Kriteria Amal Terbaik bagi Muslim: Bukan Sekadar Rutinitas Ibadah
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Umat Islam sering kali memandang waktu dan amal terbaik hanya dari sisi hukum agama atau Syariat. Namun, khatib Dani Muhtada menekankan pentingnya menyentuh sisi kedalaman spiritual atau Hakikat. Ia menguraikan rahasia kemuliaan tersebut di hadapan ratusan jamaah Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates Semarang, pada Jumat (23/1/2026).
Meskipun hujan lebat mengguyur wilayah Ngaliyan, jamaah tetap menyimak khutbah dengan khidmat. Dani Muhtada menjelaskan bahwa memahami “hari terbaik” tidak cukup hanya dengan melihat kalender. Oleh karena itu, ia membandingkan pendapat Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) dengan perspektif Ali bin Abi Thalib untuk memberi pemahaman yang utuh.
Dua Sudut Pandang Waktu Terbaik
Dalam paparannya, Dani menceritakan kembali dialog klasik mengenai waktu dan amal paling utama. Secara normatif, Ibnu Abbas menyebut bahwa Jumat adalah hari terbaik dan Ramadhan merupakan bulan terbaik. Selain itu, Ibnu Abbas menegaskan bahwa shalat tepat waktu adalah amal yang paling utama.
“Ibnu Abbas memberikan pagar kedisiplinan melalui Syariat. Ia mengajarkan bahwa Jumat adalah Sayyidul Ayyam atau pemimpin para hari,” ujar Dani di tengah suasana masjid yang sejuk.
Namun, Dani kemudian menawarkan perspektif berbeda dari Ali bin Abi Thalib. Menurut pandangan ini, kualitas amal yang diterima (amal maqbul) jauh lebih krusial daripada sekadar kuantitas. Ali bin Abi Thalib memandang hari terbaik sebagai momen saat seorang hamba kembali kepada Allah dalam keadaan beriman.
Menjaga Kualitas dan Ruh Ibadah
Selanjutnya, Dani menegaskan bahwa kedua perspektif tersebut sebenarnya saling melengkapi. Pandangan Ibnu Abbas menjadi panduan operasional agar ibadah sesuai ketentuan agama. Sementara itu, perspektif Ali bin Abi Thalib memberikan “ruh” agar ibadah tidak menjadi rutinitas hampa.
“Amal terbaik bukanlah amal yang tampak paling besar secara lahiriah. Sebaliknya, amal terbaik adalah segala perbuatan yang benar-benar Allah terima,” lanjut Dani dengan tegas.
Sebagai penutup, ia mengajak jamaah untuk tidak hanya mengejar keutamaan waktu secara formal. Ia mendorong umat untuk memastikan adanya pertobatan yang tulus atau taubat nasuha. Melalui cara ini, setiap detik dalam hidup seorang Muslim dapat menjadi waktu terbaik di mata Sang Pencipta.
Baca juga :
Lelah Mental? Perkuat Kesehatan Mental Spiritual dengan Manajemen Ikhlas
Menguatkan Iman dengan Memahami Makna Terdalam ‘Laa Ilaaha Illallah’