Mengapa Ikhlas Jadi Penawar Stres dan Kehampaan Hidup Modern?
NGALIYAN, MuhammadiyahKotaSemarang.org – Motivasi beramal yang murni atau ikhlas bukan sekadar dimensi spiritual, namun berperan sentral sebagai penawar efektif terhadap materialisme dan kunci vital kesehatan mental masyarakat modern.
Hal ini ditekankan oleh Dr. Sofa Muthohar, M.Ag., dalam Pengajian Ahad Pagi dengan tema “Pentingnya Ikhklas dalam Beragama” di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates, Kota Semarang.
Kajian rutin yang digelar pada Ahad (21/9/2025) ini menggarisbawahi bahwa ikhlas adalah “inti agama” dan “ruh dari setiap amal”, yang bahkan secara filosofis disebut sebagai “kesadaran eksistensial manusia”.
Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai
Dr. Sofa Muthohar menegaskan kembali posisi sentral ikhlas dalam akidah, merujuk pada Surat Al-Bayyinah Ayat 5 yang menjadikannya sebagai perintah utama dalam beragama. Ia menekankan bahwa amal ibadah sebesar apapun,namun tanpa keikhlasan tidak akan bernilaki. Sementara amal kecil dengan ikhlas bisa jadi besar nilainya di sisi Allah.
Ia membandingkan prinsip ini dengan fenomena materialisme yang berpotensi merusak mental. Materialisme, yang berfokus pada pengejaran status, pujian, dan harta akan melahirkan stres dan kehampaan.
“Materialisme, seperti diisyaratkan dalam QS. At-Takatsur, menimbulkan ketidakpuasan, stres, iri, dan menjadikan hubungan rapuh,” jelas Dr. Sofa.
“Sebaliknya, Ikhlas menawarkan motivasi intrinsik, menjadikan amal kita diterima Allah, hidup lebih bermakna, dan berujung pada hati yang tenang, sabar, dan syukur.”
Ikhlas Memperkuat Resiliensi Mental
Dalam konteks psikologi, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo ini menjelaskan, ikhlas memiliki dampak langsung pada daya tahan mental (resiliensi) dan kualitas hidup. “Ikhlas itu bukan masalah tidak punya keinginan melainkan menjadikan kegiatan baik menjadi lebih baik dan lebih berkualitas,” ujarnya.
Ia merinci ikhlas sebagai komponen kunci dalam membangun kesehatan mental. Yakni: ikhlas sebagai pelepas beban batin, mencegah overthinking dan iri hati, meningkatkan resiliensi (daya tahan mental, lebih sabar), memperkuat hubungan sosial (mudah memaafkan, tidak menyimpan dendam, dan tidak mudah curiga) dan ikhlas sebagai penopang spiritual well-being (kesejahteraan lahir dan batin, bahagia, dan syukur).
Dr. Sofa juga mengaitkan ikhlas dengan konsep psikologi modern, seperti Teori Grit (Ketangguhan). “Ikhlas adalah sumber grit tertinggi karena niatnya terikat pada janji Allah yang pasti”.
Selain itu, Ikhlas membantu menghilangkan hambatan psikologis, membuat individu lebih produktif dan kreatif (Teori Flow).
Pekerja yang ikhlas tidak perlu diawasi, kata dia, karena mereka merasa bekerja itu adalah ibadah.
“Dengan ikhlas, hati tenang, amal berkah, serta sukses dunia akhirat,” pungkasnya.