Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Korupsi Marak dan Hukum Zalim, Mimbar Undip Tawarkan Konsep Semarang Bertauhid

29 Mei 2026, 22:13 WIB • 3 menit baca
Dr. H. AM Jumai, SE, MM sedang menyampaikan khotbah Jumat dengan khusyuk di atas mimbar kayu berukir Masjid Kampus Undip Semarang
Ketua LDK PWM Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, SE, MM, saat memaparkan materi khotbah Jumat di hadapan jemaah di Masjid Kampus Undip, Semarang, Jumat (29/5/2026)

Semarang — Pembangunan infrastruktur fisik kota akan sia-sia jika korupsi dan kezaliman hukum terus merusak keadilan masyarakat. Berangkat dari keresahan itulah, Konsep Semarang Bertauhid hadir sebagai solusi spiritual yang digaungkan dari mimbar Masjid Kampus Undip, Jumat siang (29/5/2026). Ribuan jemaah mendadak terenyak saat khatib membedah hancurnya pondasi moral bangsa akibat menjauhnya manusia dari nilai agama.

Guna menjawab berbagai krisis sosial tersebut, Dr. H. AM Jumai, SE, MM menggaungkan Konsep Semarang Bertauhid sebagai solusi spiritual yang konkret. Ketua LDK PWM Jawa Tengah sekaligus Ketua FKSB Kota Semarang ini memandang tauhid bukan sebatas ucapan lisan ritual belaka. Sebaliknya, nilai tauhid harus menjelma sebagai fondasi utama dalam menuntun seluruh aktivitas pembangunan kota harian.

“Tauhid dalam konteks ini bukan sekadar ucapan lisan ritual, melainkan keyakinan mendalam yang menuntun seluruh aspek kehidupan serta menghadirkan pengawasan Allah SWT dalam aktivitas sehari-hari. Landasan ini diharapkan melahirkan masyarakat yang beriman, jujur, amanah, saling menghormati, menjauhi kemaksiatan, serta menegakkan keadilan dan kepedulian sosial,” tegas AM Jumai dari atas mimbar.

Melalui narasi yang tajam, sang khatib menjelaskan bahwa pembangunan kota tidak boleh hanya bertumpu pada infrastruktur fisik. Sebab, kemajuan materi tanpa imbangan iman yang kokoh hanya akan menyuburkan angka kriminalitas dan pergaulan bebas. Oleh karena itu, gerakan moral ini bertujuan mengembalikan rasa pengawasan Allah SWT (muraqabah) ke dalam dada setiap warga.

Strategi Ampuh Melawan Kerusakan Keluarga Hingga Jeratan Riba

Penerapan gagasan religius ini menyasar empat ruang lingkup utama yang menjadi pilar penting sebuah peradaban. Pertama, penguatan tauhid wajib bermula dari lingkungan keluarga sebagai benteng utama pertahanan akhlak anak dari api neraka. Selanjutnya, lembaga pendidikan seperti sekolah dan pesantren memegang tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang beradab mulia.

Selain ranah domestik dan edukasi, roda perekonomian kota juga harus segera bertransformasi menjadi lebih bersih. Sang ketua LDK mengingatkan pelaku usaha untuk menjauhi praktik riba, penipuan, serta korupsi demi meraih keberkahan langit dan bumi. Terakhir, kehidupan sosial masyarakat wajib memiliki kepekaan tinggi untuk saling menolong dan melindungi kaum lemah.

Dampak positif dari internalisasi nilai spiritual ini akan melahirkan kota yang aman, damai, dan minim kejahatan. Sebaliknya, menjauhkan agama dari ruang publik hanya akan merusak institusi keluarga serta memicu maraknya kekerasan di mana-mana. Langkah strategis untuk memulainya dapat jemaah lakukan dengan cara memakmukan masjid, menghidupkan pengajian, dan memilih pemimpin yang adil.

Target Baldatun Thayyibatun: Sinergi Lima Elemen Bangsa Demi Menghapus Kezaliman Hukum

Muara akhir dari Konsep Semarang Bertauhid adalah mewujudkan daerah yang ideal sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Kota Semarang harus bertumbuh menjadi sebuah wilayah yang makmur dan penuh ampunan Tuhan (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur). Guna merealisasikan cita-cita besar tersebut, sang ketua FKSB membagi tanggung jawab kepada lima elemen penting masyarakat.

Kelima aktor penggerak tersebut meliputi ulama sebagai pembimbing umat, serta pemerintah selaku pembuat kebijakan yang berpihak pada moralitas. Di sisi lain, para pemuda harus bergerak sebagai pelopor perubahan karakter, sementara orang tua menjadi pendidik iman pertama. Terakhir, masyarakat umum wajib ikut aktif dalam menjaga persatuan dan menghidupkan budaya gotong royong.

Memasuki khutbah kedua, AM Jumai menutup pesan sucinya dengan memberikan sentilan emosional mengenai penegakan hukum yang adil. Tokoh Muhammadiyah ini mengingatkan jemaah mengenai besarnya dampak sosial dari sebuah keputusan hukum yang menyimpang di tengah masyarakat.

“Keadilan sesaat lebih baik daripada ibadah 60 tahun yang malamnya salat dan siangnya puasa. Sebaliknya, kezaliman hukum sesaat jauh lebih berat dosanya di sisi Allah daripada maksiat selama 60 tahun,” pungkas sang khatib seraya mengutip hadis riwayat Al-Asbihani dari Abu Hurairah.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: