Lebih Tajam dari Jarum: Dampak Perkataan di Dunia Maya
NGALIYAN,muhammadiyahkotasemarang.org– Di tengah hiruk pikuk arus informasi yang begitu cepat, etika digital menjadi sebuah keharusan, bukan lagi pilihan. Pesan inilah yang begitu kuat ditekankan oleh Ustadz Lukman Al Hakim saat menyampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa, Wates, Ngaliyan (26/09/25). Ia mengingatkan bahwa di era serba cepat ini, menjaga lisan telah melampaui batasan ucapan verbal; ia kini mencakup setiap kata yang diketik, ditulis, dan dibagikan melalui jagat maya.
Bayangkan, hanya dengan satu sentuhan jari pada ponsel, apa yang kita pikirkan atau lakukan bisa langsung diketahui oleh seluruh dunia. Inilah mengapa, menurut Ustadz Lukman, kehati-hatian menjadi kunci utama dalam bersikap di ruang virtual maupun kehidupan sehari-hari. Dampak perkataan, baik di dunia nyata maupun di media sosial sungguh luar biasa dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Sang Pencipta.
Poin utama yang disampaikan Ustadz Lukman Al Hakim adalah penguatan iman dan ketakwaan melalui pengendalian diri saat berinteraksi. Beliau secara eksplisit mengingatkan jamaah agar tidak mudah menyebarkan informasi yang kebenarannya masih samar.
Prinsip utama yang harus dipegang adalah “saring sebelum sharing”, atau dalam bahasa yang lebih formal, kita wajib memeriksa dan memastikan kembali kebenaran suatu informasi.
Konsekuensi dari setiap kata yang keluar, termasuk yang kita unggah di platform manapun, dijelaskan dengan gamblang melalui firman Allah SWT.
Ustadz Lukman menyampaikan pesan kunci ini dengan lugas: “Untuk selalu berhati-hati dalam menyikapi segala sesuatu, mengingat besarnya dampak dari setiap perkataan yang kita lontarkan, baik di dunia nyata maupun dunia maya, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak”.
Beliau mengutip Surah Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
yang berarti, “Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa setiap komentar dan tulisan kita tidak luput dari catatan.
Media Sosial: Ladang Dosa atau Jalan Kebaikan?
Ustadz Lukman juga menyoroti bagaimana Rasulullah SAW telah lama mengajarkan kita untuk waspada dalam berucap dan bertindak.
Ia mengutip hadis yang menyebutkan bahwa muslim terbaik adalah seseorang yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Hadis ini menegaskan bahwa bahaya tidak hanya berasal dari ucapan lisan, tetapi juga dari perbuatan fisik, termasuk tulisan digital kita.
Maka dari itu, prinsip menghormati dan menghargai orang lain harus menjadi dasar etika berkomunikasi di dunia maya. Kita harus menjauhi segala hal yang berpotensi menimbulkan fitnah atau keburukan, terutama hal yang tidak kita ketahui kebenarannya. Sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Isrā’ ayat 36, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan, dan hati kita.
“Bukankah lebih indah jika warisan digital kita kelak dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat, maslahat bagi umat, dan kata-kata yang menenangkan jiwa? Dengan niat yang kuat dan keteguhan iman, kita pasti bisa menjadi pembawa kebaikan yang membawa dampak positif bagi sesama”. Tegas ustadz Lukman pada ceramahnya.
Intinya, media sosial memiliki dua sisi: ia bisa menjadi sumber dosa atau justru ladang pahala. Daripada menyebarkan hal yang tidak bermanfaat, marilah kita ubah platform-platform ini menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang konstruktif, menguatkan iman, dan mempererat persaudaraan sesama muslim (ukhuwah).