Ampang yang berada di kawasan semi-perkotaan Selangor, mahasiswa Unimus berhadapan dengan kompleksitas yang berbeda. Sanggar ini melayani sekitar 80 siswa, yang sebagian besar berasal dari keluarga migran tidak resmi dan terkendala masalah biaya maupun status hukum.

Pendidikan sebagai Dakwah Kemanusiaan
Dr. Jumai menekankan bahwa kehadiran mahasiswa Muhammadiyah di Malaysia adalah refleksi dari prinsip dakwah kemanusiaan. Di tengah keterbatasan fasilitas dan situasi sosial yang kompleks yang dihadapi anak-anak migran, para relawan bertugas menghidupkan nilai-nilai keikhlasan dan tanggung jawab.

“Program ini memberi pelajaran penting tentang makna pendidikan sebagai dakwah kemanusiaan. Ini adalah proses menanam nilai dan menumbuhkan harapan di tengah komunitas migran,” kata Dr. Jumai.

Kegiatan KKN Luar Negeri ini disebut mendapat sambutan positif dari warga setempat dan juga pihak KBRI Kuala Lumpur. Program ini juga diintegrasikan dengan kegiatan keagamaan seperti Khotmil Qur’an dan pengajian rutin untuk pembinaan karakter anak.

Dr. AM. Jumai berharap agar Unimus dapat memperkuat kolaborasi dengan KBRI Kuala Lumpur melalui nota kesepahaman formal. Peningkatan dukungan logistik, penambahan relawan dari lintas program studi, hingga bantuan fasilitas dasar seperti listrik, alat belajar, dan jaringan komunikasi, dinilai krusial untuk keberlanjutan misi ini.

“Kehadiran mahasiswa Muhammadiyah di Malaysia menjadi cermin bahwa dakwah tidak mengenal batas negara. Dari pedalaman Gumut hingga kota Ampang, sinar pendidikan dan nilai Islam berkemajuan terus menyala,” tutupnya.

Baca juga :

Mahasiswa Unimus Borong Medali di Kompetisi Esai Internasional 2025 di Malaysia

Kontributor: FEBI UNIMUS
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: